Kamis, 31 Oktober 2013

Bahasa Analogi : Ilmu Yang Tak Bertuan

Lidah tak bertulang, lidah itu tajam, dari lidah hadirkan lisan yang bisa membuatnya seseorang sukses/hancur, dari lidah hadirkan lisan yang dapat menghasilkan seseorang menjadi terkenal/dikecam, dari lidah hadirkan lisan bisa menjadikan seseorang kaya/miskin, dan seterusnya. Didalam diri manusia terdapat beberapa struktur yakni pikiran, hati, badania dan rohania, semua struktur itu mempunyai peran dan fungsi masing-masing, Ada nya lisan seseorang terucap dari struktur pikiran manusia itu sendiri yang mengendalikan berbicara dan bertindak, struktur pikiran dan badania Keduanya memiliki peran yang berbeda namun berada di dalam satu bentuk yaitu diri kita. Keduanya tidak dapat berdiri sendiri sehingga saling bergantung. Seperti halnya, tubuh tidak akan dapat menjalankan fungsinya tanpa adanya pikiran, begitu juga pikiran tidak dapat terwujud tanpa dibantu oleh tubuh sebagai pelaksananya. Badania hanya menjalankan respon dari pikiran kita dan badania juga yang akan mendapat balasan dari alam, jika kita melakukan hal yang positif maka alam pun akan memberikan balasan yang positif, begtu juga jika badania melakukan hal yang negatif maka akan memberikan balasan yang negatif. Badania melakukan hal postif/negatif karena tersusun dari pikiran-pikiran positif/negatif, pikiran yang positif seperti rasa simpati, empati, kasih sayang kebahagiaan, belas kasih, keikhlasan, rasa percaya diri, optimis, keyakinan, konsentrasi dan seterusnya. Sedangkan susunan pikiran negatif seperti kemarahan, kebencian, ketakutan, kekhawatiran, kesombongan, iri hati, keegoisan, keputusasaan, mengasihani diri sendiri, rasa bersalah, pesimis, minder, dan seterusnya. bayangkan bahwa jika diri kita terlalu banyak memasukkan/menyusun pikiran-pikiran negatif ke dalam pikiran, maka kelompok susunan pikiran negatif itulah yang akan mendominasi pikiran kita. Dan karena jenisnya sama, tanpa disadari anda juga sedang menarik semua energi negatif dari alam semesta kedalam diri anda. Oleh sebab itu, janganlah heran jika kemudian kehidupan anda hanya berisi masalah, musibah, halangan, rintangan, keributan, kegagalan dan seterusnya. Pikiran positif/negatif terbentuk dari pengetahuan yang luas, dari pengetahuan yang luas menjadikan dirinya tidak menghargai pendapat orang lain, yang pada akhirnya didalam hatinya akan bersemayam perasaan-perasaan sombong, angkuh, congkak, dan seterusnya misalkan kisah berikut ini “Presiden Brazil Tancredo Neves: sewaktu kampanye kemenangan Pemilu dan beliau mendapat 500.000 Pilihan dari partai itu dan dia berkata "tidak ada Tuhan yang bisa menjauhkannya dari jabatan presiden." Beliau mendapat kemenangan tetapi dia jatuh sakit dan meninggal dunia sehari sebelum menjadi presiden!”. Kisah kesombongan ini merupakan salah satu contoh implementasi dari ilmu yang tak bertuan, sejalan dengan itu Didalam hadist Rasullullah SAW dijelaskan bahwa didalam diri manusia itu terdapat segumpal daging, dan apabila daging tersebut baik maka seluruh badan akan baik dan apabila daging tersebut buruk maka seluruh badan akan buruk. Jadi struktur badan kita selanjutnya adalah hati, hati yang mengedapankan rasa ikhlas, rasa percaya diri, rasa optimisme dan seterusnya akan mempengaruhi pikiran kita sehingga yang Nampak juga adalah tindakan-tindakan yang positif, namun kita juga jangan lupa bahwa didalam hati juga bersemayam nafsu, jika hati dikuasai nafsu akan menghasilkan pikiran-pikiran yang negatif seperti kesombongan, tidak menghargai orang lain, merasa benar, ingin menguasai, dan seterusnya. Kedudukan hati, pikiran dan nafsu sangat erat kaitannya dan tidak terlepas dari kehidupan kita, dan setiap hari relatif dalam tindakan kita. Terkadang pemikiran kita tidak sesuai dengan hati, terkadang juga mengungkapkan sesuai dengan perasaan tetapi tidak sejalan dengan pikiran kita, begitu juga dengan nafsu. Pikiran, hati dan badania, yang terimplementasi dalam tindakan kita merupakan invetasi akhirat yang akan dipetik amalannya oleh rohania kita, dan struktur badan kita yang selanjutnya adalah rohani. Rohania erat kaitannya dengan hati yang merupakan sumber keyakinan kita, dan biasanya apa yang baik dari hati merupakan makanan dari rohani kita. Untuk mendapatkan ketenangan rohani diperlukan agama/keyakinan. Sesuai dengan keyakinan saya maka Islam lah agamaku. Bagi seorang yang beragama islam diperlukan Iman, Islam, Ihsan dan ilmu yang merupakan satu paket kekuatan bagi umat Islam yang sangat diperlukan. Iman adalah aqidah yang asasi agar selamat dari jalan yang sesat. Islam adalah gerakan lahir di dalam semua bidang kehidupan sebagai syariat Allah SWT sebagai jalan. Ihsan adalah penghayatan rukun-rukun Iman & Islam di dalam amalan dan perbuatan yang bersifat rohani mahupun bersifat maknawi sesuai dengan kehendak Allah SWT Ia bersifat batiniah atau rohaniah di dalam semua ibadah dan amal soleh yang dilakukan. Ilmu ibarat lampu menyuluh ketiga perkara tadi dan menyuluh seluruh tindakan serta amal ibadah di dalam kehidupan lahir maupun yang batin, meliputi yang ada maupun yang mungkin ada. Ilmu yang tidak bertuan akan menghasilkan kesembongan yang pada akhirnya akan melahirkan kehancuran baik didunia maupun diakhirat dan dapat dirasakan oleh jasmani maupun rohani kita. Jadi untuk dapat menetralkan komponen struktur diatas ada lah hanyalah agama. Ilmu tanpa agama lumpuh sedangkan agama tanpa ilmu buta. Pikiran dapat dikendalikan oleh hati dan badan kitam, pikiran haruslah diperkuat. Memperkuatnya yaitu dengan cara memasukkan hanya dengan hal-hal yang positif secara terus menerus. Seperti halnya tubuh membutuhkan makanan yang bergizi agar bisa tumbuh sehat untuk dapat mengahsilkan hati yang bersih, begitu juga pikiran membutuhkan hal-hal yang positif sebagai makanannya supaya bisa berfungsi dengan baik dan bermanfaat bagi diri kita. Pikiran yang kuat akan mudah untuk dikendalikan. Seekor harimau yang belum dijinakkan akan menjadi buas, menggigit dan hanya memberikan masalah bagi tuannya. Namun jika sudah dijinakkan, dia tidak hanya akan menjadi harimau penurut tetapi juga berguna untuk membantu dan melindungi tuannya. Begitu juga dengan pikiran, jika kita tidak dapat menjinakkannya maka kita lah yang akan dikendalikannya dan dia hanya akan memberi kita masalah.

Kamis, 10 Oktober 2013

Hakikat Dimensi Berfikir Filsafat

Didalam berfilsafat ada yang namaanya berpikir intensif dan ekstensi yng sedalam-dalamnya. Berpikir sedalam-dalamnya maksudnya adalah mencari hakikat dalam berfilsafat, berpikir sedalam-dalamnya mengandung maksud juga berpikir setinggi-tingginya, berpikir luas seluas-luasnya mengandung maksud juga sempit sesempit-sempitnya. Jadi berpikir material, formal, normative dan spiritual adalah berpikir intensif sedangkan mengintensifkan makna atau bahasa itu yakni membuat pembagian yang sangat kasar, masa dunia yang begitu luas, besar dan kompleks hanya dibagi empat. Berpikir filsafat itu mempunyai dimensi-dimensi masing-masing, material punya dimensi, formal berdimensi, normative berdimensi, dan spiritual juga berdimensi. Dari masing dimensi ini merentang meliputi dimensi yang lain material berdimensi meliputi formal, normative dan spiritual, formal berdimensi meliputi material, normative, dan spiritual, normative berdimensi meliputi material, formal dan spiritual, begtu juga spiritual meliputi semua dimensi. Dimensi material artinya bagaimana memaknai benda-benda yang ada disekitar kita, contoh: orang yang melihat pasir disungai akan takut mengambilnya karena nanti banjir, ada juga orang menganggap pasir buat dia akan dapat uang banyak karna di ekspor disingapur.jadi material itu berdimensi-dimensi terhadap yang berpikir berdimensi dan yang dipikirkan juga berdimensi. Contoh lain: anak kecil dengan orang dewasa memikirkan dunia sekitar berbeda. Formal berdimensi seperti formal terhadap diri sendiri, keluarga, formal hubungan suami istri, bertetangga, bermasyarakat, kuliah, berkantor, formal dalam satu budaya,dan formal universal. Formal terhadap diri sendiri ada lah bagaimana cara berpakaian kita saat kedatangan tamu, cara berpakaina kita itu menunjukan keformalan kita, adaa tidak nya orang dirumah kita tetap formal, posisi duduk kita yang formal, formal itu merupakan wadah sedangkan normative itu isinya. Contoh lain: terjadi kecelakaan formal itu memiliki SIM, Helm karena itu merupakan aturan dan mendapatkan jasa raharja itu normative. Selanjutnya bentuk formal dari cinta adalah cincin karena menyangkut kualitas, bisa dibawa kemana-mana, mudah disimpan, mudah diingat. Filsafat juga itu adalah pengalaman, kita mempunyai pengalaman harus banyak membaca, karena dengan membaca itu adalah formal dan informalnya itu adalah tigkah laku yang kita bawa kemana, dari membaca akan melahirkan suatu pemikiran-pemikiran untuk dapat diaplikasikan dalam tindakan. Subtansi dari filsafat itu adalah pikiran. Kaitannya dengan itu adalah cinta. Maka bentuk formal dari cinta adalah menikah karena menyangkut hak dan kewajiban, bagi mereka yang mempunyai materi berlimpah akan mengambil jalan pintas pemikiran yakni pemikiran manusia yang memisahkan cinta ya cinta, nikah ya nikah, love is love, meried is meried tak tertanggung oleh hak dan kewajiban. Normative dari cinta adalah kasih sayang yang kaitannya dengan romantisme dalam filsafat. Didalam berfilsafat maka kambing pun bercinta, tumbuh-tumbuhan bercinta batupun bercinta tetapi untuk sampai keromantisme itu bukan jalaan yang mudah. Berpikir dalam filsafat berarti gerak artinya tidak sedang diam misalkan batu yang terjun bebas dari ketinggian sesungguhnya sedang berpikir “berpikirlah wahai engkau batu mengapa engkau begitu besar sedangkan penyongkiongmu tidak mampu” maka bergeraklah batu itu, wahai laut tunjukan bahwa engkau sedang berpikir “ laut berpikir mengapa engkau begitu lembut, ada angin yang begtu kencang, kenapa engkau tidak berubah” maka bergeraklah air laut itu membentuk gelombang. Jadi dari kejadian tadi kita sedang menuntut ilmu. jadi mencap sesuatu harus melihat kecukupan wadahnya karena wadah tanpa isi itu kosong sedangkan isi tanpa wadah itu juga tidak bermakna, kedua-duanya harus sejalan. Kecerdasan yang sopan santun dalam filsafat ada empat cakupan yakni material, formal, normative dan spiritual, padahal yang ada dan mungkin ada mempunyai dimensi, wadah, bahasa masing-masing. Dalam bercinta itu berbeda-beda contoh cinta antara preman dan dewa. Cinta preman paling hanya merubah gang sedangkan cintanya dewa dapat merubah dunia misalkan dewa bataraguru yang bercinta bidadari surge kemudian buah cintahnya jatuh ditengah laut karena salah ruang dan waktu lahirlah batarakala (waktu salah/kala buruk). Karena salah ruang dan waktu maka isinya pertengakaran atara batarakala dan batara krisna, pertengakaran antara kebaikan dan keburukan maka hal ini dapat merubah dunia. Contoh lain: cintanya sang proklamatro dengan orang jepang, banyak orang jepang yang dihidupi oleh orang Indonesia. Dirimu kelihatan dari tutur katamu dan tutur bahasamu. Lain lagi bercintanya orang filsafat bercinta yang romantisme secara fundamental yakni secara etik, estetika, idealism. Sesungguhnya dalam berfilsafat itu akan menghasilkan pribadi-pribadi manusia yang halus serta lembut dan sampai yang paling atas spiritual. Untuk dapat memperhalus diri sendiri baca dan bacalah, pecahkan pertanyaan-pertanyaan yang menjadi masalah itu dalam diri kita. Dalam berfilsafat itu dimana pun kita berada maka kita memandangnya secara berdimensi-dimensi, ada dimensi material, dimensi formal, dimensi normative, dan dimensi spiritual contoh kita memandang keindahan pantai maka kita akan melihat pasir pantai itu material, mengikuti aturan dipantai dengan tidak mangotori pantai itu formal, dan seterusnya.=============== TERIMA KASIH ===============