Senin, 23 Desember 2013

REFLEKSI PETA PENDIDIKAN DUNIA 1



Kelompok 1 Peta Pendidikan Dunia 1

PPs UNY Pendidikan Matematika Kelas C Tahun 2013
Melda Ariyanti                                    (137091251039)
Sardin                                                  (137091251053)
Khairuddin                                          (137091251055)
Harry Syafutera                                  (137091251056)
Muhammad Masruri Burhan               (137091251058)

LAPORAN KEGIATAN DISKUSI
Pertemuan 1
Hari, tanggal                 : Jum’at, 15 November 2013
Tempat                          : Ruang 103 Gedung Lama UNY
Pukul                             : 09.10 – 09.30 WIB
Agenda                         : -    Pembagian tugas
-          Pencarian referensi terkait judul
-          Penjadwalan untuk pertemuan selanjutnya

Pertemuan 2
Hari, tanggal                 : Minggu, 17 November 2013
Tempat                          : Kost Khairuddin, Samirono
Pukul                             : 13.30 – 16.00 WIB
Agenda                         : -    Tindak lanjut pertemuan ke 1
-          Diskusi materi peta pendidikan dunia 1
-          Mengkaji buku dari Paul Ernest tentang peta 1
-          Penjadwalan untuk pertemuan selanjutnya

Pertemuan 3
Hari, tanggal                 : Selasa, 19 November 2013
Tempat                          : Perpustakaan Pascasarjana UNY
Pukul                             : 10.00 – 11.30 WIB
Agenda                         : -    Diskusi materi peta pendidikan dunia 1

Pertemuan 4
Hari, tanggal                 : Kamis, 21 November 2013
Tempat                          : Ruang 106 Gedung lama Pascasarjana UNY
Pukul                             : 10.00 – 10.30 WIB
Agenda                         : -    Tahap penyelesaian laporan diskusi






Refleksi Ke 5
IMPLEMENTASI FILSAFAT DALAM PENDIDIKAN (MATEMATIKA):
Telaah Kurikulum 2013 Berdasar Peta Pendidikan Dunia I Karya Paul Ernest

Peta Pendidikan Dunia I

Industrial Trainer
Technological Pragmatist
Old Humanist
Progressive Educator
Public Educator
Politics
Radical right
Conservative
Conservative/ liberal
Liberal
Democracy
Mathematics
Body of Knowledge
Science of truth
Structure of truth
Process of Thinking
Social Activities
Moral Value
Good vs Bad
Pragmatism
Hierarkhies Paternalistics
Humanity
Justice, Freedom

Pembahasan:
Paul Ernest menyatakan bahwa dunia pendidikan terbagi berdasarkan ideologi yang mendasarinya. Terdapat setidaknya lima jenis ideology yaitu industrial trainer, technological pragmatist, old humanist, progressive educator dan public educator. Pandangan mengenai pembelajaran juga sangat terkait dengan pandangan mengenai ilmu yang dipelajari yang dalam hal ini adalah matematika. Perbedaan dalam memandang matematika menyebabkan perbedaan dalam membelajarkannya kepada siswa.

A.      Industrial Trainer
1.    Ideologi Politik (Radikal Right)
Perilaku warga negara yang tidak puas terhadap keadaan yang ada serta menginginkan perubahan yang cepat dan mendasar, tidak kenal kompromi dan tidak mengindahkan orang lain yang cenderung ingin menang sendiri.
2.    Pandangan terhadap Matematika
Matematika pada industrial trainer ini dipandang sebagai body of knowledge. Matematika sebagai ratu atau ibunya ilmu dimaksudkan matematika adalah sebagai sumber dari ilmu yang lain. Banyak ilmu-ilmu yang penemuan dan pengembangannya bergantung dari matematika. Sebagai contoh banyak teori-teori dan cabang-cabang dari Fisika dan Kimia Modern yang ditemukan dan dikembangkan melalui konsep kalkulus khusunya tentang persamaan diferensial, penemuan dan pengembangan teori Mendel dalam biologi melalui konsep probabilitas, teori ekonomi mengenai permintaan dan penawaran yang dikembangkan melalui konsep fungsi, dan kalkulus tentang diferensial dan integral.
3.    Nilai Moral (Good versus Bad)
Matematika adalah tunggal. Kebenaran dan kesalahan di dalam metematika bersifat absolut. Benar adalah benar, sedangkan salah adalah salah.



B.       Technological Pragmatist
1.      Ideologi Politik (Conservative)
Merupakan sikap dan perilaku politik yang tidak menginginkan adanya perubahan yang berarti (mendasar) dalam sebuah sistem. Sikap ini biasanya dianut oleh mereka yang tengah menikmati posisi istimewa atau kekuasaan dalam sebuah struktur atau paling tidak merasa sangat diuntungkan oleh sistem yang ada. Kaum konservatif cenderung mempertahankan dan melestarikan sistem yang sudah ada. Kalaupun mereka melakukan perubahan karena desakan dan dorongan oleh pihak luar, kaum konservatif hanya ingin perubahan itu tidak menggeser atau menghilangkan posisi mereka dalam kekuasaan. Perubahan hanya mungkin terjadi bila situasi sudah sangat krisis dan mendesak yang memaksa mereka harus turun dari posisi kekuasaan.
2.      Pandangan terhadap Matematika
Matematika dipandang sebagai Science of truth (Kebenaran Ilmu). Ukuran kebenaran ilmu adalah rasionalisme dan empirisme sehingga kebenaran ilmu bersifat empiris dan rasional. Sedangkan menurut Immanuel Kant, matematika merupakan cara berpikir logis yang salah atau benarnya dapat ditentukan tanpa mempelajari dunia empiris. Jadi menurut Immanuel Kant dalam pembelajaran matematika tidak penting adanya suatu pengalaman, yang terpenting adalah logika. Sesuatu hal dapat dibuktikan secara teoritis berdasarkan penalaran (logika) saja, tanpa perlu mengamati, melakukan, atau mengalaminya secara langsung.
Pada konsep ideal kurikulum 2013, pelaksanaan proses pembelajaran matematika di sekolah justru mengarahkan siswa untuk membuktikan sesuatu hal berdasarkan pengalaman langsung. Siswa diminta untuk melakukan percobaan secara langsung, kemudian melakukan pengamatan terhadap percobaan yang telah dilakukan, kemudian membuat sebuah kesimpulan atau pembuktian terhadap sesuatu hal yang diteliti. Dalam hal ini, siswa tidak hanya menggunakan logika (penalaran) dalam membuat sebuah kesimpulan atau pembuktian, namun siswa juga akan menggunakan pengalaman empirisnya. Dengan demikian, kebenaran yang akan diperoleh tidak hanya sesuai dengan teori yang ada, namun juga akan sesuai dengan keadaan nyata (pengalaman) yang telah dialami oleh siswa.
3.      Nilai Moral (Pragmatism)
Pragmatisme adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis. Dengan demikian, bukan kebenaran objektif dari pengetahuan yang penting melainkan bagaimana kegunaan praktis dari pengetahuan kepada individu-individu. Dasar dari pragmatisme adalah logika pengamatan, dimana apa yang ditampilkan pada manusia dalam dunia nyata merupakan fakta-fakta individual, konkrit, dan terpisah satu sama lain. Dunia ditampilkan apa adanya dan perbedaan diterima begitu saja. Representasi realitas yang muncul di pikiran manusia selalu bersifat pribadi dan bukan merupakan fakta-fakta umum. Ide menjadi benar ketika memiliki fungsi pelayanan dan kegunaan. Dengan demikian, filsafat pragmatisme tidak mau direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kebenaran, terlebih yang bersifat metafisik, sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan filsafat Barat di dalam sejarah.
C.      Old Humanist
1.      Ideologi Politik (Conservative/liberal)
Kaum old humanist, bukan humaniora, mengarahkan kuat pandangan yang berpusat pada diri manusia, bukan pada Tuhan. Artinya, aspek spiritual dinihilkan dalam hal ini.
2.      Pandangan terhadap Matematika
Matematika dipandang sebagai Structure of truth (Struktur kebenaran). Matematika mempelajari tentang pola, keteraturan, tentang struktur yang terorganisasikan. Hal itu dimulai dari unsur-unsur yang tidak terdefinisikan (undefined terms, basic terms, primitive terms) kemudian pada unsur yang didefinisikan, ke aksioma, atau postulat, dan akhirnya pada teorema. Konsep-konsep matematika tersusun secara hirearkis, terstruktur, logis, dan sistematis mulai dari konsep yang paling sederhana sampai pada konsep yang paling kompleks. Dalam matematika terdapat topik atau konsep prasyarat sebagai dasar untuk memahami topik atau konsep selanjutnya.
3.      Nilai Moral (Hierarkhies paternalistics)
Sistem kepemimpinan yang berdasarkan hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin, seperti hubungan antara ayah dan anak. Artinya nilai moral diajarkan oleh orang tua kepada anaknya. Hal ini memandang orang tua memiliki peran dalam menentukan moral anaknya.

D.      Progressive Educator
1.      Ideologi Politik (Liberal)
Sikap perilaku politik masyarakat yang berpikir bebas dan ingin maju terus. Menginginkan perubahan progresif dan cepat, berdasarkan hukum dan kekuatan legal untuk mencapai tujuan.
2.      Pandangan terhadap Matematika
Metematika dipandang sebagai Process of thinking (proses berpikir). Matematika lebih menekankan aktivitas dalam dunia rasio atau penalaran yang terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses, dan penalaran. Pada tahap awal, matematika terbentuk dari pengalaman manusia dalam dunianya secara empiris, kemudian pengalaman itu diproses dalam dunia rasio, diolah secara analisis dan sintesis dengan penalaran di dalam struktur kognitif sehingga sampailah pada suatu kesimpulan berupa konsep-konsep matematika.
Analisis dalam Kurikulum 2013
Sesuai dengan pendekatan yang digunakan dalam kurikulum 2013, yakni pendekatan scientific. Pendekatan ini lebih menekankan pada pembelajaran yang mengaktifkan siswa. Pendekatan ini dilaksanakan dengan melibatkan tiga model pembelajaran diantaranya adalah problem based learning, project based learning, dan discovery learning. Ketiga model ini akan menunjang how to do  yang difokuskan dalam kurikulum 2013. Dalam pelaksanaannya pendekatan scientific ini menekankan lima aspek penting, yaitu mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan komunikasi.
1.         Mengamati
Pada kurikulum 2013 metode ceramah tidak dilupakan, hanya dikurangi takarannya. Siswa dituntut aktif dalam segala masalah. Proses mengamati dalam pelajaran Fisika, Biologi, Kimia merupakan suatu proses belajar yang sering digunakan. Namun bagi mata pelajaran lain, guru dituntut harus paham materi sebelum menghadirkan siswa ke dunia nyata dengan mengamati sendiri semua fenomena yang terjadi yang berhubungan dengan materi pelajarannya.
2.         Menanya
Agar siswa merasa bertanya-tanya (rasa ingin tahu), seorang guru harus menyediakan pembelajaran yang menimbulkan masalah. Artinya guru harus mampu menyediakan kegiatan pembelajaran yang menarik yang dapat menimbulkan rasa ngin tahu siswa.
3.         Mencoba
Dalam pelaksanaan kurikulum 2013, siswa dituntut untuk mencoba sendiri, dan terlibat langsung dalam masalah yang dihadirkan guru. Dalam pembelajaran matematika misalnya, siswa diminta mencoba sendiri mencari data untuk disajikan dalam bentuk diagram, ataupun grafik. Data itu dapat diperoleh melalui pengukuran langsung, melalui wawancara, dan melalui pengamatan.
4.         Menalar
Siswa dituntut untuk dapat memahami dengan benar pokok materi yang diajarkan guru. Siswa akan mudah menalar suatu materi ajar apabila pelajaran yang diajarkan tidak memberatkan mereka.
5.         Komunikasi
Dalam proses mengkomunikasian semua permasalahan, siswa diminta mempresentasikan hasil kerja mereka. Kelima aspek dalam pelaksanaan kurikulum 2013 sangat berkaitan satu sama lain. Pada dasarnya, kelima aspek ini sudah pernah dilakukan oleh sebagian guru. namun pendalamannya dilakukan kembali di kurikulum 2013 untuk menyegarkan semangat pendidikan Indonesia.
Ebbut dan Stacker mendefinisikan matematika sekolah sebagai :
a.       Matematika merupakan kegiatan penelusuran pola dan hubungan
1)      Memberikan kesempatan siswa untuk melakukan kegiatan penemuan dan penyelidikan pola-pola untuk menentukan hubungan
2)      Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan percobaan dengan berbagai cara
3)      Mendorong siswa untuk menemukan adanya urutan, perbedaan, perbandingan, pengelompokan dan sebagainya
4)      Mendorong siswa menarik kesimpulan umum
5)      Membantu siswa memahami dan menemukan hubungan antara pengertian satu dengan lainnya.
b.      Matematika adalah kreativitas yang memerlukan imajinasi, intuisi dan penemuan
1)      Mendorong inisiatif dan memberikan kesempatan berpikir berbeda
2)      Mendorong rasa ingin tahu, keinginan bertanya, kemampuan menyanggah dan kemampuan memperkirakan
3)      Menghargai penemuan yang di luar perkiraan sebagai hal bermanfaat daripada menganggapnya sebagai kesalahan
4)      Mendorong siswa menghargai penemuan siswa yang lainnya
c.       Matematika adalah kegiatan problem solving
1)      Menyediakan lingkungan belajar matematika yang merangsang timbulnya persoalan matematika
2)      Membantu siswa memecahkan persoalan matematika menggunakan caranya sendiri
3)      Membantu siswa mengetahui informasi yang diperlukan untuk memecahkan persoalan matematika
4)      Mendorong siswa untuk berpikir logis, konsisten, sistematis dan mengembangkan sistem dokumentasi/catatan
d.      Matematika merupakan alat berkomunikasi
1)      Mendorong siswa mengenal sifat matematika
2)      Mendorong siswa membuat contoh sifat matematika
3.      Nilai Moral (Humanisty)
Pragmatisme mengemukakan pandangan tentang nilai, bahwa nilai itu relatif. Pragmatisme menyarankan untuk menguji kualitas nilai dengan cara yang sama seperti kita menguji kebenaran pengetahua dan harus mempertimbangkan perbuatan manusia dengan tidak memihak, dan secara ilmiah memiliki nilai-nilai yang tampaknya memungkinkan untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi manusia. Nilai-nilai itu tidak akan dipaksakan dan akan disetujui setelah diadakan diskusi secara terbuka. Nilai lahir dari keinginan, dorongan, dan perasaan serta kebiasaan manusia sesuai dengan watak sebagai kesatuan antara faktor biologis dan sosial dalam diri dan kepribadiannya. Nilai merupakan suatu realitas dalam kehidupan yang dapat dimengerti sebagai suatu wujud dalam perilaku manusia dan sebagai suatu pengetahuan serta sebagai suatu ide.
a.         Kurikulum 2013 bukan kurikulum yang berbasis kompetensi namun kurikulum yang berbasis karakter, hal ini sebagaimana disebutkan oleh Mohammad Nur bahwa "Karena pada praktiknya, kurikulum baru yang kita terapkan ini memang lebih menarik dibanding kurikulum yang lama. Pada kurikulum baru ini berbasis karakter, bukan kompetensi,". Karena tekanannya pada upaya pembentukan karakter, maka sistem penyajian mata pelajaran pada kurikulum baru tersebut secara terintegratif, sehingga semua jenis pelajaran diintegrasikan dengan nilai-nilai moral agama. Oleh karena itu, jam pelajaran agama pada kurikulum baru tersebut juga ditambah.
b.         Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dalam kurikulum 2013 adalah untuk membentuk sikap individu yang beriman, berakhlak mulia (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun), rasa ingin tahu, toleransi, gotong royong, kerjasama, dan musyawarah. Salah satu kegiatan yang disarankan dalam kurikulum 2013 adalah adanya kegiatan ekstrakurikuler seperti pramuka, PMI, OSIS, dan lain-lain yang pada akhirnya akan digunakan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, siswa telah mengetahui tata cara pertolongan pertama dari kegiatan PMI, sehingga pada saat ada orang yang mengalami kecelakaan siswa dapat menolongnya dengan pengetahuan pertolongan pertamanya. Contoh lainnya adalah kegiatan diskusi kelompok dalam kegiatan pembelajaran dapat meningkatkan rasa saling menghargai antar siswa.
E.       Public Educator
1.      Ideologi Politik (Democracy)
Pemerintahan yang demokratis memungkikan setiap warga negara tumbuh dan hidup melalui interaksi sosial yang memberikan tempat bersama dengan warga negara lainnya. Pendidikan harus membantu siswa menjadi warga negara yang demokratis, karena itu menurut public educator pendidikan hendaknya bertujuan menyediakan pengalaman untuk menemukan atau memecahkan hal-hal baru dalam kehidupan pribadi dan kehidupan sosialnya. Pada hakikatnya masyarakat adalah terbaik, namun masyarakat yang demokratis merupakan masyarakat terbaik dimana terdapat kesempatan untuk setiap pekerjaan dan dalam demokrasi tidak mengenal adanya stratifikasi sosial. Kesamaan-kesamaan merupakan jaminan bahwa setiap orang akan dapat mengambil bagian melaksanakan segala aktivitas lembaga yang ia masuki. Penggunaan intelegensi secara maksimal, berarti memberi kesempatan suatu pertumbuhan kepada individu secara maksimal.
a.         Dari segi buku
Salah satu perbedaan antara kurikulum 2013 dengan kurikulum sebelumnya adalah adanya buku siswa dan buku guru yang telah disediakan oleh pemerintah pusat sebagai buku wajib sumber belajar di sekolah. Peran guru sangat penting untuk meningkatkan dan menyesuaikan daya serap peserta didik dengan ketersediaan kegiatan pada buku siswa dan buku guru. Oleh karena itu guru perlu mencermati buku guru maupun buku siswa yang disediakan pemerintah ini. Hal ini diperlukan mengingat buku yang disediakan pemerintah ditujukan untuk keperluan skala nasional. Padahal masing-masing sekolah memiliki karakteristik siswa masing-masing. Dengan demikian, guru diharapkan mampu mencermati dan menganalisis buku guru ataupun guru siswa, agar kekeliruan dan ketidaktepatan buku yang disesuaikan dengan karakteristik siswa masing-masing sekolah telah diketahui lebih awal.
b.          Dalam proses penyusunannya kurikulum 2013 disusun berlandaskan UUD 1945 dan Pancasila. Oleh karena itu idealnya segala sesuatu yang termuat di dalam kurikulum 2013 akan mencerminkan nilai-nilai yang terkandung di dalam UUD 1945 dan Pancasila salah satunya adalah sikap demokratis. Namun apabila kita lihat faktanya di lapangan, belum secara eksplisit dijelaskan mengenai relevansi UUD 1945 dan Pancasila sebagai landasan filosofis kemana arah pendidikan.
2.      Pandangan terhadap Matematika (Social activities)
Matematika dipandang sebagai aktivitas sosial, artinya semua aktivitas sosial didasarkan pada konsep-konsep matematika, sedangkan pada kenyataannya aktivitas sosial yang dilakukan oleh seseorang tidak selalu dihubungkan dengan konsep matematika, karena terkadang seseorang tidak menyadari bahwa matematika telah mengambil bagian dalam setiap aktivitas yang dilakukan sehari-hari.
3.      Nilai Moral (Justice, freedom)
Seseorang bebas melakukan segala sesuatu yang diinginkannya tanpa memandang baik atau buruknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar