Senin, 23 Desember 2013

ALIRAN FILSAFAT



            Filsafat ialah ilmu yang mempelajari dari segala hal tentang ilmu pengetahuan yang ada dan tidak ada. Yang sebelumnya belum ada menjadi ada, Ilmu filsafat adalah ilmu yang istimewa karena berusaha menjawab dari semua permasalahan yang dialami oleh umat manusia. Mempelajari ilmu dalam filsafat sangatlah bermanfaat karena dengan mempelajari ilmu filsafat kita sebagai manusia berusaha menjadi pencipta ilmu pengetahuan. Menurut kajian filasafat ilmu dibagi menjadi 2 yakni ilmu yang memeplajari tentang ke alam an (Kosmologi) dan ilmu yang mempelajari tentang manusia (Humanologi). Jika ilmu kita anggap bergerak keatas maka ilmu dunia kita naikan manjadi ilmu spiritual, tetapi spiritual tidak cukup di ilmukan, jika digeser lagi maka ilmu spiritual menjadi ilmu hati.
            Awal mula filsafat bahwa Pada saat manusia berpikir tentang keadaan alam, dunia, manusia dan lingkungannya, manusia pada saat itu ingin mengetahui lebih jauh tentang masalah-masalah yang rumit itu sehingga mereka sering berpikir dan berdiskusi tentang masalah tersebut, mereka tidak ingin cuma bergantung pada agama dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam benak mereka tapi mereka ingin menjawabnya sendiri tanpa menggunakan ajaran agama.
            Berangkat dari sesuatu yang diyakini ada yang dibuktikan dengan keberadaan para filsuf itu  kemudian lahir pemikiran-pemikiran, yang merupakan aliran dalam filsafat.

1.      Parmenides (540 - 475 SM)

Parmenides (540 - 475 SM), ia lahir di kota Elea, kota perantauan Yunani di Italia Selatan. Kebesarannya sama dengan kebesaran Heraclitus. Dialah yang pertama kali memikirkan tentang hakikat tentang ada (being). Menurut penuturan Plato, pada usia 65 tahun bersama Zeno mengunjungi ke Athena untuk berdialog dengan Socrates yang masa itu Socrates masih muda. Karya-karyanya berbentuk puisi. Menurut pendapatnya, apa yang disebut sebagai realitas adalah bukan gerak dan perubahan. Hal ini berbeda dengan pendapat Heraclitus, yaitu bahwa realitas adalah gerak dan perubahan. Ia kagum adanya misteri segala realitas yang ada. Di situ ia menemukan berbagai (keanekaragaman) kenyataan, dan ditemukan pula adanya hal yang tetap dan berlaku secara umum. Sesuatu yang tetap dan berlaku umum itu tidak dapat ditangkap melalui indera, akan tetapi dapat ditangkap lewat pikiran dan akal. Untuk memunculkan realitas tersebut hanya dengan berpikir. Yang ada (being) itu ada, yang tidak dapat hilang menjadi tidak ada, dan yang tidak ada tidak mungkin muncul menjadi ada, yang tidak ada adalah tidak ada, sehingga tidak dapat dipikirkan. Yang dapat dipikirkan hanyalah yang ada saja, yang tidak ada tidak dapat dipikirkan. Jadi, yang ada (being) itu satu, umum, tetap, dan tidak dapat dibagi-bagi. Karena membagi yang ada akan menimbulkan atau melahirkan banyak yang ada, dan itu tidak mungkin. Yang ada tidak dijadikan dan tidak dapat musnah. Tidak ada kekuatan apa pun yang dapat menandingi yang ada. Tidak ada sesuatu pun yang dapat ditambahkan atau mengurangi terhadap yang ada. Kesempurnaan yang ada digambarkan, sebuah bola yang jaraknya dari pusat ke permukaan semuanya sama. Yang ada di segala tempat, oleh karenanya tidak ada ruangan yang kosong maka di luar yang ada masih ada sesuatu yang lain.

2.      Heraclitos (540-480 SM)

Heraclitos (540-480 SM),  sangat terkenal, ia mempunyai watak tidak mengenal kompromi dan sangat ektrim dalam menentang demokrasi, dia sangat bebas dalam mengemukakan pendapatnya terutama dalam hal mencelah orang lain, seperti phytagoras, Arkhilokhes, dan lain-lain.
Heraklitos selalu mempunyai pandangan sendiri dan dia tertarik pada masalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam alam. Heraklitos sangat berpengaruh oleh kenyataan bahwa ala mini mengalami perubahan terus menerus, sehingga terjadi pluralitas dalam ala mini.
Menurut heraklitos tidak ada satupun dalam alam ini bersifat tetap atau permanen apa yang kelihatannya tetap sebenarnya ia berada didalam proses perubahan yang tiada henti-hentinya.adapun ucapan heraklitos yang sangat terkenal yang menggambarkan filsafatnya adalah “semuanya mengali dan tidak ada satupun yang tinggal menetap”. Engkau tidak bisa turun dua kali kedalam sungai yang sama. Matahari adalah baru setiap hari.
Menurut heraklitos dunia ini tidak dijadikan oleh siapapun juga. Ia ada selama-lamanya. Ia sebagai api yang hidup selalu yang menyala dan padam secara berganti-ganti, perjalanan dunia ini senantiasa beredar dan tidak berhenti tidak bermula dan tidak berkesudahan. Dunia senantiasa bergerak, sebab ia mengandung hukumnya, logosnya dalam dirinya sendiri sebab itu kemajuan berlaku menurut irama yang tetap (Juhaya S. Pradja, 2002:56)
Dunia adalah tempat yang senantias bergerak, tempat kemajuan yang tidak berkeputusan. Yang baru itu mendapatkan tempatnya dengan menghancurkan dan menewaskan yang lama. Dunia ini medan perjuangan yang tidak berkeputusan dua aliran yang bertentangan. Semua benda yang nisbi segala keadaan yang sementara adalah akibat yang berturut-turut dari suatu gerakan yang maha besar “perjuangan itu adalah bapak dari segalanya, raja dari segalanya tetapi segalah perubahan dikuasai oleh hokum dunia yang satu yakni logosnya, logos artinya pikiran yang benar dari situ muncul logika.

3.      Plato (427-347 SM)

Plato (427-347 SM) menurut pemikiran filsafat nya yakni, dunia lahir adalah dunia pengalaman yang selalu berubah-ubah dan berwarna warni. Semua itu adalah bayangan dari  dunia idea. Sebagai bayangan hakikatnya hanyalah tiruan dari yang asli yaitu ide. Oleh karena itu dunia pengalaman ini berubah-ubah dan bermacam-macam sebab hanyalah merupakan tiruan yang tidak sempurna dari idea yang sifatnya bagi dunia pengalaman. Barang-barang yang ada didunia ini semua ada contohnyayang ideal di dunia idea.
Keadaan ide bertingkat-tingkat. Tingkat idea yang tertinggi adalah idea kebaikan. Dibawahnya ide jiwa dunia, yang menggerakan dunia. Berikutnya idea keindahan yang menimbulkan seni, ilmu, pendidikan dan politik. (Ahmad Syadhali. 2004:70)
Dengan demikian bahwa kebenaran umum itu telah ada bukan dibuat-buat melainkan sudah ada dalam idea.manusia dulu berada dalam dunia idea bersama-sama dengan idea-idea lainnya dan mengenalinya.
Gagasan plato tentang alam idea telah membuka filsafat berikutnya tentang etika plato.etika palto bersifat rasional dan mencerminkan intelektualitas yang tinggi. Orang yang berpengetahuan dengan sendirinya berbudi baik. Oleh sebab itu sempurnakanlah pengetahuannmu dengan pengertian.



4.      Aristoteles (384-322 SM)
Filsafat Aristoteles berkembang dalam tiga tahapan yang pertama ketika dia masih belajar di Akademi Plato ketika gagasannya masih dekat dengan gurunya tersebut, kemudian ketika dia mengungsi, dan terakhir pada waktu ia memimpin Lyceum mencakup enam karya tulisnya yang membahas masalah logika, yang dianggap sebagai karya-karyanya yang paling penting, selain kontribusinya di bidang Metafisika, Fisika, Etika, Politik, Ilmu Kedokteran, Ilmu Alam dan karya seni. Di bidang ilmu alam, ia merupakan orang pertama yang mengumpulkan dan mengklasifikasikan spesies-spesies biologi secara sistematis.Karyanya ini menggambarkan kecenderungannya akan analisis kritis, dan pencarian terhadap hukum alam dan keseimbangan pada alam. Berlawanan dengan Plato yang menyatakan teori tentang bentuk-bentuk ideal benda, Aristoteles menjelaskan bahwa materi tidak mungkin tanpa bentuk karena ia ada (eksis). Pemikiran lainnya adalah tentang gerak dimana dikatakan semua benda bergerak menuju satu tujuan, sebuah pendapat yang dikatakan bercorak teleologis. Karena benda tidak dapat bergerak dengan sendirinya maka harus ada penggerak dimana penggerak itu harus mempunyai penggerak lainnya hingga tiba pada penggerak pertama yang tak bergerak yang kemudian disebut dengan theos, yaitu yang dalam pengertian Bahasa Yunani sekarang dianggap berarti Tuhan.  LogikaAristoteles adalah suatu sistem berpikir deduktif (deductive reasoning), yang bahkan sampai saat ini masih dianggap sebagai dasar dari setiap pelajaran tentang logika formal.Meskipun demikian, dalam penelitian ilmiahnya ia menyadari pula pentingnya observasi, eksperimen dan berpikir induktif (inductive thinking).
5.      Rene Decrates (1596-1650)
Rene Descartes (1596-1650) dikenal sebagai bapak filsafat modern, karena lewat pemikiran Descartes ilmu pengetahuan jadi seperti sekarang. orang pertama diakhir abad pertengahan yang menyusun argumentasi yang kuat, yang distinct, yang menyimpulkan bahwa dasar Filsafat harus akal (ratio), bukan perasaan, bukan iman, bukan ayat suci, bukan yang lainnya.  Sebagai seorang filsuf, Descartes memiliki konsep sendiri tentang pengetahuan. Menurut beliau pengetahuan adalah keyakinan yang yang berdasarkan pada sebuah alasan yang kuat yang tidak bisa digoyahkan oleh alasan lain yang muncul kemudian. Metode yang digunakannya adalah meragukan semua pengetahuan yang ada. Hal ini terlihat pada bukunya yang berjudul Meditations dimana ia menempatkan keraguan sebagai renungan pertama. Descartes menyandarkan keraguannya pada semua kepercayaan yang ada dalam dirinya pada sebuah alasan, yaitu keyakinan yang tidak bisa digoyahkan, keyakinan yang nyata yang diketahui oleh orang umum yang biasa digunakan dalam prinsip matematika. Walaupun saya dalam keadaan sadar ataupun bermimpi, dua ditambah tiga hasilnya tetap lima. Oleh karena itu, Descartes meminta kita untuk berimajinasi sebuah jiwa yang memiliki kekuatan dan kemampuan yang menyebabkan kita merasakan pengalaman yang kita miliki dan semua keyakinan yang berkaitan dengannya.
Menurut Descartes, pengetahuan adalah sesuatu yang tidak ada lagi keraguan di dalamnya. Metode yang digunakannya adalah meragukan semua pengetahuan yang ada hingga ia mendapatkan kesimpulan bahwa ada tiga pengetahuan yang bisa diragukan, yaitu:
  • Pengetahuan yang berasal dari pengalaman inderawi. Contohnya kayu lurus yang dimasukkan ke dalam air maka akan kelihatan bengkok.
  • Fakta umum tentang dunia seperti api itu panas dan benda yang berat akan jatuh. Ia juga menyatakan bahwa mimpi yang berulang kali bisa memberikan pengetahuan tentang sesuatu.
  • Prinsip-prinsip logika dan matematika. Ia menyatakan bagaimana jika ada seorang makhluk yang bisa memasukkan ilusi ke dalam pikiran kita, dengan kata lain kita berada dalam suatu matrix.
Menurut Decrates, eksistensi pikiran manusia adalah sesuatu yang absolut dan tidak dapat diragukan. Sebab meskipun pemikirannya tentang sesuatu salah, pikirannya tertipu oleh suatu matriks, ia ragu akan segalanya. Oleh karena itu tidak dapat diragukan lagi jika pikiran itu eksis. Sedangkan pikiran menurut Descartes adalah suatu benda berpikir yang bersifat mental, bukan bersifat fisik atau material. Dari prinsip awal bahwa pikiran itu ada, Descrates melanjutkan penyelidikan filsafatnya untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada.
6.      David Hume (1711-1776 M)
Aliran empirisme dibangun pada abad ke-17 yang muncul setelah lahirnya aliran rasionalisme. Bahkan aliran empirisme bertolak belakang dengan aliran rasionalisme. Menurut paham empirisme bahwa pegetahuan bukan hanya didasarkan pada rasio belaka, di inggris. Konsep mengenai filsafat empirisme muncul pada abad modern yang lahir karena adanya upaya keluar dari kekangan pemikiran kaum agamawan di zaman skolastik. Descartes adalah salah seorang yang berjasa dalam membangun landasan pemikiran baru di dunia barat. Descartes menawarkan sebuah prosedur yang disebut keraguan metodis universal dimana keraguan ini bukan menunjuk kepada kebingungan yang berkepanjangan, tetapi akan berakhir ketika lahir kesadaran akan eksisitensi diri yang dia katakan dengan cogito ergo sum yang artinya saya berpikir, maka saya ada. .Teori pengetahuan yang dikembangkan Descartes dikenal dengan rasionalisme karena alur pikir yang dikemukakan Rene Descartes bermuara kepada kekuatan rasio manusia. Sebagai reaksi dari pemikiran rasionalisme Descartes inilah muncul para filosof yang berkembang kemudian yang bertolak belakang dengan Descartes yang menganggap bahwa pengetahuan itu bersumber pada pengalaman atau empirisme. Mereka inilah yang disebut sebagai kaum empirisme, di antaranya yaitu John Locke, Thomas Hobbes, George Barkeley, dan David Hume.
7.      Immanuel Kant (1724-1804)
Seorang filsuf besar pada abad pencerahan. Ia menunjukkan jalan terbuka dalam membangun suatu proses subyektif dan obyektif pengetahuan agar pengetahuan tidak menjadi buta dan berat sebelah. Bagi Kant ilmu pengetahuan dalam bekerja harus memenuhi syarat obyektif maupun subyektif (Awuy, 1993).
Kant mengubah wajah filsafat secara radikal dengan titik sentral manusia sebagai subjek berpikir terinspirasi dari Copernican Revolution yakni revolusi pemikiran yang dilakukan Kant dalam mencari sumber pengetahuan pada diri manusia, khususnya mengenai fenomena yang mementingkan kesadaran subjek yang kemudian melahirkan idealisme yang memuncak pada Hegel. Juga mengenai apriori telah melahirkan sentralitas subjek sebagai penentu kebenaran sebuah pengetahuan.
Dengan revolusi ini, filsafat Kant tidak dimulai dengan penyelidikan benda sebagai objek, tetapi dengan menyelidiki struktur-struktur subyek yang memungkinkan benda-benda diketahui sebagai obyek. Dulunya para filsuf mencoba memahami pengenalan dengan mengandaikan bahwa subyek mengarahkan diri kepada obyek (Dister, 1992).
Immanuel Kant, seorang mekanis dan abstrak yang humanis termasuk salah seorang filsuf besar pada abad ke 18 memberi pencerahan dengan filsafat kritisisme yang mendobrak dogmatism, mendamaikan pertentangan dua aliran rasionalisme dan empirisme, menghidupkan metafisika yang berbeda dengan metafisika tradisional
8.      August Comte (1789-1857)
Pemikiran brilian Comte mulai terajut menjadi suatu aliran pemikiran yang baru dalam karya-karya filsafat yang tumbuh lebih dulu. Comte dengan kesadaran penuh menyadari bahwa akal budi manusia terbatas, mencoba mengatasi dengan membentuk ilmu pengetahuan yang berasumsi dasar pada persepsi dan penyelidikan ilmiah. Auguste Comte memperkenalkan pengetahuan filsafat ilmu yang baru (epistimologi baru) yang menjembatani antara rasionalisme Descartes dan emperisme Paris Bacon (Wibisono, 1983), ia juga mendirikan aliran filsafat yang di sebut sebagi aliran Positivisme yang artinya menepatkan akal (rasio) pada tempat yang sangat penting, beliau juga mendapat julukan Bapak Positivisme. Auguste Comte disebut juga bapak sosiologi modern karena beliau tak kenal henti dalam penelitiannya terhadap fenomena sosial, sehingga ilmu sosial berkembang dengan pesat.
Dengan segala pemikirannya, Auguste Comte merupakan salah satu filosofi yang mengembangkan filsafat ilmu yang di rintis oleh Bacon. Beliau juga termasuk kelompok kajian yag disebut ”Lingkaran Wina”(Vienna Circle).  Comte adalah tokoh aliran positivisme yang paling terkenal. Kamu positivis percaya bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dimana metode-metode penelitian empiris dapat dipergunakan untuk menemukan hukum-hukum sosial kemasyarakatan. Aliran ini tentunya mendapat pengaruh dari kaum empiris dan mereka sangat optimis dengan kemajuan dari revolusi Perancis.
Bentangan aktualisasi dari pemikiran Comte, adalah dikeluarkannya pemikirannya mengenai “hukum tiga tahap” atau dikenal juga dengan “hukum tigastadia”. Hukum tiga tahap ini menceritakan perihal sejarah manusia dan pemikirannya sebagai analisa dari observasi-observasi yang dilakukan oleh Comte. Versi Comte tentang perkembangan manusia dan pemikirannya, berawal pada tahapan teologis dimana studi kasusnya pada masyarakat primitif  yang masih hidupnya menjadi obyek bagi alam, belum memiliki hasrat atau mental untuk menguasai (pengelola) alam atau dapat dikatakan belum menjadi subyek. Fetitisme dan animisme merupakan keyakinan awal yang membentuk pola pikir manusia lalu beranjak kepada politeisme, manusia menganggap ada roh-roh dalam setiap benda pengatur kehidupan dan dewa-dewa yang mengatur kehendak manusia dalam tiap aktivitasnya dikeseharian.
Comte percaya bahwa humanitas keseluruhan dapat tercipta dengan kesatuan lingkungan social yang terkecil, yaitu keluarga. Keluarga-keluarga merupakan satuan masyarakat yang asasi bagi Comte. Keluarga yang mengenalkan pada lingkungan social, pentingnya keakraban menyatukan dan mempererat anggota keluarga yang satu dengan keluarga yang lain. Dalam diri manusia memiliki kecendrungan  terhadap dua hal, yaitu egoisme dan altruisma (sifat peribadi yang didasarkan pada kepentingan bersama). Kecenderungan pertama terus melemah secara bertahap, sedang yang kedua makin bertambah kuat. Sehingga manusia makin memiliki sosialitas yang beradab, akibat bekerja bersama sesuai pembagian kerja berdasarkan pengalaman adanya pertautan kekeluargaan yang mengembang. Tidak dapat dikatakan tidak ini juga karena adanya sosialisasi keluarga terhadap keluarga lainnya.
Comte menganggap keluargalah yang menjadi sumber keteraturan sosial, dimana nilai-nilai kultural pada keluarga (kepatuhan) yang disinkronisasikan dengan pembagian kerja akan selalu mendapat tuntutan kerja sama. Tuntutan kerjasama berarti saling menguntungkan, menumbuhkan persamaan dalam mencapai suatu kebutuhan. Menurut Comte mencintai kemanusian, inilah yang menyebabkan lahirnya keseimbangan dan keintegrasian baik dalam pribadi individu maupun dalam masyarakat.
Kemudian lahirlah yang disebut dengan bendungan comte yang membatasi pemikiran filsafat yang bersumber dari manusia, yang mana menurut comte keduduakan manusia hanya terdiri atas 3 tahap yakni masyarakat religious, masyarakat tradisonal, dan masyarakat modern. Masyarakat religious artinya masyarakat primitive yakni masyarakat yang belum pernah tersentuh oleh sedikitpun peradaban, manusianya masih asli suku tempo dulu, manusianya masih menyembah dewa, roh-roh dan lain-lain, sedangkan masyarakat tradisional yakni masyarakat yang sudah sedikit maju, namun mesih serba tradisional, berpakaian seadanya, namun sudah bisa sedikit mengenal zaman modern. Sedangkan masyarakat modern artinya masyarakat yang sudah mengenal teknologi, serba teknologi.


9.      Filsafat Modern
Baru pada zaman setelah abad pertengahan itulah filsafat barat menjadi suatu kekuatan rohani yang berdiri sendiri dengan wataknya sendiri. Hal ini disebabkan karena timbulnya Renaissance, di mana orang lebih memusatkan perhatiannya kepada manusia sendiri, bukan kepada Allah, kepada hidup sekarang ini, bukan kepada hidup di akhirat. Renaissance kemudian disusul oleh Pencerahan (aufklarung), yang menjadikan manusia merasa menjadi dewasa, makin percaya kepada diri sendiri dan berusaha membebaskan diri dari segala kuasa yang mengikatnya, yaitu tradisi gerejani. Demikianlah sejak timbulnya Renaissance manusia berusaha menegakkan suatu pandangan dunia secara sistematis serta mengembangkannya secara metodis, sehingga menjadi suatu bangunan pandangan dunia yang lengkap.
Renaissance yang kemudian diikuti oleh masa pencerahan menjadi titik tolak modernisme di mana ilmu pengetahuan, filsafat, dan ideologi berkembang sedemikian pesat. Otonomi manusia (antroposentris) menjadi roh zaman modern. Kebangkitan kembali  rasio yang mewarnai zaman modern tidak bisa dilepaskan dari pemikiran filsuf Perancis Rene Descartes yang berjasa mengembalikan peranan sentral akal budi yang sekian lama dijadikan hamba sahaya dari keimanan. Pikirannya yang terkenal adalah cogito ergo sum (Saya berpikir, maka saya ada). Akal budi adalah satu-satunya sumber bagi pengetahuan, kesan-kesan inderawi dianggap sebagai ilusi yang hanya bisa diatasi oleh kemampuan yang dimiliki rasio. Pemikiran Descartes mendapat tanggapan keras dari para filsuf yang lain. Misalnya para filsuf Inggris seperti David Hume, John Locke, dan George Berkeley, yang menganut aliran empirisme. Mereka berpikiran bahwa pengetahuan hanya diperoleh dari pengalaman lewat pengamatan empiris. Pertentangan pemikiran di antara para filsuf berlangsung terus hingga filsuf Jerman Immanuel Kant yang berhasil mensintesakan antara rasionalisme dan empirisme. Dia berpendapat bahwa kedua aliran tersebut terlalu ekstrim dalam memahami sumber pengetahuan. Menurut Kant, baik rasio maupun pengalaman empiris merupakan sumber-sumber pengetahuan di mana kesan-kesan dan empiri dibangun oleh rasio manusia melalui kategori-kategori menjadi pengetahuan.
Sekalipun para pemikir pada zaman ini berbeda-beda keadaannya, dan penyelidikan fisalfati mereka mengarah kepada jurusan yang berbeda-beda juga, namun semua itu mewujudkan suatu kesatuan juga. Kesatuan itu ada karena semuanya itu telah membantu dibentuknya kebudayaan Barat. Zaman ini menjadikan orang tahu dengan jelas segala apa yang hidup di dalam kesadaran manusia, segala apa yang dicari manusia pada suatu zaman tertentu dan segala apa yang telah menggerakkan hati nurani manusia yang terdalam itu. Jawaban mereka memang bermacam-macam, akan tetapi sekarang orang tahu bahwa filsafat diperlukan sekali.
Filsafat Abad-19 dan abad 20
Memasuki abad ke-19 filsafat menjadi terpecah-pecah: ada filsafat Jerman, filsafat Perancis, filsafat Inggris, Amerika, dan Rusia. Para bangsa mengikuti jalannya sendiri-sendiri dan masing-masing membentuk kepribadiannya sendiri, dengan cara dan pengertian dasar sendiri-sendiri. Demikianlah para bangsa di Eropa tidak lagi mencerminkan satu roh, roh Eropa. Sekalipun masih ada kesamaan juga. Pemikiran yang bermacam-macam itu sebenarnya menampakkan aspek yang bermacam-macam dari suatu kebudayaan.
Secara umum dapat digambarkan lapisan masyarakat dari atas kebawa yang modern seperti saat ini













Masyarakat Serba Teknologi
 







Masyarakat Yang  Berkembang
 




Tradisional
 






Tribal
 



Arkhaic
 

 



















DAFTAR PUSTAKA

Ahmad syahdali & Mudzakir 2004. Filsafat umum. Bandung: Pustaka setia
Abdul, Atamh Hakim,Drs, M.A & Ahmad, Beni Saebani, Drs.M.Si.2008.Filsafat Umum:Dari Metologi sampai Teofilosofi.Bandung: Pustaka setia
Bridge, J.H. (2009). A General View of Positivism Auguste Comte. London “ Cambridge University
Juhaya S. Pradja,2002. Aliran-Aliran Filsafat Dan Etika. Yayasan Piara: bandung

REFLEKSI PETA PENDIDIKAN DUNIA 1



Kelompok 1 Peta Pendidikan Dunia 1

PPs UNY Pendidikan Matematika Kelas C Tahun 2013
Melda Ariyanti                                    (137091251039)
Sardin                                                  (137091251053)
Khairuddin                                          (137091251055)
Harry Syafutera                                  (137091251056)
Muhammad Masruri Burhan               (137091251058)

LAPORAN KEGIATAN DISKUSI
Pertemuan 1
Hari, tanggal                 : Jum’at, 15 November 2013
Tempat                          : Ruang 103 Gedung Lama UNY
Pukul                             : 09.10 – 09.30 WIB
Agenda                         : -    Pembagian tugas
-          Pencarian referensi terkait judul
-          Penjadwalan untuk pertemuan selanjutnya

Pertemuan 2
Hari, tanggal                 : Minggu, 17 November 2013
Tempat                          : Kost Khairuddin, Samirono
Pukul                             : 13.30 – 16.00 WIB
Agenda                         : -    Tindak lanjut pertemuan ke 1
-          Diskusi materi peta pendidikan dunia 1
-          Mengkaji buku dari Paul Ernest tentang peta 1
-          Penjadwalan untuk pertemuan selanjutnya

Pertemuan 3
Hari, tanggal                 : Selasa, 19 November 2013
Tempat                          : Perpustakaan Pascasarjana UNY
Pukul                             : 10.00 – 11.30 WIB
Agenda                         : -    Diskusi materi peta pendidikan dunia 1

Pertemuan 4
Hari, tanggal                 : Kamis, 21 November 2013
Tempat                          : Ruang 106 Gedung lama Pascasarjana UNY
Pukul                             : 10.00 – 10.30 WIB
Agenda                         : -    Tahap penyelesaian laporan diskusi






Refleksi Ke 5
IMPLEMENTASI FILSAFAT DALAM PENDIDIKAN (MATEMATIKA):
Telaah Kurikulum 2013 Berdasar Peta Pendidikan Dunia I Karya Paul Ernest

Peta Pendidikan Dunia I

Industrial Trainer
Technological Pragmatist
Old Humanist
Progressive Educator
Public Educator
Politics
Radical right
Conservative
Conservative/ liberal
Liberal
Democracy
Mathematics
Body of Knowledge
Science of truth
Structure of truth
Process of Thinking
Social Activities
Moral Value
Good vs Bad
Pragmatism
Hierarkhies Paternalistics
Humanity
Justice, Freedom

Pembahasan:
Paul Ernest menyatakan bahwa dunia pendidikan terbagi berdasarkan ideologi yang mendasarinya. Terdapat setidaknya lima jenis ideology yaitu industrial trainer, technological pragmatist, old humanist, progressive educator dan public educator. Pandangan mengenai pembelajaran juga sangat terkait dengan pandangan mengenai ilmu yang dipelajari yang dalam hal ini adalah matematika. Perbedaan dalam memandang matematika menyebabkan perbedaan dalam membelajarkannya kepada siswa.

A.      Industrial Trainer
1.    Ideologi Politik (Radikal Right)
Perilaku warga negara yang tidak puas terhadap keadaan yang ada serta menginginkan perubahan yang cepat dan mendasar, tidak kenal kompromi dan tidak mengindahkan orang lain yang cenderung ingin menang sendiri.
2.    Pandangan terhadap Matematika
Matematika pada industrial trainer ini dipandang sebagai body of knowledge. Matematika sebagai ratu atau ibunya ilmu dimaksudkan matematika adalah sebagai sumber dari ilmu yang lain. Banyak ilmu-ilmu yang penemuan dan pengembangannya bergantung dari matematika. Sebagai contoh banyak teori-teori dan cabang-cabang dari Fisika dan Kimia Modern yang ditemukan dan dikembangkan melalui konsep kalkulus khusunya tentang persamaan diferensial, penemuan dan pengembangan teori Mendel dalam biologi melalui konsep probabilitas, teori ekonomi mengenai permintaan dan penawaran yang dikembangkan melalui konsep fungsi, dan kalkulus tentang diferensial dan integral.
3.    Nilai Moral (Good versus Bad)
Matematika adalah tunggal. Kebenaran dan kesalahan di dalam metematika bersifat absolut. Benar adalah benar, sedangkan salah adalah salah.



B.       Technological Pragmatist
1.      Ideologi Politik (Conservative)
Merupakan sikap dan perilaku politik yang tidak menginginkan adanya perubahan yang berarti (mendasar) dalam sebuah sistem. Sikap ini biasanya dianut oleh mereka yang tengah menikmati posisi istimewa atau kekuasaan dalam sebuah struktur atau paling tidak merasa sangat diuntungkan oleh sistem yang ada. Kaum konservatif cenderung mempertahankan dan melestarikan sistem yang sudah ada. Kalaupun mereka melakukan perubahan karena desakan dan dorongan oleh pihak luar, kaum konservatif hanya ingin perubahan itu tidak menggeser atau menghilangkan posisi mereka dalam kekuasaan. Perubahan hanya mungkin terjadi bila situasi sudah sangat krisis dan mendesak yang memaksa mereka harus turun dari posisi kekuasaan.
2.      Pandangan terhadap Matematika
Matematika dipandang sebagai Science of truth (Kebenaran Ilmu). Ukuran kebenaran ilmu adalah rasionalisme dan empirisme sehingga kebenaran ilmu bersifat empiris dan rasional. Sedangkan menurut Immanuel Kant, matematika merupakan cara berpikir logis yang salah atau benarnya dapat ditentukan tanpa mempelajari dunia empiris. Jadi menurut Immanuel Kant dalam pembelajaran matematika tidak penting adanya suatu pengalaman, yang terpenting adalah logika. Sesuatu hal dapat dibuktikan secara teoritis berdasarkan penalaran (logika) saja, tanpa perlu mengamati, melakukan, atau mengalaminya secara langsung.
Pada konsep ideal kurikulum 2013, pelaksanaan proses pembelajaran matematika di sekolah justru mengarahkan siswa untuk membuktikan sesuatu hal berdasarkan pengalaman langsung. Siswa diminta untuk melakukan percobaan secara langsung, kemudian melakukan pengamatan terhadap percobaan yang telah dilakukan, kemudian membuat sebuah kesimpulan atau pembuktian terhadap sesuatu hal yang diteliti. Dalam hal ini, siswa tidak hanya menggunakan logika (penalaran) dalam membuat sebuah kesimpulan atau pembuktian, namun siswa juga akan menggunakan pengalaman empirisnya. Dengan demikian, kebenaran yang akan diperoleh tidak hanya sesuai dengan teori yang ada, namun juga akan sesuai dengan keadaan nyata (pengalaman) yang telah dialami oleh siswa.
3.      Nilai Moral (Pragmatism)
Pragmatisme adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis. Dengan demikian, bukan kebenaran objektif dari pengetahuan yang penting melainkan bagaimana kegunaan praktis dari pengetahuan kepada individu-individu. Dasar dari pragmatisme adalah logika pengamatan, dimana apa yang ditampilkan pada manusia dalam dunia nyata merupakan fakta-fakta individual, konkrit, dan terpisah satu sama lain. Dunia ditampilkan apa adanya dan perbedaan diterima begitu saja. Representasi realitas yang muncul di pikiran manusia selalu bersifat pribadi dan bukan merupakan fakta-fakta umum. Ide menjadi benar ketika memiliki fungsi pelayanan dan kegunaan. Dengan demikian, filsafat pragmatisme tidak mau direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kebenaran, terlebih yang bersifat metafisik, sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan filsafat Barat di dalam sejarah.
C.      Old Humanist
1.      Ideologi Politik (Conservative/liberal)
Kaum old humanist, bukan humaniora, mengarahkan kuat pandangan yang berpusat pada diri manusia, bukan pada Tuhan. Artinya, aspek spiritual dinihilkan dalam hal ini.
2.      Pandangan terhadap Matematika
Matematika dipandang sebagai Structure of truth (Struktur kebenaran). Matematika mempelajari tentang pola, keteraturan, tentang struktur yang terorganisasikan. Hal itu dimulai dari unsur-unsur yang tidak terdefinisikan (undefined terms, basic terms, primitive terms) kemudian pada unsur yang didefinisikan, ke aksioma, atau postulat, dan akhirnya pada teorema. Konsep-konsep matematika tersusun secara hirearkis, terstruktur, logis, dan sistematis mulai dari konsep yang paling sederhana sampai pada konsep yang paling kompleks. Dalam matematika terdapat topik atau konsep prasyarat sebagai dasar untuk memahami topik atau konsep selanjutnya.
3.      Nilai Moral (Hierarkhies paternalistics)
Sistem kepemimpinan yang berdasarkan hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin, seperti hubungan antara ayah dan anak. Artinya nilai moral diajarkan oleh orang tua kepada anaknya. Hal ini memandang orang tua memiliki peran dalam menentukan moral anaknya.

D.      Progressive Educator
1.      Ideologi Politik (Liberal)
Sikap perilaku politik masyarakat yang berpikir bebas dan ingin maju terus. Menginginkan perubahan progresif dan cepat, berdasarkan hukum dan kekuatan legal untuk mencapai tujuan.
2.      Pandangan terhadap Matematika
Metematika dipandang sebagai Process of thinking (proses berpikir). Matematika lebih menekankan aktivitas dalam dunia rasio atau penalaran yang terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses, dan penalaran. Pada tahap awal, matematika terbentuk dari pengalaman manusia dalam dunianya secara empiris, kemudian pengalaman itu diproses dalam dunia rasio, diolah secara analisis dan sintesis dengan penalaran di dalam struktur kognitif sehingga sampailah pada suatu kesimpulan berupa konsep-konsep matematika.
Analisis dalam Kurikulum 2013
Sesuai dengan pendekatan yang digunakan dalam kurikulum 2013, yakni pendekatan scientific. Pendekatan ini lebih menekankan pada pembelajaran yang mengaktifkan siswa. Pendekatan ini dilaksanakan dengan melibatkan tiga model pembelajaran diantaranya adalah problem based learning, project based learning, dan discovery learning. Ketiga model ini akan menunjang how to do  yang difokuskan dalam kurikulum 2013. Dalam pelaksanaannya pendekatan scientific ini menekankan lima aspek penting, yaitu mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan komunikasi.
1.         Mengamati
Pada kurikulum 2013 metode ceramah tidak dilupakan, hanya dikurangi takarannya. Siswa dituntut aktif dalam segala masalah. Proses mengamati dalam pelajaran Fisika, Biologi, Kimia merupakan suatu proses belajar yang sering digunakan. Namun bagi mata pelajaran lain, guru dituntut harus paham materi sebelum menghadirkan siswa ke dunia nyata dengan mengamati sendiri semua fenomena yang terjadi yang berhubungan dengan materi pelajarannya.
2.         Menanya
Agar siswa merasa bertanya-tanya (rasa ingin tahu), seorang guru harus menyediakan pembelajaran yang menimbulkan masalah. Artinya guru harus mampu menyediakan kegiatan pembelajaran yang menarik yang dapat menimbulkan rasa ngin tahu siswa.
3.         Mencoba
Dalam pelaksanaan kurikulum 2013, siswa dituntut untuk mencoba sendiri, dan terlibat langsung dalam masalah yang dihadirkan guru. Dalam pembelajaran matematika misalnya, siswa diminta mencoba sendiri mencari data untuk disajikan dalam bentuk diagram, ataupun grafik. Data itu dapat diperoleh melalui pengukuran langsung, melalui wawancara, dan melalui pengamatan.
4.         Menalar
Siswa dituntut untuk dapat memahami dengan benar pokok materi yang diajarkan guru. Siswa akan mudah menalar suatu materi ajar apabila pelajaran yang diajarkan tidak memberatkan mereka.
5.         Komunikasi
Dalam proses mengkomunikasian semua permasalahan, siswa diminta mempresentasikan hasil kerja mereka. Kelima aspek dalam pelaksanaan kurikulum 2013 sangat berkaitan satu sama lain. Pada dasarnya, kelima aspek ini sudah pernah dilakukan oleh sebagian guru. namun pendalamannya dilakukan kembali di kurikulum 2013 untuk menyegarkan semangat pendidikan Indonesia.
Ebbut dan Stacker mendefinisikan matematika sekolah sebagai :
a.       Matematika merupakan kegiatan penelusuran pola dan hubungan
1)      Memberikan kesempatan siswa untuk melakukan kegiatan penemuan dan penyelidikan pola-pola untuk menentukan hubungan
2)      Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan percobaan dengan berbagai cara
3)      Mendorong siswa untuk menemukan adanya urutan, perbedaan, perbandingan, pengelompokan dan sebagainya
4)      Mendorong siswa menarik kesimpulan umum
5)      Membantu siswa memahami dan menemukan hubungan antara pengertian satu dengan lainnya.
b.      Matematika adalah kreativitas yang memerlukan imajinasi, intuisi dan penemuan
1)      Mendorong inisiatif dan memberikan kesempatan berpikir berbeda
2)      Mendorong rasa ingin tahu, keinginan bertanya, kemampuan menyanggah dan kemampuan memperkirakan
3)      Menghargai penemuan yang di luar perkiraan sebagai hal bermanfaat daripada menganggapnya sebagai kesalahan
4)      Mendorong siswa menghargai penemuan siswa yang lainnya
c.       Matematika adalah kegiatan problem solving
1)      Menyediakan lingkungan belajar matematika yang merangsang timbulnya persoalan matematika
2)      Membantu siswa memecahkan persoalan matematika menggunakan caranya sendiri
3)      Membantu siswa mengetahui informasi yang diperlukan untuk memecahkan persoalan matematika
4)      Mendorong siswa untuk berpikir logis, konsisten, sistematis dan mengembangkan sistem dokumentasi/catatan
d.      Matematika merupakan alat berkomunikasi
1)      Mendorong siswa mengenal sifat matematika
2)      Mendorong siswa membuat contoh sifat matematika
3.      Nilai Moral (Humanisty)
Pragmatisme mengemukakan pandangan tentang nilai, bahwa nilai itu relatif. Pragmatisme menyarankan untuk menguji kualitas nilai dengan cara yang sama seperti kita menguji kebenaran pengetahua dan harus mempertimbangkan perbuatan manusia dengan tidak memihak, dan secara ilmiah memiliki nilai-nilai yang tampaknya memungkinkan untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi manusia. Nilai-nilai itu tidak akan dipaksakan dan akan disetujui setelah diadakan diskusi secara terbuka. Nilai lahir dari keinginan, dorongan, dan perasaan serta kebiasaan manusia sesuai dengan watak sebagai kesatuan antara faktor biologis dan sosial dalam diri dan kepribadiannya. Nilai merupakan suatu realitas dalam kehidupan yang dapat dimengerti sebagai suatu wujud dalam perilaku manusia dan sebagai suatu pengetahuan serta sebagai suatu ide.
a.         Kurikulum 2013 bukan kurikulum yang berbasis kompetensi namun kurikulum yang berbasis karakter, hal ini sebagaimana disebutkan oleh Mohammad Nur bahwa "Karena pada praktiknya, kurikulum baru yang kita terapkan ini memang lebih menarik dibanding kurikulum yang lama. Pada kurikulum baru ini berbasis karakter, bukan kompetensi,". Karena tekanannya pada upaya pembentukan karakter, maka sistem penyajian mata pelajaran pada kurikulum baru tersebut secara terintegratif, sehingga semua jenis pelajaran diintegrasikan dengan nilai-nilai moral agama. Oleh karena itu, jam pelajaran agama pada kurikulum baru tersebut juga ditambah.
b.         Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dalam kurikulum 2013 adalah untuk membentuk sikap individu yang beriman, berakhlak mulia (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun), rasa ingin tahu, toleransi, gotong royong, kerjasama, dan musyawarah. Salah satu kegiatan yang disarankan dalam kurikulum 2013 adalah adanya kegiatan ekstrakurikuler seperti pramuka, PMI, OSIS, dan lain-lain yang pada akhirnya akan digunakan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, siswa telah mengetahui tata cara pertolongan pertama dari kegiatan PMI, sehingga pada saat ada orang yang mengalami kecelakaan siswa dapat menolongnya dengan pengetahuan pertolongan pertamanya. Contoh lainnya adalah kegiatan diskusi kelompok dalam kegiatan pembelajaran dapat meningkatkan rasa saling menghargai antar siswa.
E.       Public Educator
1.      Ideologi Politik (Democracy)
Pemerintahan yang demokratis memungkikan setiap warga negara tumbuh dan hidup melalui interaksi sosial yang memberikan tempat bersama dengan warga negara lainnya. Pendidikan harus membantu siswa menjadi warga negara yang demokratis, karena itu menurut public educator pendidikan hendaknya bertujuan menyediakan pengalaman untuk menemukan atau memecahkan hal-hal baru dalam kehidupan pribadi dan kehidupan sosialnya. Pada hakikatnya masyarakat adalah terbaik, namun masyarakat yang demokratis merupakan masyarakat terbaik dimana terdapat kesempatan untuk setiap pekerjaan dan dalam demokrasi tidak mengenal adanya stratifikasi sosial. Kesamaan-kesamaan merupakan jaminan bahwa setiap orang akan dapat mengambil bagian melaksanakan segala aktivitas lembaga yang ia masuki. Penggunaan intelegensi secara maksimal, berarti memberi kesempatan suatu pertumbuhan kepada individu secara maksimal.
a.         Dari segi buku
Salah satu perbedaan antara kurikulum 2013 dengan kurikulum sebelumnya adalah adanya buku siswa dan buku guru yang telah disediakan oleh pemerintah pusat sebagai buku wajib sumber belajar di sekolah. Peran guru sangat penting untuk meningkatkan dan menyesuaikan daya serap peserta didik dengan ketersediaan kegiatan pada buku siswa dan buku guru. Oleh karena itu guru perlu mencermati buku guru maupun buku siswa yang disediakan pemerintah ini. Hal ini diperlukan mengingat buku yang disediakan pemerintah ditujukan untuk keperluan skala nasional. Padahal masing-masing sekolah memiliki karakteristik siswa masing-masing. Dengan demikian, guru diharapkan mampu mencermati dan menganalisis buku guru ataupun guru siswa, agar kekeliruan dan ketidaktepatan buku yang disesuaikan dengan karakteristik siswa masing-masing sekolah telah diketahui lebih awal.
b.          Dalam proses penyusunannya kurikulum 2013 disusun berlandaskan UUD 1945 dan Pancasila. Oleh karena itu idealnya segala sesuatu yang termuat di dalam kurikulum 2013 akan mencerminkan nilai-nilai yang terkandung di dalam UUD 1945 dan Pancasila salah satunya adalah sikap demokratis. Namun apabila kita lihat faktanya di lapangan, belum secara eksplisit dijelaskan mengenai relevansi UUD 1945 dan Pancasila sebagai landasan filosofis kemana arah pendidikan.
2.      Pandangan terhadap Matematika (Social activities)
Matematika dipandang sebagai aktivitas sosial, artinya semua aktivitas sosial didasarkan pada konsep-konsep matematika, sedangkan pada kenyataannya aktivitas sosial yang dilakukan oleh seseorang tidak selalu dihubungkan dengan konsep matematika, karena terkadang seseorang tidak menyadari bahwa matematika telah mengambil bagian dalam setiap aktivitas yang dilakukan sehari-hari.
3.      Nilai Moral (Justice, freedom)
Seseorang bebas melakukan segala sesuatu yang diinginkannya tanpa memandang baik atau buruknya.