Kelompok
1 Peta Pendidikan Dunia 1
PPs UNY Pendidikan Matematika
Kelas C Tahun 2013
Melda Ariyanti (137091251039)
Sardin (137091251053)
Khairuddin
(137091251055)
Harry Syafutera (137091251056)
Muhammad Masruri Burhan (137091251058)
LAPORAN
KEGIATAN DISKUSI
Pertemuan 1
Hari, tanggal : Jum’at, 15 November 2013
Tempat : Ruang 103 Gedung Lama UNY
Pukul : 09.10 – 09.30 WIB
Agenda : -
Pembagian tugas
-
Pencarian referensi
terkait judul
-
Penjadwalan untuk
pertemuan selanjutnya
Pertemuan 2
Hari, tanggal : Minggu, 17 November 2013
Tempat : Kost Khairuddin, Samirono
Pukul : 13.30 – 16.00 WIB
Agenda : -
Tindak lanjut pertemuan ke 1
-
Diskusi materi peta pendidikan
dunia 1
-
Mengkaji buku
dari Paul Ernest tentang peta 1
-
Penjadwalan untuk
pertemuan selanjutnya
Pertemuan 3
Hari, tanggal : Selasa, 19 November 2013
Tempat : Perpustakaan Pascasarjana UNY
Pukul : 10.00 – 11.30 WIB
Agenda : -
Diskusi materi peta pendidikan dunia 1
Pertemuan 4
Hari, tanggal : Kamis, 21 November 2013
Tempat : Ruang 106 Gedung lama Pascasarjana UNY
Pukul : 10.00 – 10.30 WIB
Agenda : -
Tahap penyelesaian laporan diskusi
Refleksi Ke 5
IMPLEMENTASI
FILSAFAT DALAM PENDIDIKAN (MATEMATIKA):
Telaah
Kurikulum 2013 Berdasar Peta Pendidikan Dunia I Karya Paul Ernest
Peta
Pendidikan Dunia I
|
|
Industrial
Trainer
|
Technological
Pragmatist
|
Old
Humanist
|
Progressive
Educator
|
Public
Educator
|
|
Politics
|
Radical right
|
Conservative
|
Conservative/ liberal
|
Liberal
|
Democracy
|
|
Mathematics
|
Body of Knowledge
|
Science of truth
|
Structure of truth
|
Process of Thinking
|
Social Activities
|
|
Moral Value
|
Good vs Bad
|
Pragmatism
|
Hierarkhies Paternalistics
|
Humanity
|
Justice, Freedom
|
Pembahasan:
Paul Ernest menyatakan bahwa dunia
pendidikan terbagi berdasarkan ideologi yang mendasarinya. Terdapat setidaknya
lima jenis ideology yaitu industrial
trainer, technological pragmatist, old humanist, progressive educator dan public educator. Pandangan mengenai
pembelajaran juga sangat terkait dengan pandangan mengenai ilmu yang dipelajari
yang dalam hal ini adalah matematika. Perbedaan dalam memandang matematika
menyebabkan perbedaan dalam membelajarkannya kepada siswa.
A. Industrial
Trainer
1.
Ideologi Politik (Radikal Right)
Perilaku
warga negara yang tidak puas terhadap keadaan yang ada serta menginginkan
perubahan yang cepat dan mendasar, tidak kenal kompromi dan tidak mengindahkan
orang lain yang cenderung ingin menang sendiri.
2.
Pandangan terhadap
Matematika
Matematika
pada industrial trainer ini dipandang
sebagai body of knowledge. Matematika
sebagai ratu atau ibunya ilmu dimaksudkan matematika adalah sebagai sumber dari
ilmu yang lain. Banyak ilmu-ilmu yang penemuan dan pengembangannya bergantung
dari matematika. Sebagai contoh banyak teori-teori dan cabang-cabang dari
Fisika dan Kimia Modern yang ditemukan dan dikembangkan melalui konsep kalkulus
khusunya tentang persamaan diferensial, penemuan dan pengembangan teori Mendel
dalam biologi melalui konsep probabilitas, teori ekonomi mengenai permintaan
dan penawaran yang dikembangkan melalui konsep fungsi, dan kalkulus tentang
diferensial dan integral.
3.
Nilai Moral (Good versus Bad)
Matematika
adalah tunggal. Kebenaran dan kesalahan di dalam metematika bersifat absolut.
Benar adalah benar, sedangkan salah adalah salah.
B. Technological
Pragmatist
1.
Ideologi Politik (Conservative)
Merupakan
sikap dan perilaku politik yang tidak menginginkan adanya perubahan yang berarti
(mendasar) dalam sebuah sistem. Sikap ini biasanya dianut oleh mereka yang
tengah menikmati posisi istimewa atau kekuasaan dalam sebuah struktur atau
paling tidak merasa sangat diuntungkan oleh sistem yang ada. Kaum konservatif
cenderung mempertahankan dan melestarikan sistem yang sudah ada. Kalaupun
mereka melakukan perubahan karena desakan dan dorongan oleh pihak luar, kaum
konservatif hanya ingin perubahan itu tidak menggeser atau menghilangkan posisi
mereka dalam kekuasaan. Perubahan hanya mungkin terjadi bila situasi sudah
sangat krisis dan mendesak yang memaksa mereka harus turun dari posisi
kekuasaan.
2.
Pandangan terhadap
Matematika
Matematika dipandang sebagai Science of truth (Kebenaran Ilmu). Ukuran
kebenaran ilmu adalah rasionalisme dan empirisme sehingga kebenaran ilmu
bersifat empiris dan rasional. Sedangkan menurut Immanuel Kant, matematika
merupakan cara berpikir logis yang salah atau benarnya dapat ditentukan tanpa
mempelajari dunia empiris. Jadi menurut Immanuel Kant dalam pembelajaran
matematika tidak penting adanya suatu pengalaman, yang terpenting adalah
logika. Sesuatu hal dapat dibuktikan secara teoritis berdasarkan penalaran
(logika) saja, tanpa perlu mengamati, melakukan, atau mengalaminya secara
langsung.
Pada
konsep ideal kurikulum 2013, pelaksanaan proses pembelajaran matematika di
sekolah justru mengarahkan siswa untuk membuktikan sesuatu hal berdasarkan
pengalaman langsung. Siswa diminta untuk melakukan percobaan secara langsung,
kemudian melakukan pengamatan terhadap percobaan yang telah dilakukan, kemudian
membuat sebuah kesimpulan atau pembuktian terhadap sesuatu hal yang diteliti.
Dalam hal ini, siswa tidak hanya menggunakan logika (penalaran) dalam membuat
sebuah kesimpulan atau pembuktian, namun siswa juga akan menggunakan pengalaman
empirisnya. Dengan demikian, kebenaran yang akan diperoleh tidak hanya sesuai
dengan teori yang ada, namun juga akan sesuai dengan keadaan nyata (pengalaman)
yang telah dialami oleh siswa.
3.
Nilai Moral (Pragmatism)
Pragmatisme adalah
aliran filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar
adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan melihat
kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis. Dengan demikian, bukan kebenaran
objektif dari pengetahuan yang penting melainkan bagaimana kegunaan praktis
dari pengetahuan
kepada individu-individu. Dasar dari pragmatisme adalah logika pengamatan, dimana apa yang
ditampilkan pada manusia dalam dunia nyata merupakan
fakta-fakta individual, konkrit, dan terpisah satu sama lain. Dunia
ditampilkan apa adanya dan perbedaan diterima begitu saja. Representasi
realitas yang muncul di pikiran manusia selalu bersifat pribadi dan bukan
merupakan fakta-fakta umum. Ide menjadi benar ketika memiliki fungsi
pelayanan dan kegunaan. Dengan
demikian, filsafat pragmatisme tidak mau direpotkan dengan
pertanyaan-pertanyaan seputar kebenaran, terlebih yang bersifat metafisik,
sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan filsafat
Barat di dalam sejarah.
C. Old
Humanist
1.
Ideologi Politik (Conservative/liberal)
Kaum old humanist, bukan humaniora,
mengarahkan kuat pandangan yang berpusat pada diri manusia, bukan pada Tuhan.
Artinya, aspek spiritual dinihilkan dalam hal ini.
2.
Pandangan terhadap
Matematika
Matematika
dipandang sebagai Structure of truth
(Struktur kebenaran). Matematika mempelajari tentang pola, keteraturan, tentang
struktur yang terorganisasikan. Hal itu dimulai dari unsur-unsur yang tidak
terdefinisikan (undefined terms, basic
terms, primitive terms) kemudian pada unsur yang didefinisikan, ke aksioma,
atau postulat, dan akhirnya pada teorema. Konsep-konsep matematika tersusun
secara hirearkis, terstruktur, logis, dan sistematis mulai dari konsep yang
paling sederhana sampai pada konsep yang paling kompleks. Dalam matematika
terdapat topik atau konsep prasyarat sebagai dasar untuk memahami topik atau
konsep selanjutnya.
3.
Nilai Moral (Hierarkhies paternalistics)
Sistem
kepemimpinan yang berdasarkan hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin, seperti
hubungan antara ayah dan anak. Artinya nilai moral diajarkan oleh orang tua
kepada anaknya. Hal ini memandang orang tua memiliki peran dalam menentukan
moral anaknya.
D. Progressive
Educator
1.
Ideologi Politik (Liberal)
Sikap perilaku politik masyarakat yang
berpikir bebas dan ingin maju terus. Menginginkan perubahan progresif dan
cepat, berdasarkan hukum dan kekuatan legal untuk mencapai tujuan.
2.
Pandangan terhadap
Matematika
Metematika
dipandang sebagai Process of thinking
(proses berpikir). Matematika lebih menekankan aktivitas dalam dunia rasio atau
penalaran yang terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia yang berhubungan
dengan ide, proses, dan penalaran. Pada tahap awal, matematika terbentuk dari
pengalaman manusia dalam dunianya secara empiris, kemudian pengalaman itu
diproses dalam dunia rasio, diolah secara analisis dan sintesis dengan
penalaran di dalam struktur kognitif sehingga sampailah pada suatu kesimpulan
berupa konsep-konsep matematika.
Analisis dalam
Kurikulum 2013
Sesuai
dengan pendekatan yang digunakan dalam kurikulum 2013, yakni pendekatan scientific. Pendekatan ini lebih
menekankan pada pembelajaran yang mengaktifkan siswa. Pendekatan ini
dilaksanakan dengan melibatkan tiga model pembelajaran diantaranya adalah problem based learning, project based
learning, dan discovery learning. Ketiga model ini akan menunjang how to do yang difokuskan dalam kurikulum 2013. Dalam
pelaksanaannya pendekatan scientific
ini menekankan lima aspek penting, yaitu mengamati, menanya, mencoba, menalar,
dan komunikasi.
1.
Mengamati
Pada
kurikulum 2013 metode ceramah tidak dilupakan, hanya dikurangi takarannya.
Siswa dituntut aktif dalam segala masalah. Proses mengamati dalam pelajaran
Fisika, Biologi, Kimia merupakan suatu proses belajar yang sering digunakan.
Namun bagi mata pelajaran lain, guru dituntut harus paham materi sebelum
menghadirkan siswa ke dunia nyata dengan mengamati sendiri semua fenomena yang
terjadi yang berhubungan dengan materi pelajarannya.
2.
Menanya
Agar
siswa merasa bertanya-tanya (rasa ingin tahu), seorang guru harus menyediakan
pembelajaran yang menimbulkan masalah. Artinya guru harus mampu menyediakan
kegiatan pembelajaran yang menarik yang dapat menimbulkan rasa ngin tahu siswa.
3.
Mencoba
Dalam
pelaksanaan kurikulum 2013, siswa dituntut untuk mencoba sendiri, dan terlibat
langsung dalam masalah yang dihadirkan guru. Dalam pembelajaran matematika
misalnya, siswa diminta mencoba sendiri mencari data untuk disajikan dalam
bentuk diagram, ataupun grafik. Data itu dapat diperoleh melalui pengukuran
langsung, melalui wawancara, dan melalui pengamatan.
4.
Menalar
Siswa
dituntut untuk dapat memahami dengan benar pokok materi yang diajarkan guru.
Siswa akan mudah menalar suatu materi ajar apabila pelajaran yang diajarkan
tidak memberatkan mereka.
5.
Komunikasi
Dalam
proses mengkomunikasian semua permasalahan, siswa diminta mempresentasikan
hasil kerja mereka. Kelima aspek dalam pelaksanaan kurikulum 2013 sangat
berkaitan satu sama lain. Pada dasarnya, kelima aspek ini sudah pernah
dilakukan oleh sebagian guru. namun pendalamannya dilakukan kembali di
kurikulum 2013 untuk menyegarkan semangat pendidikan Indonesia.
Ebbut
dan Stacker mendefinisikan matematika sekolah sebagai :
a.
Matematika
merupakan kegiatan penelusuran pola dan hubungan
1)
Memberikan
kesempatan siswa untuk melakukan kegiatan penemuan dan penyelidikan pola-pola
untuk menentukan hubungan
2)
Memberi
kesempatan kepada siswa untuk melakukan percobaan dengan berbagai cara
3)
Mendorong
siswa untuk menemukan adanya urutan, perbedaan, perbandingan, pengelompokan dan
sebagainya
4)
Mendorong
siswa menarik kesimpulan umum
5)
Membantu
siswa memahami dan menemukan hubungan antara pengertian satu dengan lainnya.
b.
Matematika
adalah kreativitas yang memerlukan imajinasi, intuisi dan penemuan
1)
Mendorong
inisiatif dan memberikan kesempatan berpikir berbeda
2)
Mendorong
rasa ingin tahu, keinginan bertanya, kemampuan menyanggah dan kemampuan
memperkirakan
3)
Menghargai
penemuan yang di luar perkiraan sebagai hal bermanfaat daripada menganggapnya
sebagai kesalahan
4)
Mendorong
siswa menghargai penemuan siswa yang lainnya
c.
Matematika
adalah kegiatan problem solving
1)
Menyediakan
lingkungan belajar matematika yang merangsang timbulnya persoalan matematika
2)
Membantu
siswa memecahkan persoalan matematika menggunakan caranya sendiri
3)
Membantu
siswa mengetahui informasi yang diperlukan untuk memecahkan persoalan
matematika
4)
Mendorong
siswa untuk berpikir logis, konsisten, sistematis dan mengembangkan sistem
dokumentasi/catatan
d.
Matematika
merupakan alat berkomunikasi
1)
Mendorong
siswa mengenal sifat matematika
2)
Mendorong
siswa membuat contoh sifat matematika
3.
Nilai Moral (Humanisty)
Pragmatisme mengemukakan pandangan
tentang nilai, bahwa nilai itu relatif. Pragmatisme menyarankan untuk menguji
kualitas nilai dengan cara yang sama seperti kita menguji kebenaran pengetahua dan harus mempertimbangkan
perbuatan manusia dengan tidak memihak, dan secara ilmiah memiliki
nilai-nilai yang tampaknya memungkinkan untuk memecahkan masalah-masalah yang
dihadapi manusia. Nilai-nilai
itu tidak akan dipaksakan dan akan disetujui setelah diadakan diskusi secara
terbuka. Nilai
lahir dari keinginan, dorongan, dan perasaan serta kebiasaan manusia sesuai
dengan watak sebagai kesatuan antara faktor biologis dan sosial dalam diri dan
kepribadiannya. Nilai merupakan suatu realitas dalam kehidupan yang dapat
dimengerti sebagai suatu wujud dalam perilaku manusia dan sebagai suatu
pengetahuan serta
sebagai suatu ide.
a.
Kurikulum 2013 bukan
kurikulum yang berbasis kompetensi namun kurikulum yang berbasis karakter, hal
ini sebagaimana disebutkan oleh Mohammad Nur
bahwa "Karena pada praktiknya, kurikulum baru yang kita terapkan ini memang
lebih menarik dibanding kurikulum yang lama. Pada kurikulum baru ini berbasis karakter,
bukan kompetensi,". Karena tekanannya pada upaya pembentukan karakter, maka
sistem penyajian mata pelajaran pada kurikulum baru tersebut secara
terintegratif, sehingga semua jenis pelajaran diintegrasikan dengan nilai-nilai
moral agama. Oleh karena itu, jam pelajaran agama pada kurikulum baru tersebut
juga ditambah.
b.
Standar Kompetensi
Lulusan (SKL) dalam kurikulum 2013 adalah untuk membentuk sikap individu yang
beriman, berakhlak mulia (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun),
rasa ingin tahu, toleransi, gotong royong, kerjasama, dan musyawarah. Salah
satu kegiatan yang disarankan dalam kurikulum 2013 adalah adanya kegiatan
ekstrakurikuler seperti pramuka, PMI, OSIS, dan lain-lain yang pada akhirnya
akan digunakan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, siswa telah
mengetahui tata cara pertolongan pertama dari kegiatan PMI, sehingga pada saat
ada orang yang mengalami kecelakaan siswa dapat menolongnya dengan pengetahuan
pertolongan pertamanya. Contoh lainnya adalah kegiatan diskusi kelompok dalam
kegiatan pembelajaran dapat meningkatkan rasa saling menghargai antar siswa.
E.
Public Educator
1.
Ideologi Politik (Democracy)
Pemerintahan
yang demokratis memungkikan setiap warga negara tumbuh dan hidup melalui
interaksi sosial yang memberikan tempat bersama dengan warga negara lainnya.
Pendidikan harus membantu siswa menjadi warga negara yang demokratis, karena itu menurut public
educator pendidikan
hendaknya bertujuan menyediakan pengalaman untuk menemukan atau memecahkan hal-hal baru dalam kehidupan pribadi dan
kehidupan sosialnya. Pada hakikatnya
masyarakat adalah terbaik, namun masyarakat yang demokratis merupakan
masyarakat terbaik dimana terdapat kesempatan untuk setiap pekerjaan dan dalam
demokrasi tidak mengenal adanya stratifikasi sosial. Kesamaan-kesamaan
merupakan jaminan bahwa setiap orang akan dapat mengambil bagian melaksanakan
segala aktivitas lembaga yang ia masuki. Penggunaan intelegensi secara
maksimal, berarti memberi kesempatan suatu pertumbuhan kepada individu secara
maksimal.
a.
Dari segi buku
Salah
satu perbedaan antara kurikulum 2013 dengan kurikulum sebelumnya adalah adanya
buku siswa dan buku guru yang telah disediakan oleh pemerintah pusat sebagai
buku wajib sumber belajar di sekolah. Peran guru sangat penting untuk
meningkatkan dan menyesuaikan daya serap peserta didik dengan ketersediaan
kegiatan pada buku siswa dan buku guru. Oleh karena itu guru perlu mencermati
buku guru maupun buku siswa yang disediakan pemerintah ini. Hal ini diperlukan
mengingat buku yang disediakan pemerintah ditujukan untuk keperluan skala
nasional. Padahal masing-masing sekolah memiliki karakteristik siswa
masing-masing. Dengan demikian, guru diharapkan mampu mencermati dan
menganalisis buku guru ataupun guru siswa, agar kekeliruan dan ketidaktepatan
buku yang disesuaikan dengan karakteristik siswa masing-masing sekolah telah
diketahui lebih awal.
b.
Dalam proses penyusunannya kurikulum 2013
disusun berlandaskan UUD 1945 dan Pancasila. Oleh karena itu idealnya segala
sesuatu yang termuat di dalam kurikulum 2013 akan mencerminkan nilai-nilai yang
terkandung di dalam UUD 1945 dan Pancasila salah satunya adalah sikap
demokratis. Namun apabila kita lihat faktanya di lapangan, belum secara
eksplisit dijelaskan mengenai relevansi UUD 1945 dan Pancasila sebagai landasan
filosofis kemana arah pendidikan.
2.
Pandangan terhadap
Matematika (Social activities)
Matematika
dipandang sebagai aktivitas sosial, artinya semua aktivitas sosial didasarkan
pada konsep-konsep matematika, sedangkan pada kenyataannya aktivitas sosial
yang dilakukan oleh seseorang tidak selalu dihubungkan dengan konsep
matematika, karena terkadang seseorang tidak menyadari bahwa matematika telah
mengambil bagian dalam setiap aktivitas yang dilakukan sehari-hari.
3.
Nilai Moral (Justice, freedom)
Seseorang
bebas melakukan segala sesuatu yang diinginkannya tanpa memandang baik atau
buruknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar