Penjelasan Tentang Pengertian Fakta, Prinsip, Konsep Dan Algoritma Matematika
a)
Fakta
Fakta dalam matematika adalah suatu
konvensi dalam matematika, suatu ide matematika yang disajikan dalam bentuk
kata-kata maupun simbol-simbol atau gambar-gambar
(Fahinu dalam Wahamida, 1999: 13). Misalnya perkataan “lima”, maka dalam
pikiran kita terbayang simbol “5”. Sebaliknya jika kita melihat simbol “5”,
maka dalam pikiran kita terbayang kata “lima”. Kaitan antara kata “lima” dengan
simbol “delapan” merupakan fakta. Contoh lain dari Fakta adalah perkataan
“bilangan bulat”, maka dalam pikiran kita terbayang “bilangan positif (1,2,3,4,5,….), bilangan nol
(0) dan bilangan negatif (-1,-2,-3,-4,…….)”. Sebaliknya bila kita melihat simbol “bilangan positif (1,2,3,4,5,…….), bilangan
nol (0) dan bilangan negatif (-1,-2,-3,-4,…….)”, maka dalam pikiran kita terbayang kata “bilangan
bulat”. Kaitannya antara kata “bilangan bulat” dengan simbol “bilangan
positif (1,2,3,4,5,…….), bilangan nol (0) dan bilangan negatif
(-1,-2,-3,-4,…….)” adalah
fakta.
b)
Konsep
Konsep yaitu ide abstrak yang memungkinkan
seseorang menggolong-golongkan obyek atau peristiwa dalam matematika, misalnya konsep bilangan bulat, konsep
bilangan cacah, bilangan negatif dan sebagainya. Sehubungan dengan batasan
masalah dalam penelitian ini yaitu beberapa konsep dalam penjumlahan dan
pengurangan bilangan bulat pada
garis bilangan bulat adalah:
1)
Penjumlahan Bilangan Bulat Menggunakan
Garis Bilangan
Garis bilangan adalah suatu garis lurus
yang terdiri dari titik-titik yang memuat bilangan-bilangan, bilangan yang
terletak disebelah kiri bilngan lain akan bernilai lebih kecil, sedangkan
bilangan yang terletak disebelah kanan bilangan lain akan bernilai lebih besar.
Himpunan bilangan bulat adalah
himpunan bilangan yang terdiri dari bilangan bulat negatif, nol, dan
bilangan bulat positif. Penjumlahan bilangan bulat memiliki
sifat komutatif (pertukaran), asosiatif (pengelompokkan), dan sifat nol (0)
sebagai identitas. Jika arah panah menuju ke kanan, menunjukkan bilangan
bulat positif. Jika arah panah menuju ke kiri, menunjukkan bilangan bulat
negatif.
Contoh 1 :
Menunjukkan bilangan 7
Menunjukkan bilangan -7
Penjumlahan
bilangan bulat dengan arah panah dimulai dari bilangan nol
diperlihatkan pada contoh berikut ini :
Contoh 2:
Tentukan hasil penjumlahan dari 5 +
(-7) = . . .
Jawab :
5+ (-7) = ….
1.
Tempatkan model pada skala 0 dan menghadap ke bilangan
positif
Tempatkan model pada skala 0 dan menghadap ke bilangan
positif
2.
Langkahkan model tersebut satu langkah demi satu langkah maju dari angka
0 sebanyak 5 skala. Hal ini untuk menunjukan bilangan pertama dari operasi
tersebut, adalah positif 5
Langkahkan model tersebut satu langkah demi satu langkah maju dari angka
0 sebanyak 5 skala. Hal ini untuk menunjukan bilangan pertama dari operasi
tersebut, adalah positif 5
3.
Karena bilangan ke-2 adalah bilangan -7 yang merupakan bilangan
bertanda negatif, maka pada skala 5 tersebut posisi model harus dihadapkan ke
bilangan negatif.
Karena bilangan ke-2 adalah bilangan -7 yang merupakan bilangan
bertanda negatif, maka pada skala 5 tersebut posisi model harus dihadapkan ke
bilangan negatif.
4.
Karena operasi hitungnya adalah operasi penjumlahan (menambah), yaitu
oleh bilangan (-7) berarti model tersebut harus dilangkahkan maju dari angka 5
satu langkah demi satu langkah sebanyak 7 skala
Karena operasi hitungnya adalah operasi penjumlahan (menambah), yaitu
oleh bilangan (-7) berarti model tersebut harus dilangkahkan maju dari angka 5
satu langkah demi satu langkah sebanyak 7 skala
Posisi terakhir dari model pada langkah keempat di atas
terletak pada skala -2 dan ini menunjukan hasil dari 5 + (-7). Jadi, 5 + (-7) =
-2
2) Pengurangan
Bilangan Bulat pada Garis
Bilangan
Pengurangan adalah lawan dari penjumlahan. Bagaimana cara
mengurangkan bilangan bulat. Diperlihatkan
contoh berikut ini
:
Contoh 3:
Tentukan hasil pengurangan (-7) – 3
= . . .

Jawab :
1.
Tempatkanlah
model pada skala nol dan menhadap ke bilangan negatif.
2.
Langkahkan model
tersebut satu langkah demi satu langkah maju
dari angka 0 sebanyak 7 skala. Hal
ini menunjukan bilangan pertama dari operasi tersebut, yaitu negatif 7.
Langkahkan model
tersebut satu langkah demi satu langkah maju
dari angka 0 sebanyak 7 skala. Hal
ini menunjukan bilangan pertama dari operasi tersebut, yaitu negatif 7.
3.
Karena bilangan ke-2 bertanda positif , maka pada skala tersebut posisi model
harus kita hadapkan ke bilangan positif.
Karena bilangan ke-2 bertanda positif , maka pada skala tersebut posisi model
harus kita hadapkan ke bilangan positif.
4.
Karena
operasi hitungnya merupakan operasi pengurangan, berarti langkahkan model
tersebut mundur dari angka -7 satu langkah demi satu langkah sebanyak 3 skala
(karena bilangan pengurangnya 3).
Kedudukan
terakhir dari model pada langkah ke empat di atas terletak pada skala -10, dan ini merupakan hasil dari (-7) - 3
= -10
c)
Prinsip
Prinsip yaitu penyamaan yang menyamakan
berlakunya suatu hubungan antara beberapa konsep. prinsip yang dimaksud adalah sifat, dalil, aturan ataupun rumus matematika
dalam menyelesaikan soal-soal penjumlahan dan pengurangan
bilangan bulat pada garis bilangan.
Misalkan dua bilangan bulat a dan b,
Konsep-konsep yang dimaksud di sini adalah (bilangan bulat negative, nol, dan
bilangan bulat positif serta arah dan jarak bilangan) membentuk prinsip-prinsip
penjumlahan (a+b) dan pengurangan (a-b) bilangan bulat melalui penggunaan garis
bilangan adalah:
1. Perhitungan pertama dilakukan terhadap bilangan
bulat a kemudian dilanjutkan dengan bilangan bulat b.
2. Dalam menghitung/menentukan bilangan a,
perhitungan dimulai dari bilangan bulat nol menuju arah bilangan bulat nol
menuju arah bilangan bulat a (ke kanan jika a positif dank e kiri jika a
negative)
3. Bilangan a selanjutnya dijumlahkan atau
dikurangkan dengan bilangan bilangan bulat b dengan cara melakukan perhitungan
mulai angka bilangan a dengan memperhatikan tanda operasinya (+ ataui -) serat
arah bilangan bulat b (postif atau negative)
4. Ada 2 kemungkinan arah perhitungan bilangan
bulat b dalam operasi penjumlahan (a+b)
a.
Perhitungan
dimulai dari angka bilangan a kea rah kanan jika b merupakan bilangan bulat
positif (a+b)
b.
Perhitungan
dimulai dari angka bilangan a ke kiri jika b merupakan bilangan bulat negative
(-a+(-b))
c.
Perhitungan
dimulai dari angka bilangan a ke arah kanan jika b merupakan bilangan bulat
negative (a+(-b))
d.
Perhitungan
dimulai dari angka bilangan a kearah kiri jika b merupakan bilangan bulat
positif (-a+b)
5. Ada 2 kemungkinan arah perhitungan bilangan
bulat b dalam operasi pengurangan (a-b)
a. Perhitungan dimulai dari angka bilangan a kea
rah kanan jika b merupakan bilangan bulat negatif (a-b)
b. Perhitungan dimulai dari angka bilangan a
kearah kanan jika b merupakan bilangan bulat negative (a-(-b))
c. Perhitungan dimulai dari angka bilangan a ke
arah kiri jika b merupakan bilangan bulat positif (-a-(-b))
d. Perhitungan dimulai dari angka bilangan a
kearah kiri jika b merupakan bilangan bulat positif (-a-b)
6. Hasil dari operasi penjumlahan (a+b) atau
pengurangan (a-b) adalah angka bilangan yang ditunjukan oleh arah panah
terakhir.
d)
Algoritma
Algoritma (Prosedur) yaitu penguasaan dalam menyelesaikan atau memecahkan masalah
soal-soal hitung matematika yang mencakup dua pengerjaan yakni
penjumlahan dan pengurangan syarat berlaku, kapan berlaku dan kapan pula tidak
berlaku serta bagaimana menetapkan dan memanipulasi konsep-konsep tersebut. Didalam prosedur/algoritma siswa memiliki Skill atau keterampilan dalam menyelesaikan matematika secara procedural adalah kemampuan pengerjaan (operasi) dan prosedur yang harus
dikuasai oleh siswa dengan kecepatan dan ketepatan yang tinggi, misalnya
operasi hitung, operasi himpunan.
e.
Pemecahan Masalah
A. Pengertian dan
Hakekat Pemecahan Masalah
Terdapat banyak
interpretasi tentang pemecahan masalah dalam matematika. Di antaranya pendapat
Polya (1985) yang banyak dirujuk pemerhati matematika. Polya mengartikan pemecahan masalah sebagai suatu usaha mencari jalan keluar dari suatu kesulitan guna mencapai suatu tujuan yang
tidak begitu segera dapat dicapai. Sementara Sujono (1988) melukiskan
masalah matematika sebagai tantangan bila pemecahannya memerlukan kreativitas, pengertian
dan pemikiran yang asli atau imajinasi. Berdasarkan penjelasan Sujono tersebut
maka sesuatu yang merupakan masalah bagi seseorang, mungkin
tidak merupakan masalah bagi orang lain atau merupakan hal yang rutin
saja.
Ruseffendi (1991b) mengemukakan
bahwa suatu soal merupakan soal pemecahan masalah bagi seseorang bila ia
memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk menyelesaikannya, tetapi pada saat ia
memperoleh soal itu ia belum tahu cara menyelesaikannya. Dalam kesempatan lain
Ruseffendi (1991a) juga mengemukakan bahwa suatu persoalan itu merupakan
masalah bagi seseorang jika: pertama, persoalan itu tidak dikenalnya. Kedua,
siswa harus mampu menyelesaikannya, baik kesiapan mentalnya maupun pengetahuan
siapnya; terlepas daripada apakah akhirnya ia sampai atau tidak kepada
jawabannya. Ketiga, sesuatu itu merupakan pemecahan masalah baginya, bila ia
ada niat untuk menyelesaikannya.
Lebih spesifik Sumarmo
(1994) mengartikan pemecahan masalah sebagai kegiatan menyelesaikan soal
cerita, menyelesaikan soal yang tidak rutin, mengaplikasikan matematika dalam
kehidupan sehari-hari atau keadaan lain, dan membuktikan atau menciptakan atau
menguji konjektur. Berdasarkan pengertian yang dikemukakan Sumarmo tersebut,
dalam pemecahan masalah matematika tampak adanya kegiatan pengembangan daya
matematika (mathematical power) terhadap siswa.
Pemecahan masalah merupakan
salah satu tipe keterampilan intelektual yang menurut Gagné, dkk (1992) lebih
tinggi derajatnya dan lebih kompleks dari tipe keterampilan intelektual lainnya.
Gagné, dkk (1992) berpendapat bahwa dalam menyelesaikan pemecahan masalah
diperlukan aturan kompleks atau aturan tingkat tinggi dan aturan tingkat tinggi
dapat dicapai setelah menguasai aturan dan konsep terdefinisi. Demikian pula
aturan dan konsep terdefinisi dapat dikuasai jika ditunjang oleh pemahaman
konsep konkrit. Setelah itu untuk memahami konsep konkrit diperlukan
keterampilan dalam memperbedakan.
Keterampilan-keterampilan
intelektual tersebut digolongkan Gagné berdasarkan tingkat kompleksitasnya dan
disusun dari operasi mental yang paling sederhana sampai pada tingkat yang
paling kompleks. Keterampilan-keterampilan intelektual tersebut digambarkan
oleh Gagné, dkk (1992) secara hierarki seperti pada Gambar 1.
PEMECAHAN MASALAH
|
melibatkan pembentukan
|
ATURAN-ATURAN TINGKAT TINGGI
|
membutuhkan prasyarat
|
ATURAN dan KONSEP-KONSEP TERDEFINISI
|
membutuhkan prasyarat
|
KONSEP-KONSEP KONKRIT
|
membutuhkan prasyarat
|
MEMPERBEDAKAN
|
Gambar 1. Tingkat-tingkat Kompleksitas
|
|
dalam Keterampilan Intelektual
Oleh karena itu dengan mengacu pada pendapat-pendapat di atas, maka
pemecahan masalah dapat dilihat dari berbagai pengertian. Yaitu, sebagai upaya
mencari jalan keluar yang dilakukan dalam mencapai tujuan. Juga memerlukan
kesiapan, kreativitas, pengetahuan dan kemampuan serta aplikasinya dalam
kehidupan sehari-hari. Di samping itu pemecahan masalah merupakan
persoalan-persoalan yang belum dikenal; serta mengandung pengertian
sebagai proses berfikir tinggi dan penting dalam
pembelajaran matematika.
B.
Langkah-Langkah Menyelesaikan Pemecahan Masalah Matematika
Cara memecahkan masalah
dikemukakan oleh beberapa ahli, di antaranya Dewey dan Polya. Dewey (dalam
Rothstein dan Pamela 1990) memberikan lima langkah utama dalam memecahkan
masalah,
1)
mengenali/menyajikan masalah: tidak diperlukan strategi pemecahan masalah jika
bukan merupakan masalah; 2) mendefinisikan masalah: strategi pemecahan masalah
menekan-kan pentingnya definisi masalah guna menentukan banyaknya kemungkinan
penyelesian; 3) mengembangkan beberapa hipote-sis: hipotesis adalah alternatif
penyelesaian dari pemecahan masalah; 4) menguji beberapa hipotesis:
mengevaluasi kele-mahan dan kelebihan hipotesis; 5) memilih hipotesis
yang terbaik.
Sebagaimana Dewey, Polya
(1985) pun menguraikan proses yang dapat dilakukan pada setiap langkah
pemecahan masalah. Proses tersebut terangkum
dalam empat langkah berikut: 1)
memahami masalah (understanding the problem). 2) merencanakan
penyelesaian (devising a plan). 3) melaksanakan rencana (carrying
out the plan). 4) memeriksa proses dan hasil (looking back).
Lebih jauh Polya merinci
setiap langkah di atas dengan pertanyaan-pertanyaan yang menuntun seorang problem
solver menyelesaikan dan menemukan jawaban dari masalah. Sebagai contoh pada
langkah memahami masalah diajukan pertanyaan-pertanyaan: Apa yang tidak
diketahui? Data apa yang diberikan? Mungkinkah kondisi dinyatakan dalam
bentuk persamaan atau hubungan lainnya?
Buatlah gambar dan tulislah notasi yang sesuai.
Pada langkah merencanakan
penyelesaian diajukan pertanyaan di antaranya seperti: Pernah adakah soal
seperti ini yang serupa sebelumnya diselesaikan? Dapatkah pengalaman yang lama
digunakan dalam masalah yang sekarang?
Pada langkah melaksanakan
rencana diajukan pertanyaan: Periksalah bahwa tiap langkah sudah benar?
Bagaimana membuktikan bahwa langkah yang dipilih sudah benar? Dalam langkah
memeriksa hasil dan proses, diajukan pertanyaan: Dapatkah diperiksa
sanggahannya? Dapatkah jawaban itu dicari dengan cara lain?
Langkah-langkah penuntun
yang dikemukakan Polya tersebut, dikenal dengan strategi heuristik.
Strategi yang dikemukakan Polya ini banyak dijadikan acuan oleh banyak orang
dalam penyelesaian masalah matematika.
Berangkat dari pemikiran
yang dikemukakan oleh ahli tersebut, maka untuk menyelesaikan masalah
diperlukan kemampuan pemahaman konsep sebagai prasyarat dan kemampuan melakukan
hubungan antar konsep, dan kesiapan secara mental. Pada sisi lain berdasarkan
pengamatan Soleh (1998), salah satu sebab siswa tidak berhasil dalam belajar
matematika selama ini adalah siswa belum sampai pada pemahaman relasi (relation
understanding), yang dapat menjelaskan hubungan antar konsep. Hal itu
memberikan gambaran kepada kita adanya tantangan yang tidak kecil dalam
mengajarkan pemecahan masalah matematika.
f. Tanda –tanda adanya masalah bagi siswa dalam
pembelajaran matematika
-
Kognitif
(Penguasaan Konsep Matematika)
Pada hakikatnya penguasaan konsep matematika
siswa dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain: siswa yang tidak menguasai
konsep matematika adalah siswa yang tidak berhasil menyelesaikan masalah yang diberikan
dalam bentuk tes baik essay maupun pilihan ganda. Siswa yang tidak berhasil
menyelesaikan masalah di post tes saya anggap tidak memahami materi yang saya
berikan dalam pembelajaran. Namun, kendala mengenai permasalahan tersebut masih
tetap ada yakni Kejujuran siswa dan sistem kerja kelompok sangat mempengaruhi
hasil yang diberikan. Jika hal ini yang terjadi, maka kriteria penguasaan
konsep yang saya berikan menjadi bias.Indikator peguasaan konsep siswa juga ditentukan
dari hasil ulangan harian misalnya. diAsumsikan bahwa siswa yang tidak berhasil
menyelesaikan permasalahan yang diberikan di ulangan harian, maka ingatan
jangka panjangnya tidak bagus. Sedangkan Artigue (2001:57), menyatakan bahwa
ingatan jangka panjang yang baik artinya konsep yang diterima telah masuk
kedalam ranah psikologis siswa. Akibatnya adalah kapanpun siswa ditanya
mengenai konsep yang telah diberikan, diyakini bahwa siswa tersebut dapat menjawab
pertanyaan konsep.
-
Afektif
(Self Concept)
Konsep diri adalah semua ide, pikiran,
kepercayaan dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan
mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain (Stuart dan Sudeen,
1998). Hal ini temasuk persepsi individu akan sifat dan kemampuannya, interaksi
dengan orang lain dan lingkungan, nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman
dan objek, tujuan serta keinginannya. Sedangkan menurut Beck, Willian dan
Rawlin (1986) menyatakan bahwa konsep diri adalah cara individu memandang
dirinya secara utuh, baik fisikal, emosional intelektual , sosial dan
spiritual.
Berdasarkan
pengertian di atas konsep diri yang dimiliki seseorang bukan bawaan dari lahir
melainkan diperoleh dari belajar atau berinteraksi dengan orang lain dan
lingkungannya.orang tersebut akan memiliki konsep diri
yang positif, sehingga dapat melaksanakan fungsi dan tugas dirinya di
tengah-tengah lingkungannya dengan baik. Hal ini sejalan dengan pendapat Agus
Sujudi, “seseorang yang memiliki konsep diri positif akan dapat melaksanakan
tugasnya dengan baik dan bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. Dengan
demikian konsep diri ini dapat dipelajari dan dikembangkan” (Agus Sujudi, dan
kawan-kawan; 1997: 12).Menurut Jacinta, Konsep diri dapat didefinisikan secara
umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang terhadap dirinya.
Seseorang dikatakan mempunyai konsep diri negatif jika ia meyakini dan
memandang bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa,
tidak kompeten, gagal, malang, tidak menarik, tidak disukai dan kehilangan daya
tarik terhadap hidup.
Orang dengan konsep diri negatif akan cenderung bersikap pesimistik terhadap kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya. Ia tidak melihat tantangan sebagai kesempatan, namun lebih sebagai halangan. Orang dengan konsep diri negatif, akan mudah menyerah sebelum berperang dan jika gagal, akan ada dua pihak yang disalahkan, entah itu menyalahkan diri sendiri (secara negatif) atau menyalahkan orang lain. Sebaliknya seseorang dengan konsep diri yang positif akan terlihat lebih optimis, penuh percaya diri dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan yang dialaminya. Kegagalan bukan dipandang sebagai kematian, namun lebih menjadikannya sebagai penemuan dan pelajaran berharga untuk melangkah ke depan. Orang dengan konsep diri yang positif akan mampu menghargai dirinya dan melihat hal-hal yang positif yang dapat dilakukan demi keberhasilan di masa yang akan datang.
Orang dengan konsep diri negatif akan cenderung bersikap pesimistik terhadap kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya. Ia tidak melihat tantangan sebagai kesempatan, namun lebih sebagai halangan. Orang dengan konsep diri negatif, akan mudah menyerah sebelum berperang dan jika gagal, akan ada dua pihak yang disalahkan, entah itu menyalahkan diri sendiri (secara negatif) atau menyalahkan orang lain. Sebaliknya seseorang dengan konsep diri yang positif akan terlihat lebih optimis, penuh percaya diri dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan yang dialaminya. Kegagalan bukan dipandang sebagai kematian, namun lebih menjadikannya sebagai penemuan dan pelajaran berharga untuk melangkah ke depan. Orang dengan konsep diri yang positif akan mampu menghargai dirinya dan melihat hal-hal yang positif yang dapat dilakukan demi keberhasilan di masa yang akan datang.
Factor-faktor yang mempengaruhi self konsep adalah perkembangan anak
terhadap lingkungannya, orang yang
terpenting atau yang terdekat, (persepsi diri sendiri)
Referensi
www.majalahpendidikan
.com/2011/05/pengertian konsep diri
www.diwarta.com/pengertian konsep diri dan
faktor yang mempengaruhinya.
Branca, N.A (1980). Problem
Solving as a Goal, Process and Basic Skill. Dalam Krulik,S dan Reys,R.E (ed). Problem
Solving in School Mathematics. NCTM: Reston. Virginia
Gagné,R.M, Briggs, L.J dan
Wager, W.W (1992). Principles of Instructional Design (4nd ed). Orlando:
Holt, Rinehart and Winstone, Inc.
Polya, G
(1985). How to Solve It . A New Aspect
of Mathematical Method (2nd ed). Princeton, New
Jersey : Princeton University Press.
Rothstein dan Pamela,R
(1990). Educational Pyschology. Singapore: McGraw-Hill, Inc.
Ruseffendi,E.T (1991a). Pengantar
kepada Membantu Guru Mengem-bangkan Kompetensinya dalam Pengajaran
Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito
Ruseffendi,E.T (1991b). Penilaian
Pendidikan dan Hasil Belajar Siswa Khususnya dalam Pengajaran Matematika untuk
Guru dan Calon Guru. Bandung: Tidak diterbitkan.
Soleh,M (1998). Pokok-Pokok
Pengajaran Matematika Sekolah. Jakarta: Depdikbud
Sujono (1988). Pengajaran
Matematika untuk Sekolah Menengah. Jakarta: Proyek Pengembangan LPTK,
Depdikbud
Sumarmo,U, Dedy, E dan
Rahmat (1994). Suatu Alternatif Pengajaran untuk Meningkatkan Pemecahan
Masalah Matematika pada Guru dan Siswa SMA. Laporan Hasil Penelitian FPMIPA
IKIP Bandung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar