Kamis, 10 Oktober 2013

Hakikat Dimensi Berfikir Filsafat

Didalam berfilsafat ada yang namaanya berpikir intensif dan ekstensi yng sedalam-dalamnya. Berpikir sedalam-dalamnya maksudnya adalah mencari hakikat dalam berfilsafat, berpikir sedalam-dalamnya mengandung maksud juga berpikir setinggi-tingginya, berpikir luas seluas-luasnya mengandung maksud juga sempit sesempit-sempitnya. Jadi berpikir material, formal, normative dan spiritual adalah berpikir intensif sedangkan mengintensifkan makna atau bahasa itu yakni membuat pembagian yang sangat kasar, masa dunia yang begitu luas, besar dan kompleks hanya dibagi empat. Berpikir filsafat itu mempunyai dimensi-dimensi masing-masing, material punya dimensi, formal berdimensi, normative berdimensi, dan spiritual juga berdimensi. Dari masing dimensi ini merentang meliputi dimensi yang lain material berdimensi meliputi formal, normative dan spiritual, formal berdimensi meliputi material, normative, dan spiritual, normative berdimensi meliputi material, formal dan spiritual, begtu juga spiritual meliputi semua dimensi. Dimensi material artinya bagaimana memaknai benda-benda yang ada disekitar kita, contoh: orang yang melihat pasir disungai akan takut mengambilnya karena nanti banjir, ada juga orang menganggap pasir buat dia akan dapat uang banyak karna di ekspor disingapur.jadi material itu berdimensi-dimensi terhadap yang berpikir berdimensi dan yang dipikirkan juga berdimensi. Contoh lain: anak kecil dengan orang dewasa memikirkan dunia sekitar berbeda. Formal berdimensi seperti formal terhadap diri sendiri, keluarga, formal hubungan suami istri, bertetangga, bermasyarakat, kuliah, berkantor, formal dalam satu budaya,dan formal universal. Formal terhadap diri sendiri ada lah bagaimana cara berpakaian kita saat kedatangan tamu, cara berpakaina kita itu menunjukan keformalan kita, adaa tidak nya orang dirumah kita tetap formal, posisi duduk kita yang formal, formal itu merupakan wadah sedangkan normative itu isinya. Contoh lain: terjadi kecelakaan formal itu memiliki SIM, Helm karena itu merupakan aturan dan mendapatkan jasa raharja itu normative. Selanjutnya bentuk formal dari cinta adalah cincin karena menyangkut kualitas, bisa dibawa kemana-mana, mudah disimpan, mudah diingat. Filsafat juga itu adalah pengalaman, kita mempunyai pengalaman harus banyak membaca, karena dengan membaca itu adalah formal dan informalnya itu adalah tigkah laku yang kita bawa kemana, dari membaca akan melahirkan suatu pemikiran-pemikiran untuk dapat diaplikasikan dalam tindakan. Subtansi dari filsafat itu adalah pikiran. Kaitannya dengan itu adalah cinta. Maka bentuk formal dari cinta adalah menikah karena menyangkut hak dan kewajiban, bagi mereka yang mempunyai materi berlimpah akan mengambil jalan pintas pemikiran yakni pemikiran manusia yang memisahkan cinta ya cinta, nikah ya nikah, love is love, meried is meried tak tertanggung oleh hak dan kewajiban. Normative dari cinta adalah kasih sayang yang kaitannya dengan romantisme dalam filsafat. Didalam berfilsafat maka kambing pun bercinta, tumbuh-tumbuhan bercinta batupun bercinta tetapi untuk sampai keromantisme itu bukan jalaan yang mudah. Berpikir dalam filsafat berarti gerak artinya tidak sedang diam misalkan batu yang terjun bebas dari ketinggian sesungguhnya sedang berpikir “berpikirlah wahai engkau batu mengapa engkau begitu besar sedangkan penyongkiongmu tidak mampu” maka bergeraklah batu itu, wahai laut tunjukan bahwa engkau sedang berpikir “ laut berpikir mengapa engkau begitu lembut, ada angin yang begtu kencang, kenapa engkau tidak berubah” maka bergeraklah air laut itu membentuk gelombang. Jadi dari kejadian tadi kita sedang menuntut ilmu. jadi mencap sesuatu harus melihat kecukupan wadahnya karena wadah tanpa isi itu kosong sedangkan isi tanpa wadah itu juga tidak bermakna, kedua-duanya harus sejalan. Kecerdasan yang sopan santun dalam filsafat ada empat cakupan yakni material, formal, normative dan spiritual, padahal yang ada dan mungkin ada mempunyai dimensi, wadah, bahasa masing-masing. Dalam bercinta itu berbeda-beda contoh cinta antara preman dan dewa. Cinta preman paling hanya merubah gang sedangkan cintanya dewa dapat merubah dunia misalkan dewa bataraguru yang bercinta bidadari surge kemudian buah cintahnya jatuh ditengah laut karena salah ruang dan waktu lahirlah batarakala (waktu salah/kala buruk). Karena salah ruang dan waktu maka isinya pertengakaran atara batarakala dan batara krisna, pertengakaran antara kebaikan dan keburukan maka hal ini dapat merubah dunia. Contoh lain: cintanya sang proklamatro dengan orang jepang, banyak orang jepang yang dihidupi oleh orang Indonesia. Dirimu kelihatan dari tutur katamu dan tutur bahasamu. Lain lagi bercintanya orang filsafat bercinta yang romantisme secara fundamental yakni secara etik, estetika, idealism. Sesungguhnya dalam berfilsafat itu akan menghasilkan pribadi-pribadi manusia yang halus serta lembut dan sampai yang paling atas spiritual. Untuk dapat memperhalus diri sendiri baca dan bacalah, pecahkan pertanyaan-pertanyaan yang menjadi masalah itu dalam diri kita. Dalam berfilsafat itu dimana pun kita berada maka kita memandangnya secara berdimensi-dimensi, ada dimensi material, dimensi formal, dimensi normative, dan dimensi spiritual contoh kita memandang keindahan pantai maka kita akan melihat pasir pantai itu material, mengikuti aturan dipantai dengan tidak mangotori pantai itu formal, dan seterusnya.=============== TERIMA KASIH ===============

Tidak ada komentar:

Posting Komentar