Minggu, 17 November 2013

Peta Pendidikan Dunia Karangan Paul Ernest



Table 1: Summary of the Five Ideological Groupings (adapted from Ernest 1991)
Interest group
Industrial Trainer
Technological Pragmatist
Old Humanist
Progressive Educator
Public Educator
Politics
Radical 'New Right'
meritocratic conservative
Conservative
Liberal
Democratic socialist
View of mathematics
Set of truths and rules
Unquestioned body of useful knowledge
Body of structured pure knowledge
Process view: personalised maths
Social constructivism
Set of values
Authoritarian values choice, effort, work
Utility, progress, expediency
Objectivity, rule-centred, hierarchy
Person-centred, 'Romantic' view
Social justice, critical citizenship
Theory of society
Rigid hierarchy, market-place
Meritocratic hierarchy
Elitist, class stratified
Soft hierarchy, welfare state
Reform inequitable hierarchy
Theory of ability
Fixed and inherited, realised by effort
Inherited ability
Inherited cast of mind
Varies, but needs cherishing
Cultural product: not fixed
Mathematical aims
'Back-to-basics': and social training in obedience
Useful mathematics and certification (industry-centred)
Transmit body of maths knowledge (maths-centred)
Self-realisation, creativity, via maths (child-centred)
Critical democratic citizenship via mathematics
Theory of learning
Hard work, effort, practice, rote
Skill acquisition, practical experience
Understanding and application
Activity, play, exploration
Active, questioning, empowerment
Theory of teaching mathematics
Authoritarian transmission, drill, no 'frills'
Skill instructor, motivate through work-relevance
Explain, motivate, communicate, pass on structure
Facilitate personal exploration and prevent failure
Discussion, conflict, questioning content and pedagogy.
Theory of resources
Chalk and talk only, anti-calculator
Hands-on and microcomputers
Visual aids to motivate
Rich environment to explore
Socially relevant, authentic data
Theory of assessment in mathematics
External testing of simple basics, avoid cheating
External tests and certification, skill profiling
External exams based on knowledge hierarchy
Teacher led internal assessment, avoid failure
Various modes. Use of social issues and content
Theory social diversity
Hierarchic by social class, Eurocentric
Vary curriculum by future occupations
Vary curriculum by ability only
Use local culture to humanise maths
Accommodate social / cultural diversity

Minggu, 03 November 2013

Logika, Perasaan, Dan Takdir


 
            Malam ini aku ditemani teman setiaku, teman yang selalu mengerti akan kegelisahanku, teman yang selalu memberikan solusi disaat ada tugas dari dosenku, teman yang selalu memberiku jalan, teman yang selalu membuat aku rasa nyaman untuk bercerita, dan teman yang selalu mendampingiku untuk melewati hari demi hari mengantarku untuk meraih cita-cita dan pada malam hari ini pun aku meminta dia sebagai pendengar terbaik akan kisahku.
            Kisah ini bermula pada hari senin tanggal 1 juli 2013 dimana pada saat itu awal masuk materikulasi dikampusku. Pada pagi hari tiba, perasaan tak sabar untuk segerah kekampus muncul, keinginan bertemu dengan teman-teman, ingin cerita banyak bersama mereka, ingin kenalan, ingin bertukar pengalaman, dan lain-lain, maklumlah pertemuan pertama, sampai aku didalam ruangan mulai melihat teman-teman pria terlebih dulu dan ku ajak kenalan, ajak cerita dan seterusnya kemudian lanjutkan pandanganku kearah wanita, saat itu dikelasku wanita kurang lebih ada 14 orang namun pandangan ku terhenti pada satu wanita yang berjilbab, namun aku tak sempat dulu untuk kenalan, aku terus memandanginya sehingga pandanganku tersadarkan oleh ucapan seorang teman pria yang baru kenal dan berkata “ada dosen, ada dosen, ada dosen” tak lama kemudian perkuliahan pun dimulai, sebagai pertemuan awal dosen tersebut, kami di presensi satu persatu di ajak kenalan dengan sekedar menyebut nama, asal kota dan perguruan tinggi saat S1 termasuk jurusannya, maka saat itu akupun menunggu giliran wanita tadi untuk kenalan dan dari perkenalan itu pertama kali mengetahuinya meskipun belum banyak keterangan yang kuperoleh darinya yaa untuk sementara cukuplah, namun didalam hati saya mulai terpesona dengan kecantikan wajahnya, gaya bicaranya, cara mengajak kenalannya, dan lain-lain tak lupa aku salut dengan kemampuan bahasa inggrisnya karena pada saat itu kami materikulasi bahasa inggris, sampai perkuliahan berakhir aku sudah mulai mengaguminya, keesokan harinya perkuliahan pun berjalan seperti biasanya namun saat perkuliahan berakhir saya dipanggil olehnya untuk sekedar tanda tangan presensi saya kaget ternyata dia juga telah mengetahui namaku. Dihari berikutnya salah satu teman mengedarkan kertas untuk sekedar menuliskan nama, alamat, email, dan nomor HP, dengan tujuan untuk saling mengetahui lebih jauh lagi dan ternyata kertas itu bersumber dari wanita itu dan saya pun mendekatinya dan meminta kertas itu dengan alasan aku mau mengambil nomor HP teman-teman yang lain.  Hari demi hari kami lewati perkuliahan materikulasi itu hingga kurang lebih satu bulan dan kami sudah bisa akrab dan suasana pertemanan pun sudah mulai terasa, suasana sudah mulai mencair, sudah mulai terbuka, dan seterusnya. Hingga pada saat itu terbesit dalam hati mudah-mudahan terus-menerus kami satu kelas, maka akupun mencari informasi lewat senior ku, dari senior bahwa “kelas materikulasi itu masih akan dirubah karena tidak semua mahasiswa materikulasi itu dari background pendidikan yang sama”, hingga saat itu aku mulai bimbang dan hanya bisa berkata dalam hati mudah-mudahan kami tetap satu  kelas.
            Tiba lah saat pembagian kelas sebenarnya dan ternyata kami pun tetap satu kelas, pada saat itu aku hanya  berkata dalam hati Tuhan telah mengabulkan ucapanku.  Setiap hari tanpa dia sadari aku terus memperhatikannya, aku merasa senang jika berada dalam ruangan bersama nya, hingga ada satu saat dia meminta aku untuk membimbingnya, aku jelaskan baik-baik tentang materi yang belum dipahaminya meskipun dengan sedikit menahan rasa gugup. Hal itu lah yang membuat aku termotivasi disetiap mata kuliah untuk selalu mengetahuinya terlebih dulu jika ada tugas yang diberikan dari dosen, sekaligus menjaga jika wanita itu meminta aku untuk menjelaskan bagian tugas yang belum dipahaminya. Saya teringat ada satu mata kuliah yang tugasnya dikerjakan secara kelompok yang maksimal anggota kelompoknya berjumlah 2 mahasiswa maka aku berdoa mudah-mudahan bisa satu kelompok bersama dia, dan melalui arahan ketua kelas kami di bagi kelompok secara acak dengan mengambil kertas yang sudah diberi nomor dan secara bergilir kami mengambil nomor yang telah disediakan, sampailah giliran aku mengambil nomor dan ternyata nomornya sama dengan wanita itu. Setelah pembagian kelompok itu kami pun mulai bertemu untuk membahas tugas yang diberikan oleh dosen kami terssebut,  tapi pertemuannya jarang dikarenakan juga kami mempunyai tugas kelompok yang lain. Namun disetiap malam aku terus memikirkannya sesekali hanya untuk menghilangkan rasa penasaran aku menguhubunginya lewat pesan singkat, ataupun blackberry massager. Hari demi hari kami lewati perkuliahan, hari berganti minggu, minggu berganti bulan tiba-tiba salah satu teman mengusulkan untuk kita refresing dipantai maka kami pun tentukan pantainya, saat tiba hari H nya tepatnya pada hari sabtu pagi kami berangkat kepantai, didalam perjalanan aku merasa senang karena dia pun ikut kepantai, aku mulai berpikir kali ini akan banyak waktuku bersama dia, aku ingin bercerita banyak bersama dia saat dipantai, aku ingin selalu bersama dia nanti, dan lain-lain namun sampainya dipantai pikiran tadi justru terkubur dalam-dalam, aku malah senang jalan sama teman yang lain begitu juga dengan dia, mungkin ini karna kita terlalu menikmati suasana pantai yang begitu indah, atau karena aku lebih mementingkan logikaku sendiri, entahlah saya hanya menikmati pantainya, kapan lagi aku kesini..???? itu pertanyaan yang terbesit dalah pikiranku, karena nikmatnya keindahan pantai terlupakan semua angan-angan ingin jalan, ingin cerita bersamanya, sampai tiba waktu sore tanpa ada satu kesempatan pun aku jalan berdua bersamanya kami kembali didalam perjalanan pulang aku duduk dekat dengannya dan sekali-kali aku melihatnya hanya ingin sekedar mempelihatkan wajahku yang sangat menyesal karna tak ada satu momen pun bersamanya.
            Kembali ke perkuliahan, seiring dengan tugas-tugas perkuliahan yang diberikan oleh dosen kejadian dipantai berangsur-angsur aku lupakan, hingga tiba suatu hari dia jatuh sakit kata temannya, dan aku pun memastikan dengan mengirim sms kepadanya, namun saat aku mendengar dia sakit, punya keinginan untuk menjenguknya tapi aku masih menundanya, padahal teman-teman ku sudah membujuk untuk segerah menjenguknya aku hanya katakan “sebentar dulu”, hingga malam tiba aku pun berkunjung kerumahnya dengan niat ingin menjenguknya dan ingin membawakan sedikit makanan namun ternyata setelah aku mengirimkan pesan singkat dan dia pun membalas bahwa dia sedang diluar dan sudah sehat, saat mendengar itu aku bersyukur namun jauh didalam hati aku menyalahkan diriku sendiri, kenapa saat aku mendengar dia sakit tidak langsung menjenguknya..??
Kembali ke perkuliahan lagi, sedikit demi sedikit penyesalan itu aku sembunyikan tanpa sedikitpun dia tahu, aku berusaha mencari satu kesempatan lagi untuk bisa bersamanya kembali, hingga ketua kelas aku memberikan informasi bahwa Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) sudah ada hari sudah menjelang siang dia pun sudah pulang, dan KTM nya  si dia titip ya mas kata ketua kelasku, aku pun mengiyakan.  Pada malam harinya aku mencoba bawa kerumahnya saja namun malam itu pesan singkat aku tidak dibalas akhirnya aku memutuskan untuk pulang kerumah setelah singgah di fotocopi, sampai dirumah aku berpikir bagaimana besok memberikannya??, aah aku harus mengatakan sesuatu sebelum memberikannya dikelas,??.  Pada pagi harinya dikelas aku hanya memberikan biasa saja tanpa sepata kata pun, aku hanya menyedorkan begtu saja, lagi-lagi perasaan yang saya alami tertutup oleh logika saya.
Mungkin semua kejadian diatas merupakan isyarat takdir dari Allah SWT, aku ditakdirkan hanya sebatas temankah atau mungkin bisa lebih dari teman, entahlah..?? hanya Allah SWT yang Maha Tahu karna saya menyadari bahwa salah satunya mungkin mengurusi pasangan hidup. Karena itu sudah ada dalam catatan-Nya, entah pasangan hidup di dunia atau di akhirat. Karena pasangan sebenarnya dari setiap manusia hanya Allah-lah yang tahu. Hanya Allah-lah yang lebih paham siapa tulang rusuknya siapa.  Aku hanya meyakini bahwa takdir laki-laki yang baik adalah perempuan yang baik, dan begitu juga sebaliknya, perempuan yang baik dengan laki-laki yang baik. Kalaupun juga tidak terjadi demikian maka kita harus introspeksi dan mengevaluasi diri. Pasangan kita adalah hampir cerminan dari diri kita, dan hanya dengan takdir pernikahan yang ada komitmennya untuk bisa saling mengerti dan memahamilah kekurangan dan kelebihan masing-masing. Aammmiinnn
Kita dianugerahi perasaan cinta dan kasih sayang. Kita harus sebaik mungkin berusaha mencintai dan menerima pasangan yang apa adanya, atau berniat untuk belajar mencintai sehingga jodoh tidak lagi dipersulit, tetapi dimudahkan oleh Allah SWT. Tiada daya dan upaya kecuali dari Allah SWT, yaitu Allah SWT mengetahui segalanya, memberikan semua kesempatan, tinggal kita memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya.