Malam ini aku ditemani teman
setiaku, teman yang selalu mengerti akan kegelisahanku, teman yang selalu
memberikan solusi disaat ada tugas dari dosenku, teman yang selalu memberiku
jalan, teman yang selalu membuat aku rasa nyaman untuk bercerita, dan teman
yang selalu mendampingiku untuk melewati hari demi hari mengantarku untuk
meraih cita-cita dan pada malam hari ini pun aku meminta dia sebagai pendengar
terbaik akan kisahku.
Kisah ini bermula pada hari senin
tanggal 1 juli 2013 dimana pada saat itu awal masuk materikulasi dikampusku.
Pada pagi hari tiba, perasaan tak sabar untuk segerah kekampus muncul,
keinginan bertemu dengan teman-teman, ingin cerita banyak bersama mereka, ingin
kenalan, ingin bertukar pengalaman, dan lain-lain, maklumlah pertemuan pertama,
sampai aku didalam ruangan mulai melihat teman-teman pria terlebih dulu dan ku
ajak kenalan, ajak cerita dan seterusnya kemudian lanjutkan pandanganku kearah
wanita, saat itu dikelasku wanita kurang lebih ada 14 orang namun pandangan ku
terhenti pada satu wanita yang berjilbab, namun aku tak sempat dulu untuk
kenalan, aku terus memandanginya sehingga pandanganku tersadarkan oleh ucapan
seorang teman pria yang baru kenal dan berkata “ada dosen, ada dosen, ada
dosen” tak lama kemudian perkuliahan pun dimulai, sebagai pertemuan awal dosen
tersebut, kami di presensi satu persatu di ajak kenalan dengan sekedar menyebut
nama, asal kota dan perguruan tinggi saat S1 termasuk jurusannya, maka saat itu
akupun menunggu giliran wanita tadi untuk kenalan dan dari perkenalan itu
pertama kali mengetahuinya meskipun belum banyak keterangan yang kuperoleh
darinya yaa untuk sementara cukuplah, namun didalam hati saya mulai terpesona
dengan kecantikan wajahnya, gaya bicaranya, cara mengajak kenalannya, dan
lain-lain tak lupa aku salut dengan kemampuan bahasa inggrisnya karena pada
saat itu kami materikulasi bahasa inggris, sampai perkuliahan berakhir aku
sudah mulai mengaguminya, keesokan harinya perkuliahan pun berjalan seperti
biasanya namun saat perkuliahan berakhir saya dipanggil olehnya untuk sekedar
tanda tangan presensi saya kaget ternyata dia juga telah mengetahui namaku.
Dihari berikutnya salah satu teman mengedarkan kertas untuk sekedar menuliskan
nama, alamat, email, dan nomor HP, dengan tujuan untuk saling mengetahui lebih
jauh lagi dan ternyata kertas itu bersumber dari wanita itu dan saya pun
mendekatinya dan meminta kertas itu dengan alasan aku mau mengambil nomor HP
teman-teman yang lain. Hari demi hari
kami lewati perkuliahan materikulasi itu hingga kurang lebih satu bulan dan
kami sudah bisa akrab dan suasana pertemanan pun sudah mulai terasa, suasana
sudah mulai mencair, sudah mulai terbuka, dan seterusnya. Hingga pada saat itu
terbesit dalam hati mudah-mudahan terus-menerus kami satu kelas, maka akupun
mencari informasi lewat senior ku, dari senior bahwa “kelas materikulasi itu
masih akan dirubah karena tidak semua mahasiswa materikulasi itu dari
background pendidikan yang sama”, hingga saat itu aku mulai bimbang dan hanya bisa
berkata dalam hati mudah-mudahan kami tetap satu kelas.
Tiba lah saat pembagian kelas
sebenarnya dan ternyata kami pun tetap satu kelas, pada saat itu aku hanya berkata dalam hati Tuhan telah mengabulkan
ucapanku. Setiap hari tanpa dia sadari
aku terus memperhatikannya, aku merasa senang jika berada dalam ruangan bersama
nya, hingga ada satu saat dia meminta aku untuk membimbingnya, aku jelaskan
baik-baik tentang materi yang belum dipahaminya meskipun dengan sedikit menahan
rasa gugup. Hal itu lah yang membuat aku termotivasi disetiap mata kuliah untuk
selalu mengetahuinya terlebih dulu jika ada tugas yang diberikan dari dosen,
sekaligus menjaga jika wanita itu meminta aku untuk menjelaskan bagian tugas
yang belum dipahaminya. Saya teringat ada satu mata kuliah yang tugasnya
dikerjakan secara kelompok yang maksimal anggota kelompoknya berjumlah 2
mahasiswa maka aku berdoa mudah-mudahan bisa satu kelompok bersama dia, dan
melalui arahan ketua kelas kami di bagi kelompok secara acak dengan mengambil
kertas yang sudah diberi nomor dan secara bergilir kami mengambil nomor yang
telah disediakan, sampailah giliran aku mengambil nomor dan ternyata nomornya
sama dengan wanita itu. Setelah pembagian kelompok itu kami pun mulai bertemu
untuk membahas tugas yang diberikan oleh dosen kami terssebut, tapi pertemuannya jarang dikarenakan juga
kami mempunyai tugas kelompok yang lain. Namun disetiap malam aku terus
memikirkannya sesekali hanya untuk menghilangkan rasa penasaran aku
menguhubunginya lewat pesan singkat, ataupun blackberry massager. Hari demi
hari kami lewati perkuliahan, hari berganti minggu, minggu berganti bulan
tiba-tiba salah satu teman mengusulkan untuk kita refresing dipantai maka kami
pun tentukan pantainya, saat tiba hari H nya tepatnya pada hari sabtu pagi kami
berangkat kepantai, didalam perjalanan aku merasa senang karena dia pun ikut
kepantai, aku mulai berpikir kali ini akan banyak waktuku bersama dia, aku
ingin bercerita banyak bersama dia saat dipantai, aku ingin selalu bersama dia
nanti, dan lain-lain namun sampainya dipantai pikiran tadi justru terkubur
dalam-dalam, aku malah senang jalan sama teman yang lain begitu juga dengan
dia, mungkin ini karna kita terlalu menikmati suasana pantai yang begitu indah,
atau karena aku lebih mementingkan logikaku sendiri, entahlah saya hanya
menikmati pantainya, kapan lagi aku kesini..???? itu pertanyaan yang terbesit
dalah pikiranku, karena nikmatnya keindahan pantai terlupakan semua angan-angan
ingin jalan, ingin cerita bersamanya, sampai tiba waktu sore tanpa ada satu
kesempatan pun aku jalan berdua bersamanya kami kembali didalam perjalanan
pulang aku duduk dekat dengannya dan sekali-kali aku melihatnya hanya ingin
sekedar mempelihatkan wajahku yang sangat menyesal karna tak ada satu momen pun
bersamanya.
Kembali ke perkuliahan, seiring
dengan tugas-tugas perkuliahan yang diberikan oleh dosen kejadian dipantai
berangsur-angsur aku lupakan, hingga tiba suatu hari dia jatuh sakit kata
temannya, dan aku pun memastikan dengan mengirim sms kepadanya, namun saat aku
mendengar dia sakit, punya keinginan untuk menjenguknya tapi aku masih
menundanya, padahal teman-teman ku sudah membujuk untuk segerah menjenguknya
aku hanya katakan “sebentar dulu”, hingga malam tiba aku pun berkunjung
kerumahnya dengan niat ingin menjenguknya dan ingin membawakan sedikit makanan
namun ternyata setelah aku mengirimkan pesan singkat dan dia pun membalas bahwa
dia sedang diluar dan sudah sehat, saat mendengar itu aku bersyukur namun jauh
didalam hati aku menyalahkan diriku sendiri, kenapa saat aku mendengar dia
sakit tidak langsung menjenguknya..??
Kembali
ke perkuliahan lagi, sedikit demi sedikit penyesalan itu aku sembunyikan tanpa
sedikitpun dia tahu, aku berusaha mencari satu kesempatan lagi untuk bisa
bersamanya kembali, hingga ketua kelas aku memberikan informasi bahwa Kartu
Tanda Mahasiswa (KTM) sudah ada hari sudah menjelang siang dia pun sudah
pulang, dan KTM nya si dia titip ya mas
kata ketua kelasku, aku pun mengiyakan.
Pada malam harinya aku mencoba bawa kerumahnya saja namun malam itu
pesan singkat aku tidak dibalas akhirnya aku memutuskan untuk pulang kerumah
setelah singgah di fotocopi, sampai dirumah aku berpikir bagaimana besok
memberikannya??, aah aku harus mengatakan sesuatu sebelum memberikannya
dikelas,??. Pada pagi harinya dikelas
aku hanya memberikan biasa saja tanpa sepata kata pun, aku hanya menyedorkan
begtu saja, lagi-lagi perasaan yang saya alami tertutup oleh logika saya.
Mungkin semua kejadian diatas merupakan isyarat takdir dari
Allah SWT, aku ditakdirkan hanya sebatas temankah atau mungkin bisa lebih dari
teman, entahlah..?? hanya Allah SWT yang Maha Tahu karna saya menyadari bahwa salah
satunya mungkin mengurusi pasangan hidup. Karena itu sudah ada dalam
catatan-Nya, entah pasangan hidup di dunia atau di akhirat. Karena pasangan
sebenarnya dari setiap manusia hanya Allah-lah yang tahu. Hanya Allah-lah yang
lebih paham siapa tulang rusuknya siapa. Aku hanya meyakini bahwa takdir laki-laki yang
baik adalah perempuan yang baik, dan begitu juga sebaliknya, perempuan yang
baik dengan laki-laki yang baik. Kalaupun juga tidak terjadi demikian maka kita
harus introspeksi dan mengevaluasi diri. Pasangan kita adalah hampir cerminan
dari diri kita, dan hanya dengan takdir pernikahan yang ada komitmennya untuk bisa
saling mengerti dan memahamilah kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Aammmiinnn
Kita dianugerahi perasaan cinta dan kasih sayang. Kita harus
sebaik mungkin berusaha mencintai dan menerima pasangan yang apa adanya, atau
berniat untuk belajar mencintai sehingga jodoh tidak lagi dipersulit, tetapi
dimudahkan oleh Allah SWT. Tiada daya dan upaya kecuali dari Allah SWT, yaitu
Allah SWT mengetahui segalanya, memberikan semua kesempatan, tinggal kita
memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya.