Senin, 10 Oktober 2016

ARTIKEL DARI BEBERAPA KAJIAN PENELITIAN TENTANG PROBLEM POSING



ARTIKEL DARI BEBERAPA KAJIAN PENELITIAN





Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Kajian Masalah-Masalah Pendidikan Matematika

Dosen pengampu: Dr. Djamilah Bondan Widjajanti




Description: Description: Description: Description: UNY.jpg




Disusun oleh:
Pendidikan Matematika Kelas C
Kelompok 3
Sardin                           (13709251053)
Khairuddin                             (13709251055)
Fauzia Rahmawati       (13709251062)




PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
2013


Problem Posing (Pengajuan Soal)

1.    Ali Mahmudi. (2008). Pembelajaran Problem Posing untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika (Makalah Disampaikan Pada Seminar Nasional Matematika FMIPA UNPAD Bekerjasama dengan Departemen Matematika UI. FMIPA UNPAD
Banyak ahli pendidikan telah merekomendasikan berbagai cara atau strategi peningkatan kemampuan pemecahan masalah. Salah satu cara atau strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah adalah problem posing. Problem posing merujuk pada pembuatan soal oleh siswa berdasarkan kriteria tertentu (Ali, 2008: 1). Problem posing dapat diartikan sebagai pembuatan soal oleh siswa yang dapat mereka pikirkan tanpa pembatasan apapun baik terkait isi maupun konteksnya. Selain itu, problem posing dapat juga diartikan sebagai pembentukan soal berdasarkan konteks, cerita, informasi, atau gambar yang diketahui. Pengertian problem posing tidak terbatas pada pembentukan soal yang betulbetul baru, tetapi dapat berarti mereformulasi soal-soal yang diberikan. Terdapat beberapa cara pembentukan soal baru dari soal yang diberikan, misalnya dengan mengubah atau menambah data atau informasi pada soal itu, misalnya mengubah bilangan, operasi, objek, syarat, atau konteksnya.
Selanjutnya, dalam makalah Ali (2008: 4 – 6) Silver & Cai (1996) mengklasifikasikan tiga aktivitas koginitif dalam pembuatan soal sebagai berikut:
1.    Pre-solution posing, yaitu pembuatan soal berdasarkan situasi atau informasi yang diberikan.
Contoh
Buatlah soal berdasarkan informasi berikut ini. Ali bermaksud membeli sebuah buku seharga Rp 10.000,00, tetapi ia hanya mempunyai Rp 6.000,00.

Soal-soal yang mungkin disusun siswa adalah sebagai berikut:
1.    Apakah Ali mempunyai cukup uang untuk membeli buku itu?
2.    Berapa rupiah lagi yang dibutuhkan Ali agar ia dapat membeli buku itu

2.    Within-solution posing, yaitu pembuatan atau formulasi soal yang sedang diselesaikan. Pembuatan soal demikian dimaksudkan sebagai penyederhanaan dari soal yang sedang diselesaikan. Dengan demikian, pembuatan soal demikian akan mendukung penyelesaian soal semula.
Contoh
Sebanyak 20.000 galon air diisikan ke kolam renang dengan kecepatan tetap. Setelah 4 jam pengisian, isi kolam renang tersebut menjadi 5/8-nya. Jika sebelum pengisian kolam tersebut telah berisi seperempatnya, berapakah kecepatan aliran air tersebut?

Soal-soal yang mungkin disusun siswa yang dapat mendukung penyelesaian soal tersebut adalah sebagai beirkut:
1.    Berapa galon air di kolam renang ketika kolam itu berisi seperempatnya? Berapa galon air di kolam renang ketika kolam renang itu bersisi 5/8-nya?
2.    Berapakah perubahan banyaknya air dalam kolam renang setelah 5 jam Pengisian?
3.    Berapakah rata-rata perubahan banyaknya air di kolam renang itu?
4.    Berapa waktu yang diperlukan untuk mengisi kolam renang tersebut sampai penuh
3.    Post-Solution Posing. Strategi ini juga disebut sebagai strategi “find a more challenging problem”. Siswa memodifikasi atau merevisi tujuan atau kondisi soal yang telah diselesaikan untuk menghasilkan soal-soal baru yang lebih menantang. Pembuatan soal demikian merujuk pada strategi “what-if-not …?” atau ”what happen if …”. Beberapa teknik yang dapat digunakan untuk membuat soal dengan strategi itu adalah sebagai berikut:
a.    Mengubah informasi atau data pada soal semula.
b.    Menambah informasi atau data pada soal semula.
c.    Mengubah nilai data yang diberikan, tetapi tetap mempertahankan kondisi atau situasi soal semula.
d.   Mengubah situasi atau kondisi soal semula, tetapi tetap mempertahankan data atau informasi yang ada pada soal semula.
Contoh
Luas persegi panjang dengan panjang 2 m dan lebar 4 m adalah 8 m2.

Soal-soal yang dapat disusun adalah sebagai berikut:
1.    Bagaimana jika lebarnya bukan 2 m tetapi 3 m? Bagaimana luasnya?
2.    Apa yang terjadi jika mengubah panjang dan lebarnya masing-masing menjadi dua kali? Apakah luasnya juga akan menjadi dua kali luas semula?
3.    Bagaimana jika kita mengubah panjangnya menjadi dua kali dan mengurangi lebarnya menjadi setengahnya? Apakah luasnya akan tetap?
4.    Tentukan panjang dan lebar suatu persegi panjang yang luasnya sama dengan dua kali luas persegi panjang semula.

Keterkaitan Pemecahan Masalah dan Problem Posing (Pengajuan Soal)
Dari hasil pembahasan dalam makalah Ali (2008: 8) diperoleh bahwa Keterkaitan antara kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan pembuatan soal. Ketika siswa membuat soal, siswa dituntut untuk memahami soal dengan baik siswa berusaha untuk dapat membuat perencanaan penyelesaian berupa pembuatan model matematika untuk kemudian menyelesaikannya. Berdasarkan penelitian terkini, pemberian tugas kepada siswa untuk membuat soal dapat meningkatkan kemampuan siswa memecahkan masalah dan sikap mereka terhadap matematika. problem posing dapat meningkatkan kemampuan berpikir, kemampuan memecahkan masalah, sikap serta kepercayaan diri siswa dalam menyelesaikan masalah dan secara umum berkontribusi terhadap pemahaman konsep matematika. Problem posing juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi pengetahuan, penalaran, dan perkembangan konseptual siswa serta dapat membantu siswa dalam mengembangkan keyakinan dan kesukaan terhadap matematika. Untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah dapat dilakukan dengan membuat soal atau merumuskan (memformulasikan) soal yang baru atau berasal dari soal-soal yang telah diselesaikannya.

Kesimpulan
Berbagai kajian analitis maupun hasil studi yang menunjukkan keterkaitan antara kemampuan pembuatan soal (problem posing) dan kemampuan pemecahan masalah dapat dijadikan dasar bagi guru untuk menerapkan problem posing dalam pembelajaran dalam rangka mengembangkan kemampuan pemecahan masalah. Pembelajaran demikian perlu dilakukan secara terus-menerus untuk memperoleh hasil optimal.
2.    Nandasari, Sugiatno, dan Mirza. (2013). Problem Posing Matematis Berbasis Modalitas Siswa Dalam Menyelesaikan Masalah Aritmatika Sosial di SMP. Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNTAN

Metode dalam Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan cara siswa melakukan problem posing matematis berbasis modalitas siswa dalam menyelesaikan masalah aritmatika sosial di kelas VII A SMP Negeri 7 Pontianak. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Bentuk penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Populasi atau subjek penelitian ini berjumlah 26 siswa dimana 14 siswa memiliki kecenderungan modalitas visual, 5 siswa memiliki kecenderungan modalitas auditorial, dan 17 siswa memiliki kecenderungan modalitas kinestetik. Subjek penelitian yang diambil dalam penelitian ini adalah 9 orang siswa kelas VII A SMP Negeri 7 Pontianak. Penentuan subjek penelitian dilakukan dengan mengambil 3 orang yang memiliki kecenderungan dari masing-masing kelompok modalitas visual, modalitas auditorial dan modalitas kinestetik berdasarkan hasil angket. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pengukuran dan teknik komunikasi langsung. Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket, soal tes, dan wawancara langsung. Sedangkan jawaban siswa dianalisis dengan memberikan skor pada jawaban siswa. Setelah itu diberikan kegiatan tindak lanjut berupa wawancara untuk mengetahui lebih jauh cara siswa dalam melakukan problem posing matematis berbasis modalitas siswa dalam menyelesaikan masalah aritmatika sosial.
Prosedur dalam penelitian ini meliputi: tahap pendahuluan dan tahap pelaksanaan. Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap pendahuluan, antara lain: (1) Melakukan pra riset di SMP N 7 Pontianak. (2) Menyiapkan instrument penelitian. (3) Melakukan validasi terhadap instrumen penelitian. (4) Uji Coba Soal. (5) Menentukan waktu penelitian. Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap pelaksanaan, antara lain: (1) Memberikan angket kepada subjek penelitian. (2) Memberikan skor dan menganalisis angket subjek. (3) Membagi siswa menjadi tiga kelompok yaitu siswa yang memiliki kecenderungan dengan modalitas visual, auditorial dan kinestetik. (4) Memilih tiga siswa dari masing-masing kelompok untuk diberikan tes. (5) Memberikan skor dan menganalisis jawaban siswa. (6) Memilih satu siswa dari masing-masing kelompok modalitas untuk diwawancarai. (7) Menyusun laporan.

Hasil Penelitian dan Pembahasan
Penelitian ini dilaksanakan di kelas VII A SMPN 7 Pontianak. Melalui teknik pengambilan subjek penelitian. Subjek penelitian yang diambil dalam penelitian ini adalah 9 orang siswa kelas VII A SMPN 7. Penentuan subjek penelitian dilakukan dengan mengambil 3 orang yang memiliki kecenderungan dari masing-masing kelompok modalitas visual yaitu, modalitas auditorial dan modalitas kinestetik berdasarkan hasil angket. Subjek tersebut yaitu AJ SL TR yang memiliki kecenderungan modalitas visual, RB SK TZ yang memiliki kecenderungan modalitas auditorial, DW PF SA yang memiliki kecenderungan modalitas kinestetik. Hasil angket dapat disajikan pada tabel  berikut ini.
Tabel 1 Data Hasil Angket No
Tipe Modalitas
Kode siswa
Jumlah siswa
1
Visual
AJ, DR, FD, FH, HS, IP, ID, JH, NU, PR, RM, SL, TR, TC
14
2
Auditorial
DS, FI, RB, SK, TZ
5
3
Kinestetik
AN, DW, FF, FS, GD, GW, HB, IM, KF, MA, NA, NR, PF, PT, RZ, SA, YF
17

Untuk mengetahui cara siswa melakukan problem posing berbasis modalitas yang dimilikinya dalam menyelesaikan masalah aritmatika sosial maka subjek penelitian diberikan 3 soal yang terdiri dari soal tipe visual, soal tipe auditorial dan soal tipe kinestetik. Ketiga tipe soal tersebut diberikan kepada subjek penelitian. Hasil jawaban subjek disajikan pada tabel  berikut ini.
No
Kode Siswa
Tipe Modalitas Berdasarkan Angket
Skor Siswa
Soal Tipe
Visual
Auditorial
Kinestetik
1
AJ
Visual
25
16
17
2
DW
Kinestetik
14
9
25
3
PF
Kinestetik
19
16
25
4
RB
Auditorial
15
21
12
5
SA
Kinestetik
13
8
25
6
SK
Auditorial
13
25
8
7
SL
Visual
25
19
10
8
TR
Visual
25
18
17
9
TZ
Auditorial
16
25
10
Selanjutnya diberikan wawancara sebagai kegiatan tindak lanjut setelah diberikan soal. Wawancara dilakukan pada 3 orang dari subjek penelitian yang diambil secara acak untuk mewakili modalitas visual, auditorial dan kinestetik. 3 orang dari subjek penelitian yang diwawancarai yaitu: SL yang mewakili modalitas visual, RB yang mewakili modalitas auditorial dan PF yang mewakili modalitas kinestetik. Wawancara pertama dilakukan dengan subjek yang memiliki modalitas visual yaitu subjek SL.
Berdasarkan hasil angket terlihat di dalam kelas VIIA SMPN 7 Pontianak terdapat siswa-siswa dengan modalitas yang berbeda-beda. Terdapat 14 siswa dengan modalitas visual, 5 siswa dengan modalitas auditorial dan 17 siswa dengan modalitas kinestetik. Berdasarkan hasil tes soal yang diberikan kepada 9 orang siswa yang memiliki modalitas visual, auditorial dan kinestetik berdasarkan hasil angket, menunjukkan bahwa modalitas yang dimiliki siswa tersebut menyertainya dalam melakukan problem posing. Untuk mempertegas hasil angket dan tes yang dikerjakan oleh siswa-siswa tersebut, sebagai kegiatan tindak lanjut maka peneliti memilih 3 siswa untuk diwawancarai.
Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa siswa dalam mengajukan pertanyaan dapat melakukannya dengan mudah ketika diberikan soal tes yang sesuai dengan modalitas yang dimilikinya. Selanjutnya dalam hal mengajukan pertanyaan, siswa-siswa tersebut merasa tertantang dan menyenangkan dapat menyalurkan kreatifitasnya dalam mengajukan pertanyaan yang mereka buat sendiri kemudian menjawabnya.

Keunggulan dan Keterbatasan dalam Penelitian ini
Melakukan problem posing merupakan suatu hal yang baru yang mereka lakukan dalam pembelajaran matematika. Sedangkan dengan membiasakan siswa melakukan problem posing dapat membatu siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikirnya. Dengan demikian membiasakan siswa melakukan problem posing dalam pembelajaran sangat membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan berfikirnya. Sehingga melakukan problem posing dalam pembelajaran matematika menjadi hal yang penting yang harus dilakukan oleh siswa. Selanjutnya dalam melakukan problem posing perlu disertai dengan informasi yang menunjang modalitas yang dimiliki siswa yang belajar.
Adapun keterbatasan dalam penelitian ini adalah berdasarkan hasil wawancara dengan guru matematika SMP Negeri 7 Pontianak diperoleh informasi bahwa dalam pembelajaran matematika, cenderung disajikan sesuai yang ada di dalam buku teks. Selain itu, hasil pengamatan peneliti terhadap beberapa buku teks yang umumnya dipakai guru dalam materi aritmatika sosial,cenderung kurang memuat sajian auditorial dan sajian yang berorientasi kepada kegiatan praktik. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pembelajaran matematika kurang memberdayakan modalitas yang dimiliki siswanya. Modalitas yang dimiliki siswa di dalam kelas beragam untuk itu pembelajaran tidak bisa dilakukan jika hanya disampaikan dengan satu cara. Selain itu, siswa juga sulit membuat pertanyaan pada soal tipe auditorial karena banyak kata-kata yang didiktekan yang terlewat didengar oleh siswa tersebut. Kemudian pada soal tipe kinestetik siswa SL kurang menyukai praktek oleh karena itu siswa tersebut sulit bernalar melalui praktek hal ini menyebabkan tidak banyak pertanyaan yang dapat dibuat.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, disimpulkan bahwa: (1) Problem posing matematis yang dilakukan oleh siswa berdasarkan modalitas visualnya dapat diberdayakannya untuk menyelesaikan masalah aritmatika sosial tipe visual. (2) Problem posing matematis yang dilakukan oleh siswa berdasarkan modalitas auditorialnya dapat diberdayakannya untuk menyelesaikan masalah aritmatika sosial tipe auditorial. (3) Problem posing matematis yang dilakukan oleh siswa berdasarkan modalitas kinestetik dapat diberdayakannya untuk menyelesaikan masalah aritmatika sosial tipe kinestetik.

Daftar Pustaka
Ali Mahmudi. (2008). Pembelajaran Problem Posing untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika (Makalah Disampaikan Pada Seminar Nasional Matematika FMIPA UNPAD Bekerjasama dengan Departemen Matematika UI. FMIPA UNPAD
Nandasari, Sugiatno, dan Mirza. (2013). Problem Posing Matematis Berbasis Modalitas Siswa Dalam Menyelesaikan Masalah Aritmatika Sosial di SMP. Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNTAN

ARTIKEL DARI BEBERAPA KAJIAN PENELITIAN TENTANG PROBLEM POSING



ARTIKEL DARI BEBERAPA KAJIAN PENELITIAN





Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Kajian Masalah-Masalah Pendidikan Matematika

Dosen pengampu: Dr. Djamilah Bondan Widjajanti




Description: Description: Description: Description: UNY.jpg




Disusun oleh:
Pendidikan Matematika Kelas C
Kelompok 3
Sardin                           (13709251053)
Khairuddin                             (13709251055)
Fauzia Rahmawati       (13709251062)




PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
2013


Problem Posing (Pengajuan Soal)

1.    Ali Mahmudi. (2008). Pembelajaran Problem Posing untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika (Makalah Disampaikan Pada Seminar Nasional Matematika FMIPA UNPAD Bekerjasama dengan Departemen Matematika UI. FMIPA UNPAD
Banyak ahli pendidikan telah merekomendasikan berbagai cara atau strategi peningkatan kemampuan pemecahan masalah. Salah satu cara atau strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah adalah problem posing. Problem posing merujuk pada pembuatan soal oleh siswa berdasarkan kriteria tertentu (Ali, 2008: 1). Problem posing dapat diartikan sebagai pembuatan soal oleh siswa yang dapat mereka pikirkan tanpa pembatasan apapun baik terkait isi maupun konteksnya. Selain itu, problem posing dapat juga diartikan sebagai pembentukan soal berdasarkan konteks, cerita, informasi, atau gambar yang diketahui. Pengertian problem posing tidak terbatas pada pembentukan soal yang betulbetul baru, tetapi dapat berarti mereformulasi soal-soal yang diberikan. Terdapat beberapa cara pembentukan soal baru dari soal yang diberikan, misalnya dengan mengubah atau menambah data atau informasi pada soal itu, misalnya mengubah bilangan, operasi, objek, syarat, atau konteksnya.
Selanjutnya, dalam makalah Ali (2008: 4 – 6) Silver & Cai (1996) mengklasifikasikan tiga aktivitas koginitif dalam pembuatan soal sebagai berikut:
1.    Pre-solution posing, yaitu pembuatan soal berdasarkan situasi atau informasi yang diberikan.
Contoh
Buatlah soal berdasarkan informasi berikut ini. Ali bermaksud membeli sebuah buku seharga Rp 10.000,00, tetapi ia hanya mempunyai Rp 6.000,00.

Soal-soal yang mungkin disusun siswa adalah sebagai berikut:
1.    Apakah Ali mempunyai cukup uang untuk membeli buku itu?
2.    Berapa rupiah lagi yang dibutuhkan Ali agar ia dapat membeli buku itu

2.    Within-solution posing, yaitu pembuatan atau formulasi soal yang sedang diselesaikan. Pembuatan soal demikian dimaksudkan sebagai penyederhanaan dari soal yang sedang diselesaikan. Dengan demikian, pembuatan soal demikian akan mendukung penyelesaian soal semula.
Contoh
Sebanyak 20.000 galon air diisikan ke kolam renang dengan kecepatan tetap. Setelah 4 jam pengisian, isi kolam renang tersebut menjadi 5/8-nya. Jika sebelum pengisian kolam tersebut telah berisi seperempatnya, berapakah kecepatan aliran air tersebut?

Soal-soal yang mungkin disusun siswa yang dapat mendukung penyelesaian soal tersebut adalah sebagai beirkut:
1.    Berapa galon air di kolam renang ketika kolam itu berisi seperempatnya? Berapa galon air di kolam renang ketika kolam renang itu bersisi 5/8-nya?
2.    Berapakah perubahan banyaknya air dalam kolam renang setelah 5 jam Pengisian?
3.    Berapakah rata-rata perubahan banyaknya air di kolam renang itu?
4.    Berapa waktu yang diperlukan untuk mengisi kolam renang tersebut sampai penuh
3.    Post-Solution Posing. Strategi ini juga disebut sebagai strategi “find a more challenging problem”. Siswa memodifikasi atau merevisi tujuan atau kondisi soal yang telah diselesaikan untuk menghasilkan soal-soal baru yang lebih menantang. Pembuatan soal demikian merujuk pada strategi “what-if-not …?” atau ”what happen if …”. Beberapa teknik yang dapat digunakan untuk membuat soal dengan strategi itu adalah sebagai berikut:
a.    Mengubah informasi atau data pada soal semula.
b.    Menambah informasi atau data pada soal semula.
c.    Mengubah nilai data yang diberikan, tetapi tetap mempertahankan kondisi atau situasi soal semula.
d.   Mengubah situasi atau kondisi soal semula, tetapi tetap mempertahankan data atau informasi yang ada pada soal semula.
Contoh
Luas persegi panjang dengan panjang 2 m dan lebar 4 m adalah 8 m2.

Soal-soal yang dapat disusun adalah sebagai berikut:
1.    Bagaimana jika lebarnya bukan 2 m tetapi 3 m? Bagaimana luasnya?
2.    Apa yang terjadi jika mengubah panjang dan lebarnya masing-masing menjadi dua kali? Apakah luasnya juga akan menjadi dua kali luas semula?
3.    Bagaimana jika kita mengubah panjangnya menjadi dua kali dan mengurangi lebarnya menjadi setengahnya? Apakah luasnya akan tetap?
4.    Tentukan panjang dan lebar suatu persegi panjang yang luasnya sama dengan dua kali luas persegi panjang semula.

Keterkaitan Pemecahan Masalah dan Problem Posing (Pengajuan Soal)
Dari hasil pembahasan dalam makalah Ali (2008: 8) diperoleh bahwa Keterkaitan antara kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan pembuatan soal. Ketika siswa membuat soal, siswa dituntut untuk memahami soal dengan baik siswa berusaha untuk dapat membuat perencanaan penyelesaian berupa pembuatan model matematika untuk kemudian menyelesaikannya. Berdasarkan penelitian terkini, pemberian tugas kepada siswa untuk membuat soal dapat meningkatkan kemampuan siswa memecahkan masalah dan sikap mereka terhadap matematika. problem posing dapat meningkatkan kemampuan berpikir, kemampuan memecahkan masalah, sikap serta kepercayaan diri siswa dalam menyelesaikan masalah dan secara umum berkontribusi terhadap pemahaman konsep matematika. Problem posing juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi pengetahuan, penalaran, dan perkembangan konseptual siswa serta dapat membantu siswa dalam mengembangkan keyakinan dan kesukaan terhadap matematika. Untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah dapat dilakukan dengan membuat soal atau merumuskan (memformulasikan) soal yang baru atau berasal dari soal-soal yang telah diselesaikannya.

Kesimpulan
Berbagai kajian analitis maupun hasil studi yang menunjukkan keterkaitan antara kemampuan pembuatan soal (problem posing) dan kemampuan pemecahan masalah dapat dijadikan dasar bagi guru untuk menerapkan problem posing dalam pembelajaran dalam rangka mengembangkan kemampuan pemecahan masalah. Pembelajaran demikian perlu dilakukan secara terus-menerus untuk memperoleh hasil optimal.
2.    Nandasari, Sugiatno, dan Mirza. (2013). Problem Posing Matematis Berbasis Modalitas Siswa Dalam Menyelesaikan Masalah Aritmatika Sosial di SMP. Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNTAN

Metode dalam Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan cara siswa melakukan problem posing matematis berbasis modalitas siswa dalam menyelesaikan masalah aritmatika sosial di kelas VII A SMP Negeri 7 Pontianak. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Bentuk penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Populasi atau subjek penelitian ini berjumlah 26 siswa dimana 14 siswa memiliki kecenderungan modalitas visual, 5 siswa memiliki kecenderungan modalitas auditorial, dan 17 siswa memiliki kecenderungan modalitas kinestetik. Subjek penelitian yang diambil dalam penelitian ini adalah 9 orang siswa kelas VII A SMP Negeri 7 Pontianak. Penentuan subjek penelitian dilakukan dengan mengambil 3 orang yang memiliki kecenderungan dari masing-masing kelompok modalitas visual, modalitas auditorial dan modalitas kinestetik berdasarkan hasil angket. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pengukuran dan teknik komunikasi langsung. Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket, soal tes, dan wawancara langsung. Sedangkan jawaban siswa dianalisis dengan memberikan skor pada jawaban siswa. Setelah itu diberikan kegiatan tindak lanjut berupa wawancara untuk mengetahui lebih jauh cara siswa dalam melakukan problem posing matematis berbasis modalitas siswa dalam menyelesaikan masalah aritmatika sosial.
Prosedur dalam penelitian ini meliputi: tahap pendahuluan dan tahap pelaksanaan. Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap pendahuluan, antara lain: (1) Melakukan pra riset di SMP N 7 Pontianak. (2) Menyiapkan instrument penelitian. (3) Melakukan validasi terhadap instrumen penelitian. (4) Uji Coba Soal. (5) Menentukan waktu penelitian. Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap pelaksanaan, antara lain: (1) Memberikan angket kepada subjek penelitian. (2) Memberikan skor dan menganalisis angket subjek. (3) Membagi siswa menjadi tiga kelompok yaitu siswa yang memiliki kecenderungan dengan modalitas visual, auditorial dan kinestetik. (4) Memilih tiga siswa dari masing-masing kelompok untuk diberikan tes. (5) Memberikan skor dan menganalisis jawaban siswa. (6) Memilih satu siswa dari masing-masing kelompok modalitas untuk diwawancarai. (7) Menyusun laporan.

Hasil Penelitian dan Pembahasan
Penelitian ini dilaksanakan di kelas VII A SMPN 7 Pontianak. Melalui teknik pengambilan subjek penelitian. Subjek penelitian yang diambil dalam penelitian ini adalah 9 orang siswa kelas VII A SMPN 7. Penentuan subjek penelitian dilakukan dengan mengambil 3 orang yang memiliki kecenderungan dari masing-masing kelompok modalitas visual yaitu, modalitas auditorial dan modalitas kinestetik berdasarkan hasil angket. Subjek tersebut yaitu AJ SL TR yang memiliki kecenderungan modalitas visual, RB SK TZ yang memiliki kecenderungan modalitas auditorial, DW PF SA yang memiliki kecenderungan modalitas kinestetik. Hasil angket dapat disajikan pada tabel  berikut ini.
Tabel 1 Data Hasil Angket No
Tipe Modalitas
Kode siswa
Jumlah siswa
1
Visual
AJ, DR, FD, FH, HS, IP, ID, JH, NU, PR, RM, SL, TR, TC
14
2
Auditorial
DS, FI, RB, SK, TZ
5
3
Kinestetik
AN, DW, FF, FS, GD, GW, HB, IM, KF, MA, NA, NR, PF, PT, RZ, SA, YF
17

Untuk mengetahui cara siswa melakukan problem posing berbasis modalitas yang dimilikinya dalam menyelesaikan masalah aritmatika sosial maka subjek penelitian diberikan 3 soal yang terdiri dari soal tipe visual, soal tipe auditorial dan soal tipe kinestetik. Ketiga tipe soal tersebut diberikan kepada subjek penelitian. Hasil jawaban subjek disajikan pada tabel  berikut ini.
No
Kode Siswa
Tipe Modalitas Berdasarkan Angket
Skor Siswa
Soal Tipe
Visual
Auditorial
Kinestetik
1
AJ
Visual
25
16
17
2
DW
Kinestetik
14
9
25
3
PF
Kinestetik
19
16
25
4
RB
Auditorial
15
21
12
5
SA
Kinestetik
13
8
25
6
SK
Auditorial
13
25
8
7
SL
Visual
25
19
10
8
TR
Visual
25
18
17
9
TZ
Auditorial
16
25
10
Selanjutnya diberikan wawancara sebagai kegiatan tindak lanjut setelah diberikan soal. Wawancara dilakukan pada 3 orang dari subjek penelitian yang diambil secara acak untuk mewakili modalitas visual, auditorial dan kinestetik. 3 orang dari subjek penelitian yang diwawancarai yaitu: SL yang mewakili modalitas visual, RB yang mewakili modalitas auditorial dan PF yang mewakili modalitas kinestetik. Wawancara pertama dilakukan dengan subjek yang memiliki modalitas visual yaitu subjek SL.
Berdasarkan hasil angket terlihat di dalam kelas VIIA SMPN 7 Pontianak terdapat siswa-siswa dengan modalitas yang berbeda-beda. Terdapat 14 siswa dengan modalitas visual, 5 siswa dengan modalitas auditorial dan 17 siswa dengan modalitas kinestetik. Berdasarkan hasil tes soal yang diberikan kepada 9 orang siswa yang memiliki modalitas visual, auditorial dan kinestetik berdasarkan hasil angket, menunjukkan bahwa modalitas yang dimiliki siswa tersebut menyertainya dalam melakukan problem posing. Untuk mempertegas hasil angket dan tes yang dikerjakan oleh siswa-siswa tersebut, sebagai kegiatan tindak lanjut maka peneliti memilih 3 siswa untuk diwawancarai.
Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa siswa dalam mengajukan pertanyaan dapat melakukannya dengan mudah ketika diberikan soal tes yang sesuai dengan modalitas yang dimilikinya. Selanjutnya dalam hal mengajukan pertanyaan, siswa-siswa tersebut merasa tertantang dan menyenangkan dapat menyalurkan kreatifitasnya dalam mengajukan pertanyaan yang mereka buat sendiri kemudian menjawabnya.

Keunggulan dan Keterbatasan dalam Penelitian ini
Melakukan problem posing merupakan suatu hal yang baru yang mereka lakukan dalam pembelajaran matematika. Sedangkan dengan membiasakan siswa melakukan problem posing dapat membatu siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikirnya. Dengan demikian membiasakan siswa melakukan problem posing dalam pembelajaran sangat membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan berfikirnya. Sehingga melakukan problem posing dalam pembelajaran matematika menjadi hal yang penting yang harus dilakukan oleh siswa. Selanjutnya dalam melakukan problem posing perlu disertai dengan informasi yang menunjang modalitas yang dimiliki siswa yang belajar.
Adapun keterbatasan dalam penelitian ini adalah berdasarkan hasil wawancara dengan guru matematika SMP Negeri 7 Pontianak diperoleh informasi bahwa dalam pembelajaran matematika, cenderung disajikan sesuai yang ada di dalam buku teks. Selain itu, hasil pengamatan peneliti terhadap beberapa buku teks yang umumnya dipakai guru dalam materi aritmatika sosial,cenderung kurang memuat sajian auditorial dan sajian yang berorientasi kepada kegiatan praktik. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pembelajaran matematika kurang memberdayakan modalitas yang dimiliki siswanya. Modalitas yang dimiliki siswa di dalam kelas beragam untuk itu pembelajaran tidak bisa dilakukan jika hanya disampaikan dengan satu cara. Selain itu, siswa juga sulit membuat pertanyaan pada soal tipe auditorial karena banyak kata-kata yang didiktekan yang terlewat didengar oleh siswa tersebut. Kemudian pada soal tipe kinestetik siswa SL kurang menyukai praktek oleh karena itu siswa tersebut sulit bernalar melalui praktek hal ini menyebabkan tidak banyak pertanyaan yang dapat dibuat.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, disimpulkan bahwa: (1) Problem posing matematis yang dilakukan oleh siswa berdasarkan modalitas visualnya dapat diberdayakannya untuk menyelesaikan masalah aritmatika sosial tipe visual. (2) Problem posing matematis yang dilakukan oleh siswa berdasarkan modalitas auditorialnya dapat diberdayakannya untuk menyelesaikan masalah aritmatika sosial tipe auditorial. (3) Problem posing matematis yang dilakukan oleh siswa berdasarkan modalitas kinestetik dapat diberdayakannya untuk menyelesaikan masalah aritmatika sosial tipe kinestetik.

Daftar Pustaka
Ali Mahmudi. (2008). Pembelajaran Problem Posing untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika (Makalah Disampaikan Pada Seminar Nasional Matematika FMIPA UNPAD Bekerjasama dengan Departemen Matematika UI. FMIPA UNPAD
Nandasari, Sugiatno, dan Mirza. (2013). Problem Posing Matematis Berbasis Modalitas Siswa Dalam Menyelesaikan Masalah Aritmatika Sosial di SMP. Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNTAN