Filsafat
ialah ilmu yang mempelajari dari segala hal tentang ilmu pengetahuan yang ada
dan tidak ada. Yang sebelumnya belum ada menjadi ada, Ilmu filsafat adalah ilmu
yang istimewa karena berusaha menjawab dari semua permasalahan yang dialami
oleh umat manusia. Mempelajari ilmu dalam filsafat sangatlah bermanfaat karena
dengan mempelajari ilmu filsafat kita sebagai manusia berusaha menjadi pencipta
ilmu pengetahuan. Menurut kajian filasafat ilmu dibagi menjadi 2 yakni ilmu
yang memeplajari tentang ke alam an (Kosmologi) dan ilmu yang mempelajari
tentang manusia (Humanologi). Jika ilmu kita anggap bergerak keatas maka ilmu
dunia kita naikan manjadi ilmu spiritual, tetapi spiritual tidak cukup di
ilmukan, jika digeser lagi maka ilmu spiritual menjadi ilmu hati.
Awal mula filsafat bahwa Pada saat
manusia berpikir tentang keadaan alam, dunia, manusia dan lingkungannya,
manusia pada saat itu ingin mengetahui lebih jauh tentang masalah-masalah yang
rumit itu sehingga mereka sering berpikir dan berdiskusi tentang masalah
tersebut, mereka tidak ingin cuma bergantung pada agama dalam menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam benak mereka tapi mereka ingin menjawabnya
sendiri tanpa menggunakan ajaran agama.
Berangkat dari sesuatu yang diyakini ada yang
dibuktikan dengan keberadaan para filsuf itu kemudian lahir pemikiran-pemikiran, yang
merupakan aliran dalam filsafat.
1.
Parmenides (540 - 475 SM)
Parmenides (540 - 475 SM), ia lahir di kota Elea, kota
perantauan Yunani di Italia Selatan. Kebesarannya sama dengan kebesaran
Heraclitus. Dialah yang pertama kali memikirkan tentang hakikat tentang ada (being).
Menurut penuturan Plato, pada usia 65 tahun bersama Zeno mengunjungi ke Athena
untuk berdialog dengan Socrates yang masa itu Socrates masih muda.
Karya-karyanya berbentuk puisi. Menurut pendapatnya, apa yang disebut sebagai
realitas adalah bukan gerak dan perubahan. Hal ini berbeda dengan pendapat
Heraclitus, yaitu bahwa realitas adalah gerak dan perubahan. Ia kagum adanya
misteri segala realitas yang ada. Di situ ia menemukan berbagai
(keanekaragaman) kenyataan, dan ditemukan pula adanya hal yang tetap dan
berlaku secara umum. Sesuatu yang tetap dan berlaku umum itu tidak dapat
ditangkap melalui indera, akan tetapi dapat ditangkap lewat pikiran dan akal.
Untuk memunculkan realitas tersebut hanya dengan berpikir. Yang ada (being)
itu ada, yang tidak dapat hilang menjadi tidak ada, dan yang tidak ada tidak
mungkin muncul menjadi ada, yang tidak ada adalah tidak ada, sehingga tidak
dapat dipikirkan. Yang dapat dipikirkan hanyalah yang ada saja, yang tidak ada
tidak dapat dipikirkan. Jadi, yang ada (being) itu satu, umum, tetap,
dan tidak dapat dibagi-bagi. Karena membagi yang ada akan menimbulkan atau
melahirkan banyak yang ada, dan itu tidak mungkin. Yang ada tidak dijadikan dan
tidak dapat musnah. Tidak ada kekuatan apa pun yang dapat menandingi yang ada.
Tidak ada sesuatu pun yang dapat ditambahkan atau mengurangi terhadap yang ada.
Kesempurnaan yang ada digambarkan, sebuah bola yang jaraknya dari pusat ke
permukaan semuanya sama. Yang ada di segala tempat, oleh karenanya tidak ada
ruangan yang kosong maka di luar yang ada masih ada sesuatu yang lain.
2.
Heraclitos (540-480 SM)
Heraclitos (540-480 SM), sangat terkenal, ia
mempunyai watak tidak mengenal kompromi dan sangat ektrim dalam menentang
demokrasi, dia sangat bebas dalam mengemukakan pendapatnya terutama dalam hal
mencelah orang lain, seperti phytagoras, Arkhilokhes, dan lain-lain.
Heraklitos selalu mempunyai
pandangan sendiri dan dia tertarik pada masalah perubahan-perubahan yang
terjadi dalam alam. Heraklitos sangat berpengaruh oleh kenyataan bahwa ala mini
mengalami perubahan terus menerus, sehingga terjadi pluralitas dalam ala mini.
Menurut heraklitos tidak ada satupun
dalam alam ini bersifat tetap atau permanen apa yang kelihatannya tetap
sebenarnya ia berada didalam proses perubahan yang tiada henti-hentinya.adapun
ucapan heraklitos yang sangat terkenal yang menggambarkan filsafatnya adalah
“semuanya mengali dan tidak ada satupun yang tinggal menetap”. Engkau tidak
bisa turun dua kali kedalam sungai yang sama. Matahari adalah baru setiap hari.
Menurut heraklitos dunia ini tidak dijadikan
oleh siapapun juga. Ia ada selama-lamanya. Ia sebagai api yang hidup selalu
yang menyala dan padam secara berganti-ganti, perjalanan dunia ini senantiasa
beredar dan tidak berhenti tidak bermula dan tidak berkesudahan. Dunia
senantiasa bergerak, sebab ia mengandung hukumnya, logosnya dalam dirinya
sendiri sebab itu kemajuan berlaku menurut irama yang tetap (Juhaya S. Pradja,
2002:56)
Dunia adalah tempat yang senantias
bergerak, tempat kemajuan yang tidak berkeputusan. Yang baru itu mendapatkan
tempatnya dengan menghancurkan dan menewaskan yang lama. Dunia ini medan
perjuangan yang tidak berkeputusan dua aliran yang bertentangan. Semua benda
yang nisbi segala keadaan yang sementara adalah akibat yang berturut-turut dari
suatu gerakan yang maha besar “perjuangan itu adalah bapak dari segalanya, raja
dari segalanya tetapi segalah perubahan dikuasai oleh hokum dunia yang satu
yakni logosnya, logos artinya pikiran yang benar dari situ muncul logika.
3.
Plato (427-347 SM)
Plato (427-347 SM) menurut pemikiran filsafat nya
yakni, dunia lahir adalah dunia pengalaman yang selalu berubah-ubah dan
berwarna warni. Semua itu adalah bayangan dari
dunia idea. Sebagai bayangan hakikatnya hanyalah tiruan dari yang asli
yaitu ide. Oleh karena itu dunia pengalaman ini berubah-ubah dan bermacam-macam
sebab hanyalah merupakan tiruan yang tidak sempurna dari idea yang sifatnya
bagi dunia pengalaman. Barang-barang yang ada didunia ini semua ada
contohnyayang ideal di dunia idea.
Keadaan ide bertingkat-tingkat. Tingkat idea yang tertinggi
adalah idea kebaikan. Dibawahnya ide jiwa dunia, yang menggerakan dunia.
Berikutnya idea keindahan yang menimbulkan seni, ilmu, pendidikan dan politik.
(Ahmad Syadhali. 2004:70)
Dengan demikian bahwa kebenaran umum itu telah ada bukan
dibuat-buat melainkan sudah ada dalam idea.manusia dulu berada dalam dunia idea
bersama-sama dengan idea-idea lainnya dan mengenalinya.
Gagasan plato tentang alam idea telah membuka filsafat
berikutnya tentang etika plato.etika palto bersifat rasional dan mencerminkan
intelektualitas yang tinggi. Orang yang berpengetahuan dengan sendirinya
berbudi baik. Oleh sebab itu sempurnakanlah pengetahuannmu dengan pengertian.
4.
Aristoteles (384-322 SM)
Filsafat
Aristoteles berkembang dalam tiga tahapan yang pertama ketika dia masih belajar
di Akademi Plato ketika gagasannya masih dekat dengan gurunya tersebut,
kemudian ketika dia mengungsi, dan terakhir pada waktu ia memimpin Lyceum
mencakup enam karya tulisnya yang membahas masalah logika, yang
dianggap sebagai karya-karyanya yang paling penting, selain kontribusinya di
bidang Metafisika, Fisika, Etika, Politik, Ilmu Kedokteran, Ilmu Alam dan karya
seni. Di bidang ilmu alam, ia merupakan orang pertama yang mengumpulkan
dan mengklasifikasikan spesies-spesies biologi secara sistematis.Karyanya ini
menggambarkan kecenderungannya akan analisis kritis, dan pencarian terhadap
hukum alam dan keseimbangan pada alam. Berlawanan dengan Plato yang menyatakan
teori tentang bentuk-bentuk ideal benda, Aristoteles menjelaskan bahwa materi
tidak mungkin tanpa bentuk karena ia ada (eksis). Pemikiran lainnya
adalah tentang gerak dimana dikatakan semua benda bergerak menuju satu tujuan,
sebuah pendapat yang dikatakan bercorak teleologis. Karena benda
tidak dapat bergerak dengan sendirinya maka harus ada penggerak dimana
penggerak itu harus mempunyai penggerak lainnya hingga tiba pada penggerak
pertama yang tak bergerak yang kemudian disebut dengan theos, yaitu yang
dalam pengertian Bahasa Yunani sekarang dianggap berarti Tuhan. LogikaAristoteles adalah suatu sistem
berpikir deduktif (deductive reasoning), yang bahkan sampai saat ini
masih dianggap sebagai dasar dari setiap pelajaran tentang logika formal.Meskipun
demikian, dalam penelitian ilmiahnya ia menyadari pula pentingnya observasi,
eksperimen dan berpikir induktif (inductive thinking).
5.
Rene
Decrates (1596-1650)
Rene Descartes (1596-1650) dikenal sebagai
bapak filsafat modern, karena lewat pemikiran Descartes ilmu pengetahuan jadi
seperti sekarang. orang pertama diakhir abad pertengahan yang menyusun
argumentasi yang kuat, yang distinct, yang menyimpulkan bahwa dasar Filsafat
harus akal (ratio), bukan perasaan, bukan iman, bukan ayat suci, bukan yang
lainnya. Sebagai seorang filsuf, Descartes
memiliki konsep sendiri tentang pengetahuan. Menurut beliau pengetahuan adalah
keyakinan yang yang berdasarkan pada sebuah alasan yang kuat yang tidak bisa
digoyahkan oleh alasan lain yang muncul kemudian. Metode yang digunakannya
adalah meragukan semua pengetahuan yang ada. Hal ini terlihat pada bukunya yang
berjudul Meditations dimana ia menempatkan keraguan sebagai renungan
pertama. Descartes menyandarkan keraguannya pada semua kepercayaan yang ada
dalam dirinya pada sebuah alasan, yaitu keyakinan yang tidak bisa digoyahkan,
keyakinan yang nyata yang diketahui oleh orang umum yang biasa digunakan dalam
prinsip matematika. Walaupun saya dalam keadaan sadar ataupun bermimpi, dua
ditambah tiga hasilnya tetap lima. Oleh karena itu, Descartes meminta kita
untuk berimajinasi sebuah jiwa yang memiliki kekuatan dan kemampuan yang
menyebabkan kita merasakan pengalaman yang kita miliki dan semua keyakinan yang
berkaitan dengannya.
Menurut Descartes, pengetahuan adalah sesuatu yang tidak ada
lagi keraguan di dalamnya. Metode yang digunakannya adalah meragukan semua
pengetahuan yang ada hingga ia mendapatkan kesimpulan bahwa ada tiga
pengetahuan yang bisa diragukan, yaitu:
- Pengetahuan yang berasal dari pengalaman inderawi. Contohnya kayu lurus yang dimasukkan ke dalam air maka akan kelihatan bengkok.
- Fakta umum tentang dunia seperti api itu panas dan benda yang berat akan jatuh. Ia juga menyatakan bahwa mimpi yang berulang kali bisa memberikan pengetahuan tentang sesuatu.
- Prinsip-prinsip logika dan matematika. Ia menyatakan bagaimana jika ada seorang makhluk yang bisa memasukkan ilusi ke dalam pikiran kita, dengan kata lain kita berada dalam suatu matrix.
Menurut Decrates, eksistensi pikiran manusia adalah sesuatu
yang absolut dan tidak dapat diragukan. Sebab meskipun pemikirannya tentang
sesuatu salah, pikirannya tertipu oleh suatu matriks, ia ragu akan segalanya.
Oleh karena itu tidak dapat diragukan lagi jika pikiran itu eksis. Sedangkan
pikiran menurut Descartes adalah suatu benda berpikir yang bersifat mental,
bukan bersifat fisik atau material. Dari prinsip awal bahwa pikiran itu ada,
Descrates melanjutkan penyelidikan filsafatnya untuk membuktikan bahwa Tuhan
itu ada.
6.
David Hume (1711-1776 M)
Aliran
empirisme dibangun pada abad ke-17 yang muncul setelah lahirnya aliran
rasionalisme. Bahkan aliran empirisme bertolak belakang dengan aliran
rasionalisme. Menurut paham empirisme bahwa pegetahuan bukan hanya didasarkan
pada rasio belaka, di inggris. Konsep mengenai filsafat empirisme muncul pada
abad modern yang lahir karena adanya upaya keluar dari kekangan pemikiran kaum
agamawan di zaman skolastik. Descartes adalah salah seorang yang berjasa dalam
membangun landasan pemikiran baru di dunia barat. Descartes menawarkan sebuah
prosedur yang disebut keraguan metodis universal dimana keraguan ini bukan
menunjuk kepada kebingungan yang berkepanjangan, tetapi akan berakhir ketika
lahir kesadaran akan eksisitensi diri yang dia katakan dengan cogito ergo sum
yang artinya saya berpikir, maka saya ada. .Teori pengetahuan yang dikembangkan
Descartes dikenal dengan rasionalisme karena alur pikir yang dikemukakan Rene
Descartes bermuara kepada kekuatan rasio manusia. Sebagai reaksi dari pemikiran
rasionalisme Descartes inilah muncul para filosof yang berkembang kemudian yang
bertolak belakang dengan Descartes yang menganggap bahwa pengetahuan itu
bersumber pada pengalaman atau empirisme. Mereka inilah yang disebut sebagai
kaum empirisme, di antaranya yaitu John Locke, Thomas Hobbes, George Barkeley,
dan David Hume.
7. Immanuel Kant (1724-1804)
Seorang filsuf besar
pada abad pencerahan. Ia menunjukkan jalan terbuka dalam membangun suatu proses
subyektif dan obyektif pengetahuan agar pengetahuan tidak menjadi buta dan
berat sebelah. Bagi Kant ilmu pengetahuan dalam bekerja harus memenuhi syarat
obyektif maupun subyektif (Awuy, 1993).
Kant mengubah wajah
filsafat secara radikal dengan titik sentral manusia sebagai subjek berpikir
terinspirasi dari Copernican Revolution yakni revolusi pemikiran yang dilakukan
Kant dalam mencari sumber pengetahuan pada diri manusia, khususnya mengenai
fenomena yang mementingkan kesadaran subjek yang kemudian melahirkan idealisme
yang memuncak pada Hegel. Juga mengenai apriori telah melahirkan sentralitas
subjek sebagai penentu kebenaran sebuah pengetahuan.
Dengan revolusi ini,
filsafat Kant tidak dimulai dengan penyelidikan benda sebagai objek, tetapi
dengan menyelidiki struktur-struktur subyek yang memungkinkan benda-benda
diketahui sebagai obyek. Dulunya para filsuf mencoba memahami pengenalan dengan
mengandaikan bahwa subyek mengarahkan diri kepada obyek (Dister, 1992).
Immanuel Kant,
seorang mekanis dan abstrak yang humanis termasuk salah seorang filsuf besar
pada abad ke 18 memberi pencerahan dengan filsafat kritisisme yang mendobrak
dogmatism, mendamaikan pertentangan dua aliran rasionalisme dan empirisme,
menghidupkan metafisika yang berbeda dengan metafisika tradisional
8.
August Comte
(1789-1857)
Pemikiran
brilian Comte mulai terajut menjadi suatu aliran pemikiran yang baru dalam
karya-karya filsafat yang tumbuh lebih dulu. Comte dengan kesadaran penuh
menyadari bahwa akal budi manusia terbatas, mencoba mengatasi dengan membentuk
ilmu pengetahuan yang berasumsi dasar pada persepsi dan penyelidikan ilmiah.
Auguste Comte memperkenalkan pengetahuan filsafat ilmu yang baru (epistimologi
baru) yang menjembatani antara rasionalisme Descartes dan emperisme Paris Bacon
(Wibisono, 1983), ia juga mendirikan aliran filsafat yang di sebut sebagi
aliran Positivisme yang artinya menepatkan akal (rasio) pada tempat yang sangat
penting, beliau juga mendapat julukan Bapak Positivisme. Auguste Comte disebut
juga bapak sosiologi modern karena beliau tak kenal henti dalam penelitiannya
terhadap fenomena sosial, sehingga ilmu sosial berkembang dengan pesat.
Dengan segala pemikirannya, Auguste
Comte merupakan salah satu filosofi yang mengembangkan filsafat ilmu yang di rintis
oleh Bacon. Beliau juga termasuk kelompok kajian yag disebut ”Lingkaran
Wina”(Vienna Circle). Comte adalah tokoh aliran positivisme yang paling
terkenal. Kamu positivis percaya bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam
dimana metode-metode penelitian empiris dapat dipergunakan untuk menemukan
hukum-hukum sosial kemasyarakatan. Aliran ini tentunya mendapat pengaruh dari
kaum empiris dan mereka sangat optimis dengan kemajuan dari revolusi Perancis.
Bentangan aktualisasi dari pemikiran
Comte, adalah dikeluarkannya pemikirannya mengenai “hukum tiga
tahap” atau dikenal juga dengan “hukum tigastadia”. Hukum tiga tahap
ini menceritakan perihal sejarah manusia dan pemikirannya sebagai analisa dari
observasi-observasi yang dilakukan oleh Comte. Versi Comte tentang perkembangan
manusia dan pemikirannya, berawal pada tahapan teologis dimana studi
kasusnya pada masyarakat primitif yang masih hidupnya menjadi obyek bagi
alam, belum memiliki hasrat atau mental untuk menguasai (pengelola) alam atau
dapat dikatakan belum menjadi subyek. Fetitisme dan animisme merupakan
keyakinan awal yang membentuk pola pikir manusia lalu beranjak kepada
politeisme, manusia menganggap ada roh-roh dalam setiap benda pengatur
kehidupan dan dewa-dewa yang mengatur kehendak manusia dalam tiap aktivitasnya
dikeseharian.
Comte percaya bahwa humanitas
keseluruhan dapat tercipta dengan kesatuan lingkungan social yang terkecil,
yaitu keluarga. Keluarga-keluarga merupakan satuan masyarakat yang asasi bagi
Comte. Keluarga yang mengenalkan pada lingkungan social, pentingnya keakraban
menyatukan dan mempererat anggota keluarga yang satu dengan keluarga yang lain.
Dalam diri manusia memiliki kecendrungan terhadap dua hal,
yaitu egoisme dan altruisma (sifat peribadi yang didasarkan pada
kepentingan bersama). Kecenderungan pertama terus melemah secara bertahap,
sedang yang kedua makin bertambah kuat. Sehingga manusia makin memiliki
sosialitas yang beradab, akibat bekerja bersama sesuai pembagian kerja
berdasarkan pengalaman adanya pertautan kekeluargaan yang mengembang. Tidak
dapat dikatakan tidak ini juga karena adanya sosialisasi keluarga terhadap
keluarga lainnya.
Comte menganggap keluargalah yang
menjadi sumber keteraturan sosial, dimana nilai-nilai kultural pada keluarga
(kepatuhan) yang disinkronisasikan dengan pembagian kerja akan selalu mendapat
tuntutan kerja sama. Tuntutan kerjasama berarti saling menguntungkan,
menumbuhkan persamaan dalam mencapai suatu kebutuhan. Menurut Comte mencintai
kemanusian, inilah yang menyebabkan lahirnya keseimbangan dan keintegrasian
baik dalam pribadi individu maupun dalam masyarakat.
Kemudian lahirlah yang disebut
dengan bendungan comte yang membatasi pemikiran filsafat yang bersumber dari
manusia, yang mana menurut comte keduduakan manusia hanya terdiri atas 3 tahap
yakni masyarakat religious, masyarakat tradisonal, dan masyarakat modern.
Masyarakat religious artinya masyarakat primitive yakni masyarakat yang belum
pernah tersentuh oleh sedikitpun peradaban, manusianya masih asli suku tempo
dulu, manusianya masih menyembah dewa, roh-roh dan lain-lain, sedangkan
masyarakat tradisional yakni masyarakat yang sudah sedikit maju, namun mesih
serba tradisional, berpakaian seadanya, namun sudah bisa sedikit mengenal zaman
modern. Sedangkan masyarakat modern artinya masyarakat yang sudah mengenal
teknologi, serba teknologi.
9.
Filsafat Modern
Baru pada zaman setelah abad
pertengahan itulah filsafat barat menjadi suatu kekuatan rohani
yang berdiri sendiri dengan wataknya sendiri. Hal ini disebabkan karena
timbulnya Renaissance, di mana orang lebih memusatkan perhatiannya kepada
manusia sendiri, bukan kepada Allah, kepada hidup sekarang ini, bukan kepada
hidup di akhirat. Renaissance kemudian disusul oleh Pencerahan (aufklarung),
yang menjadikan manusia merasa menjadi dewasa, makin percaya kepada diri
sendiri dan berusaha membebaskan diri dari segala kuasa yang mengikatnya, yaitu
tradisi gerejani. Demikianlah sejak timbulnya Renaissance manusia berusaha
menegakkan suatu pandangan dunia secara sistematis serta mengembangkannya secara
metodis, sehingga menjadi suatu bangunan pandangan dunia yang lengkap.
Renaissance yang kemudian diikuti oleh
masa pencerahan menjadi titik tolak modernisme di mana ilmu pengetahuan,
filsafat, dan ideologi berkembang sedemikian pesat. Otonomi manusia
(antroposentris) menjadi roh zaman modern. Kebangkitan kembali rasio yang
mewarnai zaman modern tidak bisa dilepaskan dari pemikiran filsuf Perancis Rene
Descartes yang berjasa mengembalikan peranan sentral akal budi yang sekian lama
dijadikan hamba sahaya dari keimanan. Pikirannya yang terkenal adalah cogito
ergo sum (Saya berpikir, maka saya ada). Akal budi adalah satu-satunya
sumber bagi pengetahuan, kesan-kesan inderawi dianggap sebagai ilusi yang hanya
bisa diatasi oleh kemampuan yang dimiliki rasio. Pemikiran Descartes mendapat
tanggapan keras dari para filsuf yang lain. Misalnya para filsuf Inggris
seperti David Hume, John Locke, dan George Berkeley, yang menganut aliran
empirisme. Mereka berpikiran bahwa pengetahuan hanya diperoleh dari pengalaman lewat
pengamatan empiris. Pertentangan pemikiran di antara para filsuf berlangsung
terus hingga filsuf Jerman Immanuel Kant yang berhasil mensintesakan antara
rasionalisme dan empirisme. Dia berpendapat bahwa kedua aliran tersebut terlalu
ekstrim dalam memahami sumber pengetahuan. Menurut Kant, baik rasio maupun
pengalaman empiris merupakan sumber-sumber pengetahuan di mana kesan-kesan dan
empiri dibangun oleh rasio manusia melalui kategori-kategori menjadi
pengetahuan.
Sekalipun para pemikir pada zaman ini
berbeda-beda keadaannya, dan penyelidikan fisalfati mereka mengarah kepada
jurusan yang berbeda-beda juga, namun semua itu mewujudkan suatu kesatuan juga.
Kesatuan itu ada karena semuanya itu telah membantu dibentuknya kebudayaan
Barat. Zaman ini menjadikan orang tahu dengan jelas segala apa yang hidup di
dalam kesadaran manusia, segala apa yang dicari manusia pada suatu zaman
tertentu dan segala apa yang telah menggerakkan hati nurani manusia yang
terdalam itu. Jawaban mereka memang bermacam-macam, akan tetapi sekarang orang
tahu bahwa filsafat diperlukan sekali.
Filsafat Abad-19 dan abad 20
Memasuki abad
ke-19 filsafat menjadi terpecah-pecah: ada filsafat Jerman, filsafat Perancis,
filsafat Inggris, Amerika, dan Rusia. Para bangsa mengikuti jalannya sendiri-sendiri
dan masing-masing membentuk kepribadiannya sendiri, dengan cara dan pengertian
dasar sendiri-sendiri. Demikianlah para bangsa di Eropa tidak lagi mencerminkan
satu roh, roh Eropa. Sekalipun masih ada kesamaan juga. Pemikiran yang
bermacam-macam itu sebenarnya menampakkan aspek yang bermacam-macam dari suatu
kebudayaan.
Secara umum dapat digambarkan
lapisan masyarakat dari atas kebawa yang modern seperti saat ini
![]() |
|||||||||
|
|||||||||
![]() |
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
![]() |
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmad syahdali & Mudzakir 2004. Filsafat umum.
Bandung: Pustaka setia
Abdul, Atamh Hakim,Drs, M.A & Ahmad, Beni
Saebani, Drs.M.Si.2008.Filsafat Umum:Dari
Metologi sampai Teofilosofi.Bandung: Pustaka setia
Bridge,
J.H. (2009). A General View of Positivism
Auguste Comte. London “ Cambridge University
Juhaya
S. Pradja,2002. Aliran-Aliran Filsafat
Dan Etika. Yayasan Piara: bandung



Tidak ada komentar:
Posting Komentar