Senin, 23 Desember 2013

ALIRAN FILSAFAT



            Filsafat ialah ilmu yang mempelajari dari segala hal tentang ilmu pengetahuan yang ada dan tidak ada. Yang sebelumnya belum ada menjadi ada, Ilmu filsafat adalah ilmu yang istimewa karena berusaha menjawab dari semua permasalahan yang dialami oleh umat manusia. Mempelajari ilmu dalam filsafat sangatlah bermanfaat karena dengan mempelajari ilmu filsafat kita sebagai manusia berusaha menjadi pencipta ilmu pengetahuan. Menurut kajian filasafat ilmu dibagi menjadi 2 yakni ilmu yang memeplajari tentang ke alam an (Kosmologi) dan ilmu yang mempelajari tentang manusia (Humanologi). Jika ilmu kita anggap bergerak keatas maka ilmu dunia kita naikan manjadi ilmu spiritual, tetapi spiritual tidak cukup di ilmukan, jika digeser lagi maka ilmu spiritual menjadi ilmu hati.
            Awal mula filsafat bahwa Pada saat manusia berpikir tentang keadaan alam, dunia, manusia dan lingkungannya, manusia pada saat itu ingin mengetahui lebih jauh tentang masalah-masalah yang rumit itu sehingga mereka sering berpikir dan berdiskusi tentang masalah tersebut, mereka tidak ingin cuma bergantung pada agama dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam benak mereka tapi mereka ingin menjawabnya sendiri tanpa menggunakan ajaran agama.
            Berangkat dari sesuatu yang diyakini ada yang dibuktikan dengan keberadaan para filsuf itu  kemudian lahir pemikiran-pemikiran, yang merupakan aliran dalam filsafat.

1.      Parmenides (540 - 475 SM)

Parmenides (540 - 475 SM), ia lahir di kota Elea, kota perantauan Yunani di Italia Selatan. Kebesarannya sama dengan kebesaran Heraclitus. Dialah yang pertama kali memikirkan tentang hakikat tentang ada (being). Menurut penuturan Plato, pada usia 65 tahun bersama Zeno mengunjungi ke Athena untuk berdialog dengan Socrates yang masa itu Socrates masih muda. Karya-karyanya berbentuk puisi. Menurut pendapatnya, apa yang disebut sebagai realitas adalah bukan gerak dan perubahan. Hal ini berbeda dengan pendapat Heraclitus, yaitu bahwa realitas adalah gerak dan perubahan. Ia kagum adanya misteri segala realitas yang ada. Di situ ia menemukan berbagai (keanekaragaman) kenyataan, dan ditemukan pula adanya hal yang tetap dan berlaku secara umum. Sesuatu yang tetap dan berlaku umum itu tidak dapat ditangkap melalui indera, akan tetapi dapat ditangkap lewat pikiran dan akal. Untuk memunculkan realitas tersebut hanya dengan berpikir. Yang ada (being) itu ada, yang tidak dapat hilang menjadi tidak ada, dan yang tidak ada tidak mungkin muncul menjadi ada, yang tidak ada adalah tidak ada, sehingga tidak dapat dipikirkan. Yang dapat dipikirkan hanyalah yang ada saja, yang tidak ada tidak dapat dipikirkan. Jadi, yang ada (being) itu satu, umum, tetap, dan tidak dapat dibagi-bagi. Karena membagi yang ada akan menimbulkan atau melahirkan banyak yang ada, dan itu tidak mungkin. Yang ada tidak dijadikan dan tidak dapat musnah. Tidak ada kekuatan apa pun yang dapat menandingi yang ada. Tidak ada sesuatu pun yang dapat ditambahkan atau mengurangi terhadap yang ada. Kesempurnaan yang ada digambarkan, sebuah bola yang jaraknya dari pusat ke permukaan semuanya sama. Yang ada di segala tempat, oleh karenanya tidak ada ruangan yang kosong maka di luar yang ada masih ada sesuatu yang lain.

2.      Heraclitos (540-480 SM)

Heraclitos (540-480 SM),  sangat terkenal, ia mempunyai watak tidak mengenal kompromi dan sangat ektrim dalam menentang demokrasi, dia sangat bebas dalam mengemukakan pendapatnya terutama dalam hal mencelah orang lain, seperti phytagoras, Arkhilokhes, dan lain-lain.
Heraklitos selalu mempunyai pandangan sendiri dan dia tertarik pada masalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam alam. Heraklitos sangat berpengaruh oleh kenyataan bahwa ala mini mengalami perubahan terus menerus, sehingga terjadi pluralitas dalam ala mini.
Menurut heraklitos tidak ada satupun dalam alam ini bersifat tetap atau permanen apa yang kelihatannya tetap sebenarnya ia berada didalam proses perubahan yang tiada henti-hentinya.adapun ucapan heraklitos yang sangat terkenal yang menggambarkan filsafatnya adalah “semuanya mengali dan tidak ada satupun yang tinggal menetap”. Engkau tidak bisa turun dua kali kedalam sungai yang sama. Matahari adalah baru setiap hari.
Menurut heraklitos dunia ini tidak dijadikan oleh siapapun juga. Ia ada selama-lamanya. Ia sebagai api yang hidup selalu yang menyala dan padam secara berganti-ganti, perjalanan dunia ini senantiasa beredar dan tidak berhenti tidak bermula dan tidak berkesudahan. Dunia senantiasa bergerak, sebab ia mengandung hukumnya, logosnya dalam dirinya sendiri sebab itu kemajuan berlaku menurut irama yang tetap (Juhaya S. Pradja, 2002:56)
Dunia adalah tempat yang senantias bergerak, tempat kemajuan yang tidak berkeputusan. Yang baru itu mendapatkan tempatnya dengan menghancurkan dan menewaskan yang lama. Dunia ini medan perjuangan yang tidak berkeputusan dua aliran yang bertentangan. Semua benda yang nisbi segala keadaan yang sementara adalah akibat yang berturut-turut dari suatu gerakan yang maha besar “perjuangan itu adalah bapak dari segalanya, raja dari segalanya tetapi segalah perubahan dikuasai oleh hokum dunia yang satu yakni logosnya, logos artinya pikiran yang benar dari situ muncul logika.

3.      Plato (427-347 SM)

Plato (427-347 SM) menurut pemikiran filsafat nya yakni, dunia lahir adalah dunia pengalaman yang selalu berubah-ubah dan berwarna warni. Semua itu adalah bayangan dari  dunia idea. Sebagai bayangan hakikatnya hanyalah tiruan dari yang asli yaitu ide. Oleh karena itu dunia pengalaman ini berubah-ubah dan bermacam-macam sebab hanyalah merupakan tiruan yang tidak sempurna dari idea yang sifatnya bagi dunia pengalaman. Barang-barang yang ada didunia ini semua ada contohnyayang ideal di dunia idea.
Keadaan ide bertingkat-tingkat. Tingkat idea yang tertinggi adalah idea kebaikan. Dibawahnya ide jiwa dunia, yang menggerakan dunia. Berikutnya idea keindahan yang menimbulkan seni, ilmu, pendidikan dan politik. (Ahmad Syadhali. 2004:70)
Dengan demikian bahwa kebenaran umum itu telah ada bukan dibuat-buat melainkan sudah ada dalam idea.manusia dulu berada dalam dunia idea bersama-sama dengan idea-idea lainnya dan mengenalinya.
Gagasan plato tentang alam idea telah membuka filsafat berikutnya tentang etika plato.etika palto bersifat rasional dan mencerminkan intelektualitas yang tinggi. Orang yang berpengetahuan dengan sendirinya berbudi baik. Oleh sebab itu sempurnakanlah pengetahuannmu dengan pengertian.



4.      Aristoteles (384-322 SM)
Filsafat Aristoteles berkembang dalam tiga tahapan yang pertama ketika dia masih belajar di Akademi Plato ketika gagasannya masih dekat dengan gurunya tersebut, kemudian ketika dia mengungsi, dan terakhir pada waktu ia memimpin Lyceum mencakup enam karya tulisnya yang membahas masalah logika, yang dianggap sebagai karya-karyanya yang paling penting, selain kontribusinya di bidang Metafisika, Fisika, Etika, Politik, Ilmu Kedokteran, Ilmu Alam dan karya seni. Di bidang ilmu alam, ia merupakan orang pertama yang mengumpulkan dan mengklasifikasikan spesies-spesies biologi secara sistematis.Karyanya ini menggambarkan kecenderungannya akan analisis kritis, dan pencarian terhadap hukum alam dan keseimbangan pada alam. Berlawanan dengan Plato yang menyatakan teori tentang bentuk-bentuk ideal benda, Aristoteles menjelaskan bahwa materi tidak mungkin tanpa bentuk karena ia ada (eksis). Pemikiran lainnya adalah tentang gerak dimana dikatakan semua benda bergerak menuju satu tujuan, sebuah pendapat yang dikatakan bercorak teleologis. Karena benda tidak dapat bergerak dengan sendirinya maka harus ada penggerak dimana penggerak itu harus mempunyai penggerak lainnya hingga tiba pada penggerak pertama yang tak bergerak yang kemudian disebut dengan theos, yaitu yang dalam pengertian Bahasa Yunani sekarang dianggap berarti Tuhan.  LogikaAristoteles adalah suatu sistem berpikir deduktif (deductive reasoning), yang bahkan sampai saat ini masih dianggap sebagai dasar dari setiap pelajaran tentang logika formal.Meskipun demikian, dalam penelitian ilmiahnya ia menyadari pula pentingnya observasi, eksperimen dan berpikir induktif (inductive thinking).
5.      Rene Decrates (1596-1650)
Rene Descartes (1596-1650) dikenal sebagai bapak filsafat modern, karena lewat pemikiran Descartes ilmu pengetahuan jadi seperti sekarang. orang pertama diakhir abad pertengahan yang menyusun argumentasi yang kuat, yang distinct, yang menyimpulkan bahwa dasar Filsafat harus akal (ratio), bukan perasaan, bukan iman, bukan ayat suci, bukan yang lainnya.  Sebagai seorang filsuf, Descartes memiliki konsep sendiri tentang pengetahuan. Menurut beliau pengetahuan adalah keyakinan yang yang berdasarkan pada sebuah alasan yang kuat yang tidak bisa digoyahkan oleh alasan lain yang muncul kemudian. Metode yang digunakannya adalah meragukan semua pengetahuan yang ada. Hal ini terlihat pada bukunya yang berjudul Meditations dimana ia menempatkan keraguan sebagai renungan pertama. Descartes menyandarkan keraguannya pada semua kepercayaan yang ada dalam dirinya pada sebuah alasan, yaitu keyakinan yang tidak bisa digoyahkan, keyakinan yang nyata yang diketahui oleh orang umum yang biasa digunakan dalam prinsip matematika. Walaupun saya dalam keadaan sadar ataupun bermimpi, dua ditambah tiga hasilnya tetap lima. Oleh karena itu, Descartes meminta kita untuk berimajinasi sebuah jiwa yang memiliki kekuatan dan kemampuan yang menyebabkan kita merasakan pengalaman yang kita miliki dan semua keyakinan yang berkaitan dengannya.
Menurut Descartes, pengetahuan adalah sesuatu yang tidak ada lagi keraguan di dalamnya. Metode yang digunakannya adalah meragukan semua pengetahuan yang ada hingga ia mendapatkan kesimpulan bahwa ada tiga pengetahuan yang bisa diragukan, yaitu:
  • Pengetahuan yang berasal dari pengalaman inderawi. Contohnya kayu lurus yang dimasukkan ke dalam air maka akan kelihatan bengkok.
  • Fakta umum tentang dunia seperti api itu panas dan benda yang berat akan jatuh. Ia juga menyatakan bahwa mimpi yang berulang kali bisa memberikan pengetahuan tentang sesuatu.
  • Prinsip-prinsip logika dan matematika. Ia menyatakan bagaimana jika ada seorang makhluk yang bisa memasukkan ilusi ke dalam pikiran kita, dengan kata lain kita berada dalam suatu matrix.
Menurut Decrates, eksistensi pikiran manusia adalah sesuatu yang absolut dan tidak dapat diragukan. Sebab meskipun pemikirannya tentang sesuatu salah, pikirannya tertipu oleh suatu matriks, ia ragu akan segalanya. Oleh karena itu tidak dapat diragukan lagi jika pikiran itu eksis. Sedangkan pikiran menurut Descartes adalah suatu benda berpikir yang bersifat mental, bukan bersifat fisik atau material. Dari prinsip awal bahwa pikiran itu ada, Descrates melanjutkan penyelidikan filsafatnya untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada.
6.      David Hume (1711-1776 M)
Aliran empirisme dibangun pada abad ke-17 yang muncul setelah lahirnya aliran rasionalisme. Bahkan aliran empirisme bertolak belakang dengan aliran rasionalisme. Menurut paham empirisme bahwa pegetahuan bukan hanya didasarkan pada rasio belaka, di inggris. Konsep mengenai filsafat empirisme muncul pada abad modern yang lahir karena adanya upaya keluar dari kekangan pemikiran kaum agamawan di zaman skolastik. Descartes adalah salah seorang yang berjasa dalam membangun landasan pemikiran baru di dunia barat. Descartes menawarkan sebuah prosedur yang disebut keraguan metodis universal dimana keraguan ini bukan menunjuk kepada kebingungan yang berkepanjangan, tetapi akan berakhir ketika lahir kesadaran akan eksisitensi diri yang dia katakan dengan cogito ergo sum yang artinya saya berpikir, maka saya ada. .Teori pengetahuan yang dikembangkan Descartes dikenal dengan rasionalisme karena alur pikir yang dikemukakan Rene Descartes bermuara kepada kekuatan rasio manusia. Sebagai reaksi dari pemikiran rasionalisme Descartes inilah muncul para filosof yang berkembang kemudian yang bertolak belakang dengan Descartes yang menganggap bahwa pengetahuan itu bersumber pada pengalaman atau empirisme. Mereka inilah yang disebut sebagai kaum empirisme, di antaranya yaitu John Locke, Thomas Hobbes, George Barkeley, dan David Hume.
7.      Immanuel Kant (1724-1804)
Seorang filsuf besar pada abad pencerahan. Ia menunjukkan jalan terbuka dalam membangun suatu proses subyektif dan obyektif pengetahuan agar pengetahuan tidak menjadi buta dan berat sebelah. Bagi Kant ilmu pengetahuan dalam bekerja harus memenuhi syarat obyektif maupun subyektif (Awuy, 1993).
Kant mengubah wajah filsafat secara radikal dengan titik sentral manusia sebagai subjek berpikir terinspirasi dari Copernican Revolution yakni revolusi pemikiran yang dilakukan Kant dalam mencari sumber pengetahuan pada diri manusia, khususnya mengenai fenomena yang mementingkan kesadaran subjek yang kemudian melahirkan idealisme yang memuncak pada Hegel. Juga mengenai apriori telah melahirkan sentralitas subjek sebagai penentu kebenaran sebuah pengetahuan.
Dengan revolusi ini, filsafat Kant tidak dimulai dengan penyelidikan benda sebagai objek, tetapi dengan menyelidiki struktur-struktur subyek yang memungkinkan benda-benda diketahui sebagai obyek. Dulunya para filsuf mencoba memahami pengenalan dengan mengandaikan bahwa subyek mengarahkan diri kepada obyek (Dister, 1992).
Immanuel Kant, seorang mekanis dan abstrak yang humanis termasuk salah seorang filsuf besar pada abad ke 18 memberi pencerahan dengan filsafat kritisisme yang mendobrak dogmatism, mendamaikan pertentangan dua aliran rasionalisme dan empirisme, menghidupkan metafisika yang berbeda dengan metafisika tradisional
8.      August Comte (1789-1857)
Pemikiran brilian Comte mulai terajut menjadi suatu aliran pemikiran yang baru dalam karya-karya filsafat yang tumbuh lebih dulu. Comte dengan kesadaran penuh menyadari bahwa akal budi manusia terbatas, mencoba mengatasi dengan membentuk ilmu pengetahuan yang berasumsi dasar pada persepsi dan penyelidikan ilmiah. Auguste Comte memperkenalkan pengetahuan filsafat ilmu yang baru (epistimologi baru) yang menjembatani antara rasionalisme Descartes dan emperisme Paris Bacon (Wibisono, 1983), ia juga mendirikan aliran filsafat yang di sebut sebagi aliran Positivisme yang artinya menepatkan akal (rasio) pada tempat yang sangat penting, beliau juga mendapat julukan Bapak Positivisme. Auguste Comte disebut juga bapak sosiologi modern karena beliau tak kenal henti dalam penelitiannya terhadap fenomena sosial, sehingga ilmu sosial berkembang dengan pesat.
Dengan segala pemikirannya, Auguste Comte merupakan salah satu filosofi yang mengembangkan filsafat ilmu yang di rintis oleh Bacon. Beliau juga termasuk kelompok kajian yag disebut ”Lingkaran Wina”(Vienna Circle).  Comte adalah tokoh aliran positivisme yang paling terkenal. Kamu positivis percaya bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dimana metode-metode penelitian empiris dapat dipergunakan untuk menemukan hukum-hukum sosial kemasyarakatan. Aliran ini tentunya mendapat pengaruh dari kaum empiris dan mereka sangat optimis dengan kemajuan dari revolusi Perancis.
Bentangan aktualisasi dari pemikiran Comte, adalah dikeluarkannya pemikirannya mengenai “hukum tiga tahap” atau dikenal juga dengan “hukum tigastadia”. Hukum tiga tahap ini menceritakan perihal sejarah manusia dan pemikirannya sebagai analisa dari observasi-observasi yang dilakukan oleh Comte. Versi Comte tentang perkembangan manusia dan pemikirannya, berawal pada tahapan teologis dimana studi kasusnya pada masyarakat primitif  yang masih hidupnya menjadi obyek bagi alam, belum memiliki hasrat atau mental untuk menguasai (pengelola) alam atau dapat dikatakan belum menjadi subyek. Fetitisme dan animisme merupakan keyakinan awal yang membentuk pola pikir manusia lalu beranjak kepada politeisme, manusia menganggap ada roh-roh dalam setiap benda pengatur kehidupan dan dewa-dewa yang mengatur kehendak manusia dalam tiap aktivitasnya dikeseharian.
Comte percaya bahwa humanitas keseluruhan dapat tercipta dengan kesatuan lingkungan social yang terkecil, yaitu keluarga. Keluarga-keluarga merupakan satuan masyarakat yang asasi bagi Comte. Keluarga yang mengenalkan pada lingkungan social, pentingnya keakraban menyatukan dan mempererat anggota keluarga yang satu dengan keluarga yang lain. Dalam diri manusia memiliki kecendrungan  terhadap dua hal, yaitu egoisme dan altruisma (sifat peribadi yang didasarkan pada kepentingan bersama). Kecenderungan pertama terus melemah secara bertahap, sedang yang kedua makin bertambah kuat. Sehingga manusia makin memiliki sosialitas yang beradab, akibat bekerja bersama sesuai pembagian kerja berdasarkan pengalaman adanya pertautan kekeluargaan yang mengembang. Tidak dapat dikatakan tidak ini juga karena adanya sosialisasi keluarga terhadap keluarga lainnya.
Comte menganggap keluargalah yang menjadi sumber keteraturan sosial, dimana nilai-nilai kultural pada keluarga (kepatuhan) yang disinkronisasikan dengan pembagian kerja akan selalu mendapat tuntutan kerja sama. Tuntutan kerjasama berarti saling menguntungkan, menumbuhkan persamaan dalam mencapai suatu kebutuhan. Menurut Comte mencintai kemanusian, inilah yang menyebabkan lahirnya keseimbangan dan keintegrasian baik dalam pribadi individu maupun dalam masyarakat.
Kemudian lahirlah yang disebut dengan bendungan comte yang membatasi pemikiran filsafat yang bersumber dari manusia, yang mana menurut comte keduduakan manusia hanya terdiri atas 3 tahap yakni masyarakat religious, masyarakat tradisonal, dan masyarakat modern. Masyarakat religious artinya masyarakat primitive yakni masyarakat yang belum pernah tersentuh oleh sedikitpun peradaban, manusianya masih asli suku tempo dulu, manusianya masih menyembah dewa, roh-roh dan lain-lain, sedangkan masyarakat tradisional yakni masyarakat yang sudah sedikit maju, namun mesih serba tradisional, berpakaian seadanya, namun sudah bisa sedikit mengenal zaman modern. Sedangkan masyarakat modern artinya masyarakat yang sudah mengenal teknologi, serba teknologi.


9.      Filsafat Modern
Baru pada zaman setelah abad pertengahan itulah filsafat barat menjadi suatu kekuatan rohani yang berdiri sendiri dengan wataknya sendiri. Hal ini disebabkan karena timbulnya Renaissance, di mana orang lebih memusatkan perhatiannya kepada manusia sendiri, bukan kepada Allah, kepada hidup sekarang ini, bukan kepada hidup di akhirat. Renaissance kemudian disusul oleh Pencerahan (aufklarung), yang menjadikan manusia merasa menjadi dewasa, makin percaya kepada diri sendiri dan berusaha membebaskan diri dari segala kuasa yang mengikatnya, yaitu tradisi gerejani. Demikianlah sejak timbulnya Renaissance manusia berusaha menegakkan suatu pandangan dunia secara sistematis serta mengembangkannya secara metodis, sehingga menjadi suatu bangunan pandangan dunia yang lengkap.
Renaissance yang kemudian diikuti oleh masa pencerahan menjadi titik tolak modernisme di mana ilmu pengetahuan, filsafat, dan ideologi berkembang sedemikian pesat. Otonomi manusia (antroposentris) menjadi roh zaman modern. Kebangkitan kembali  rasio yang mewarnai zaman modern tidak bisa dilepaskan dari pemikiran filsuf Perancis Rene Descartes yang berjasa mengembalikan peranan sentral akal budi yang sekian lama dijadikan hamba sahaya dari keimanan. Pikirannya yang terkenal adalah cogito ergo sum (Saya berpikir, maka saya ada). Akal budi adalah satu-satunya sumber bagi pengetahuan, kesan-kesan inderawi dianggap sebagai ilusi yang hanya bisa diatasi oleh kemampuan yang dimiliki rasio. Pemikiran Descartes mendapat tanggapan keras dari para filsuf yang lain. Misalnya para filsuf Inggris seperti David Hume, John Locke, dan George Berkeley, yang menganut aliran empirisme. Mereka berpikiran bahwa pengetahuan hanya diperoleh dari pengalaman lewat pengamatan empiris. Pertentangan pemikiran di antara para filsuf berlangsung terus hingga filsuf Jerman Immanuel Kant yang berhasil mensintesakan antara rasionalisme dan empirisme. Dia berpendapat bahwa kedua aliran tersebut terlalu ekstrim dalam memahami sumber pengetahuan. Menurut Kant, baik rasio maupun pengalaman empiris merupakan sumber-sumber pengetahuan di mana kesan-kesan dan empiri dibangun oleh rasio manusia melalui kategori-kategori menjadi pengetahuan.
Sekalipun para pemikir pada zaman ini berbeda-beda keadaannya, dan penyelidikan fisalfati mereka mengarah kepada jurusan yang berbeda-beda juga, namun semua itu mewujudkan suatu kesatuan juga. Kesatuan itu ada karena semuanya itu telah membantu dibentuknya kebudayaan Barat. Zaman ini menjadikan orang tahu dengan jelas segala apa yang hidup di dalam kesadaran manusia, segala apa yang dicari manusia pada suatu zaman tertentu dan segala apa yang telah menggerakkan hati nurani manusia yang terdalam itu. Jawaban mereka memang bermacam-macam, akan tetapi sekarang orang tahu bahwa filsafat diperlukan sekali.
Filsafat Abad-19 dan abad 20
Memasuki abad ke-19 filsafat menjadi terpecah-pecah: ada filsafat Jerman, filsafat Perancis, filsafat Inggris, Amerika, dan Rusia. Para bangsa mengikuti jalannya sendiri-sendiri dan masing-masing membentuk kepribadiannya sendiri, dengan cara dan pengertian dasar sendiri-sendiri. Demikianlah para bangsa di Eropa tidak lagi mencerminkan satu roh, roh Eropa. Sekalipun masih ada kesamaan juga. Pemikiran yang bermacam-macam itu sebenarnya menampakkan aspek yang bermacam-macam dari suatu kebudayaan.
Secara umum dapat digambarkan lapisan masyarakat dari atas kebawa yang modern seperti saat ini













Masyarakat Serba Teknologi
 







Masyarakat Yang  Berkembang
 




Tradisional
 






Tribal
 



Arkhaic
 

 



















DAFTAR PUSTAKA

Ahmad syahdali & Mudzakir 2004. Filsafat umum. Bandung: Pustaka setia
Abdul, Atamh Hakim,Drs, M.A & Ahmad, Beni Saebani, Drs.M.Si.2008.Filsafat Umum:Dari Metologi sampai Teofilosofi.Bandung: Pustaka setia
Bridge, J.H. (2009). A General View of Positivism Auguste Comte. London “ Cambridge University
Juhaya S. Pradja,2002. Aliran-Aliran Filsafat Dan Etika. Yayasan Piara: bandung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar