Selasa, 21 November 2017

IMPROVING STUDENTS’ ATTITUDE TOWARD MATH BY USING INQUIRYLEARNING APPROACH AT CLASS XI MIA 3 STUDENTS OF SMAN 11 YOGYAKARTA



UPAYA MENINGKATKAN SIKAP SISWA TERHADAP MATEMATIKA
DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN INQUIRY
PADA SISWA KELAS XI MIA 3 SMA NEGERI 11 YOGYAKARTA

Sardin 1), Desutri Ulantari 2), Rusmiyati3)
Universitas Negeri Yogyakarta1,2), SMA Negeri 11 Yogyakarta3)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya peningkatan sikap siswa terhadap  matematika kelas XI MIA 3 SMA Negeri 11 Yogyakarta dengan menggunakan model pembelajaran inquiry.  Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Tindakan yang diberikan ialah pembelajaran inquiry  sebanyak dua siklus. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI MIA 3 SMAN 11 Yogyakarta tahun pelajaran 2014/2015 yang terdiri dari 32 siswa. Tekhnik analisis data yang digunakan adalah analisi deskriptif.
Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai sikap siswa terhadap matematika pada siklus I secara klasikal sebanyak 34,38% berkategori sangat tinggi, 56,25% berkategori tinggi, dan 9,38% berkategori sedang. Hasil ini belum memenuhi target. Oleh karena itu, diadakan siklus kedua. Pada siklus kedua skor sikap siswa terhadap matematika secara klasikal  sebanyak 44% berkategori sangat tinggi, dan 56% berkategori tinggi. Penelitian ini memberikan kesimpulan bahwa terdapat peningkatan sikap siswa terhadap matematika ditinjau dari skor secara individu maupun klasikal di kelas XI MIA 3 SMAN 11 Yogyakarta.
Kata Kunci:  Sikap Siswa Terhadap Matematika, Pembelajaran Inquiry.

IMPROVING STUDENTS’ ATTITUDE TOWARD MATH BY USING INQUIRYLEARNING APPROACH AT CLASS XI MIA 3 STUDENTS OF SMAN 11 YOGYAKARTA

Sardin1), Desutri Ulantari2), Rusmiyati3)
Universitas Negeri Yogyakarta1,2), SMA Negeri 11 Yogyakarta3)
ABSTRACT
This research aims to find out the effort to improve students’ attitude toward math at class XI MIA 3 students of SMAN 11 Yogyakarta by using Inquiry learning approach. This is a classroom action research. The treatments planned consist of applying two cycles Inquiry learning approach. Subjects of this research are 32 students of class XI MIA 3 of SMAN 11 Yogyakarta in academic year of 2014/2015. This research is using descriptive analysis as the technique of data analysis.
The research shows score of students’ attitude toward math on cycle I classically 34,375% students are in very high category, 56,25% students are in high category, 9,375% students are in moderate category. This result is yet to fulfill the criteria. Therefore, the second cycle is needed. The score shows classically that 44% students are in very high category, 56% students are in high category. We can conclude then there is an improvement of students’ attitude toward math by seeing both individual score and classical score at class XI MIA 3 of SMAN 11 Yogyakarta.
Key words:  Students’ attitude toward math, Inqury leaning


Sikap siswa berkaitan dengan keyakinan diri dalam mengambil tindakan atau keputusan dari beberapa pilihan. Keputusan yang diambil biasanya berdasarkan pemikiran maupun pertimbangan-pertimbangan dari diri siswa, jika seorang siswa yang cerdas biasanya memilih sikap yang positif sedangkan siswa yang berkemampuan rendah akan memilih sikap yang cenderung salah/negatif. Sikap positif terkadang berdasarkan kesukaan terhadap sesuatu sedangkan sikap negatif biasanya berdasarkan ketidaksukaan terhadap sesuatu. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Nitko & Brookhart (2011: 433) bahwa “attitude are characteristic of person that describe their positive and negative feelings toward particular objects, situation, institution,persoans, or idea”. sikap adalah karakteristik dari seseorang yang menggambarkan perasaan positif dan negatif mereka terhadap objek, situasi, institusi, seseorang atau ide tertentu.
Sikap positif siswa dapat dikembangkan melalui proses pembelajaran matematika. Sikap positif siswa terhadap matematika dapat di dibentuk akibat dari penerapan pendekatan pembelajaran.  Dalam Salinan Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor  Permen 64 Tahun 2013 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah dijelaskan kompetensi muatan matematika untuk tingkatan SMA kelas X-XI diantaranya:
1.   Menunjukkan sikap logis, kritis, analitis, kreatif, cermat dan teliti, bertanggung jawab, responsif, dan tidak mudah menyerah dalam memecahkan masalah,
2.   Memiliki rasa ingin tahu, percaya diri, dan ketertarikan pada matematika,
3.   Memiliki rasa percaya pada daya dan kegunaan matematika, serta sikap kritis yang terbentuk melalui pengalaman belajar,
4.   Memiliki sikap terbuka, santun, objektif, dan menghargai karya teman dalam interaksi kelompok maupun aktivitas sehari-hari,
5.   Memiliki kemampuan mengkomunikasikan gagasan matematika dengan jelas dan efektif,
Pelajaran matematika diberikan pada sekolah menengah dengan muatan kompetensi tersebut di atas diharapkan dapat menjadikan matematika sebagai bekal untuk tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang tangguh dan menggunakan matematika sebagai jawaban tantangan masa depannya.   Sejalan dengan itu dalam peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan Nomor  59 Tahun  2013 tentang kerangka dasar dan struktur kurikulum sekolah menengah atas/madrasah aliyah bahwa Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga Negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia.
Peserta didik merupakan bagian terpenting dalam proses pembelajaran. Hal ini disebabkan karena mereka merupakan pemegang tongkat estafet, tercapainya prestasi bangsa dalam pendidikan terletak pada siswa. Melalui pendidikan, segala kemampuan yang dimiliki siswa baik kemampuan prestasi belajar maupun sikap dapat berkembang secara aktif. Untuk dapat meningkatkan kemampuan tersebut guru harus membuat suasana belajar dan proses pembelajaran dikelas yang nyaman. Proses pembelajaran yang dapat menciptakan suasana belajar yang nyaman adalah dengan menggunakan pendekatan pembelajaran yang efektif dan siswa dapat berperan aktif. Pembelajaran yang mengarah pada sasaran keaktifan siswa sehingga dapat memecahkan masalah yang diberikan guru. Pendekatan pembelajaran yang cocok dalam hal ini adalah pendekatan pembelajaran Inquiri.
Berdasarkan Salinan Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor  65 Tahun 2013 Tentang Standar  Proses  Pendidikan Dasar dan Menengah pendekatan pembelajaran yang perlu diterapkan adalah  pembelajaran berbasis penyingkapan/ penelitian (discovery/inquiry learning).
Menurut pendapat Sanjaya (2008: 196) pembelajaran inquiry adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analisis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Ditambahkan Hosnan (2014: 341) bahwa pembelajaran inquiry menekankan pada aktivitas yang dilakukan peserta didik yang diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (Self-belief).
Pembelajaran inquiry dapat memberikan hasil belajar yang baik jika diterapkan di sekolah.  Hal ini berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Setiawan (2012: 309) yang menyimpulkan bahwa hasil belajar siswa dengan menggunakan metode pembelajaran inquiri lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional. Berdasarkan hal di atas peneliti menggunakan pembelajaran inquiry dalam upaya meningkatkan sikap siswa terhadap matematika.
KAJIAN PUSTAKA         
Pembelajaran Inquiry
Menurut Hamalik (2009: 63) pembelajaran berdasarkan inquiri (inquiri based teaching) merupakan suatu strategi yang berpusat pada siswa (student Centered strategy). Guru harus berusaha untuk membangun kesadaran siswa terhadap belajar. Untuk membangun kesadaran tersebut menurut Roestiyah (2001: 75) adalah guru menggunakan teknik inquiri sewaktu mengajar. Inquiri memiliki tujuan agar siswa terangsang oleh tugas, dan aktif mencari serta meneliti sendiri pemecahan masalah itu. Maksudnya bahwa siswa diharapkan mencari sumber sendiri dan mereka belajar bersama dalam kelompok. Diharapkan siswa mampu mengemukakan pendapatnya dan merumuskan kesimpulan nantinya. Juga mereka diharapkan dapat berdebat, menyanggah dan mempertahankan pendapatnya. Karena dalam metode inquiri ini memungkinkan para peserta didik menemukan sendiri informasi-informasi yang diperlukan untuk belajaranya (Sumatri & Permana, 1999: 164).  Hal ini juga senada dengan Syaefudin (2008: 169) bahwa metode inquiri merupakan proses pembelajaran berdasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis.  
Pengertian pembelajaran inquiri juga diungkapkan oleh Carin & Sund (Mulyasa, 2011: 108) bahwa inquiri adalah the proses of investigating a problem. Disini dibatasi pada pengertian bahwa inquiri adalah penyelidikan. Maksudnya bahwa pendekatan pembelajaran inquiri digunakan untuk menyelidiki kira-kira masalah yang dihadapi menggunakan pemecahan masalah seperti apa. Untuk dapat menjelaskan siswa agar memperoleh kejelasan tentang pemecahan masalah yang dihadapi itu seperti apa. Menurut Piaget (Mulyasa, 2011: 108) menyatakan bahwa metode inquiri merupakan metode yang mempersiapkan peserta didik pada situasi untuk melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mencari jawabannya sendiri serta menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukannya dengan yang ditemukan peserta didik lain. Maksudnya bahwa dengan menggunakan metode pembelajaran inquiri siswa diarahkan oleh guru agar mampu memecahkan masalah yang dihadapi baik dengan bertanya maupun mencari jawaban sendiri. Hal ini senada dengan Wayne (Trowbridge & Bybee, 1986: 181) mendefinisikan inquiri sebagai:
a general process by which human beings seek information or understanding. Broadly conceived, inquiri is a way of thought. Scientific inquiri, a subset of general inquiri is concerned with the natural word and is quided by certain beliefs and assumption.
 Sebuah proses dimana manusia adalah sebuah cara untuk berpikir untuk menemukan informasi dan memahami. Scientific inquiri sebagai bagian dari inquiri secara umum, dibimbing secara alami oleh beberapa keyakinan dan asumsi. Maksudnya bahwa pembelajaran inquiri dapat menghidupkan pikiran siswa sehingga dapat mencari informasi sendiri. Menurut Cofman (2009: 1) menjelaskan Inquiry learning implements a constructivist approach so that student interact with the content by asking questions to increase understanding and comprehension and at the same time construct their own  knowledge. Pembelajaran inquiri menggabungkan hal yang penting dari pembelajaran beraliran kontruktivisme dan menekankan pada eksplorasi siswa, penjelasan dan pengambilan keputusan. Hal ini mendorong siswa untuk menggunakannya dalam berpikir matematis dengan mengesplorasi sebuah aktivitas atau situasi dan kemudian dengan bantuan dari guru mereka merefleksikan dan memikirkan tentang apa yang telah mereka kerjakan dan temukan. Refleksi dan diskusi dengan guru sangatlah penting dalam membangun pemahaman dan pengetahuan yang tertanam dalam aktivitas tersebut.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran inquiri adalah kegiatan pembelajaran yang mengaktifkan siswa untuk mencari sendiri informasi-informasi yang relevan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.

Peran guru dalam pembelajaran inquiri
Selanjutnya peranan guru dalam pembelajaran inquiri di dalam kelas menurut Gulo (2004: 86) menyatakan bahwa peranan utama guru dalam menciptakan kondisi inquiri adalah,
a.   Motivator: memberi rangsangan supaya siswa aktif dan bergairah untuk berpikir,
b.   Fasilitator: menunjukan jalan keluar jika ada hambatan dalam proses berpikir siswa,
c.   Penanya: menyadarkan siswa dari kekeliriuan yang mereka perbuat dan memberi keyakinan pada diri sendiri,
d.   Administrator: bertanggung jawab terhadap seluru kegiatan di dalam kelas,
e.   Pengarah: memimpin arus kegiatan berpikir siswa pada tujuan yang diharapkan,
f.    Manager: megelolah sumber belajar, waktu dan organisasi kelas,
g.   Reward: memberi penghargaan pada prestasi yang dicapai dalam rangka peingkatan semangat heuristik pada siswa.

Karakteristik Pembelajaran inquiri
Pembelajaran inquiri dapat berjalan dengan baik berdasarkan ciri-cirinya yakni Menurut Sanjaya (2008: 196-197) mengatakan bahwa ada ciri-ciri utama strategi pembelajaran inquiri: a). strategi inquiri menekankan kepada aktivitias siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan artinya strategi inquiri menempatkan siswa sebagai subyek belajar, b). seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self-belief), c). tujuan dari strategi pembelajaran inquiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental.
Langkah-langkah pembelajaran inquiri
Menurut pendapat Hosnan (2014: 342-344) bahwa langkah-langkah pembelajaran inquiri adalah sebagai berikut:
a.       Orientasi
Pada langkah ini pendidik mengkondisikan pembelajaran yang responsive, pendidik mengkondisikan agar peserta didik siap melaksanakan proses pembelajaran. Pendidik merangsang dan mengajak peserta didik untuk berpikir memecahkan masalah.
b.      Merumuskan masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa peserta didik pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang peserta didik untuk berpikir memecahkan teka-teki itu. Dikatakan teka-teki dalam rumusan masalah yang ingin dikaji disebabkan masalah itu tentu ada jawabannya.
c.       Merumuskan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan. Sebagai jawaban sementara maka perlu diuji kebenarannya, perkiraan jawaban bukan sembarang perkiraan tetapi memiliki landasan berpikir yang kokoh, sehingga hipotesis yang dimunculkan itu bersifat rasional dan logis.
d.      Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam pembelajaran inquiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam mengembangkan intelektual. Dalam langkah ini guru memotivasi siswa dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan.
e.       Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menemukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Dalam langkah ini yang terpenting adalah mencari tingkat keyakinan peserta didik atas jawaban yang diberikan. Dalam langkah ini juga melatih siswa berpikir rasional. Artinya kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya sekedar argumentasi namun didukung oleh data.
f.       Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendiskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Tugas guru adalah mengarahkan peserta didik dalam memberikan kesimpulan harus berdasarkan data yang akurat agar tidak keliru.

Kelebihan dan kekurangan pembelajaran inquiri
Kelebihan pembelajaran inquiri menurut Trowbridge & Bybee, (1986: 184):
a.       Pembelajaran menjadi berpusat pada siswa
b.      Menumbuhkan self konsep dari siswa
c.       Meningkatkan harapan siswa akan mampu memecahkan masalah
d.      Membangun kemampuan lain yang dimiliki siswa seperti kreativitas, sosial, organisasi.
e.       Menghindari pembelajaran hanya pada tingkat verbal
f.       Memberikan waktu bagi siswa mengasimilasi dan mengakomodasi informasi
Kekurangan inquiri menurut Markaban (2006: 18) :
a.       Untuk materi tertentu membutuhkan waktu yang lebih lama
b.      Tidak semua siswa dapat mengikuti pelajaran dengan cara ini dilapangan, siswa masih terbiasa dan mudah mengerti dengan model ceramah.
c.       Tidak semua materi pelajaran dapat dipelajari dengan inquiri karena ada materi pelajaran yang beitan dengan ingatan atau penggunaan alat-alat
Sikap Siswa terhadap Matematika
Di dalam kurikulum 2013 terdapat tiga ranah kompetensi yang harus dikuasi oleh siswa yakni sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Sikap siswa terhadap matematika berarti karakteristik perasaan siswa baik positif maupun negatif terhadap pelajaran matematika. Sikap positif dan negatif siswa berkaitan dengan keyainan dan emosi yang dimiliki, Hal ini diperkuat oleh pendapat Popham (1995: 179-180) sikap penting untuk ditingkapkan karena sikap siswa akan menentukan seberapa jauh siswa mau belajar tentang sesuatu. Artinya bahwa    sejauh mana keyakinan dan emosi siswa dalam belajar matematika. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi sikap siswa terhadap matematika sebagaimana diungkapkan oleh Olatunde (2009: 1) bahwa sikap siswa terhadap matematika dipengaruhi oleh guru dan metode pembelajaran yang diterapkan.  
Sikap siswa terhadap matematika perlu ditingkatkan dalam setiap pembelajaran yang diberikan. Sikap siswa terhadap matematika dapat mempengaruhi prestasi belajar. Ada beberapa sikap yang perlu dikembangkan dalam pembelajaran (Popham, 1995: 184) antara lain:
a.       Pendekatan sikap terhadap pelajaran
b.      Sikap positif terhadap pembelajaran
c.       Sikap positif terhadap diri sendiri
d.      Sikap positif terhadap diri sebagai pelajar/pembelajar.
e.       Pendekatan sikap yang tepat terhadap siapa yang berbeda dari kita.
 Dari beberapa sikap  di atas  dapat mengindaksikan bahwa sikap merupakan hal yang penting dalam mengembangkan prestasi belajar matematika siswa. Hal sebagaimana diungkapkan oleh Manoah, Indoshi, & Othuon (2011: 965) yang menyatakan bahwa dalam pembelajaran matematika “…. It is advisable that students’ attitude be enhached as this will translate into improve academic achievement in the subject”. Maksudnya bahwa sebaiknya sikap siswa terhadap suatu subjek (misalnya matematika) perlu ditingkatkan untuk meningkatkan prestasi siswa di bidang tersebut. Artinya bahwa pentingnya sikap matematika siswa terhadap masa depan mereka. Hal ini diperkuat oleh pendapat Popham (1995: 183) alasan mengapa variabel afektif seperti sikap (attitude) siswa, nilai (values) penting bagi kita yaitu bahwa variabel-variabel tersebut sangat berpengaruh terhadap perilaku siswa di masa depan (masa mendatang). Senada dengan itu Biller (Peker & Mirasyedioglu, 2008: 21) juga menambahwan bahwa rasa takut atau tidak senang terhadap matematika akan menurunkan kesuksesan dalam matematika. Artinya bahwa sikap siswa terhadap matematika merupakan indikator kesuksesan matematika siswa ke depan.
Kecenderungan siswa terhadap matematika maupun belajar matematika terbagi menjadi positif, netral dan negatif. Selanjutnya sikap siswa terhadap matematika menurut Zan & Martino (2007: 158) menyatakan bahwa “Attitude toward mathematics is therefore seen as the pattern of beliefs and emotions with mathematics”. Maksudnya bahwa sikap siswa terhadap matematika dapat dilihat sebagai pola dari keyakinan dan emosi mereka terhadap matematika. Hal ini menggambarkan bahwa kecenderungan siswa terhadap matematika merupakan ungkapan apa yang mereka rasakan, dan apa yang mereka yakini. Menurut Mc Leod (Roseta & Pietro, 2007: 158) menyatakan, “… the attitude toward mathematics is just a positive or negative emotional dispotition toward mathematics”. Maksudnya adalah sikap siswa terhadap matematika merupakan disposisi emosional positif atau negative terhadap matematika. 
Dari beberapa uraian  di atas maka dapat disimpulkan bahwa sikap siswa terhadap matematika adalah respon siswa berdasarkan keyakinan/pengetahuan, perasaan emosional,  dan kecenderungan bertindak terhadap objek matematika berupa matematika itu sendiri, guru, dan pembelajaran yang dituangkan dalam pernyataan-pernyataan positif maupun negatif.

METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan secara kolaboratif. Kolaboratif artinya peneliti berkolaborasi atau bekerjasama dengan guru matematika kelas XI SMAN 11 Yogyakarta. Tindakan yang direncanakan berupa penerapan pendekatan pembelajaran inquiri untuk meningkatkan  sikap siswa terhadap matematika siswa kelas XI MIA 3.


Desain Penelitian
Tindakan penelitian ini menggunakan model siklus pelaksanaan tindakan yang dikembangkan Kemmis (Emzir, 2011: 239-240) yang mengembangkan model sederhana siklus proses penelitian tindakan yaitu empat tahap berikut: perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Sesuai dengan gambar dibawah ini;


Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: H:\GAMBR.jpg
 








Gambar 1.
Model Penelitian Tindakan Model Kemmis (dalam Emzir, 2011: 240)
Waktu Penelitian
Lokasi penelitian ini dilaksanakan di SMAN 11 Yogyakarta pada semester  ganjil. Waktu pelaksanaan penelitian pada bulan Oktober sampai dengan November  
Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI MIA 3 SMAN 11 Yogyakarta tahun pelajaran 2014/2015.

SkenarioTindakan
 Penelitian ini terdiri dari 2 siklus. Setiap Siklus terdiri dari perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflection).  Siklus dihentikan jika pembelajaran matematika dengan pendekatan pembelajaran inquiri yang dilakukan telah sesuai dengan indikator keberhasilan penelitian.
Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan angket. Angket yang digunakan untuk mengukur sikap siswa terhadap  matematika. Hasil dari angket ini akan digunakan untuk mengevaluasi model pembelajaran yang digunakan. Angket sikap terhadap matematika yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk daftar cocok (checklist) yang berisi pernyataan-pernyataan tentang kognitif (kepercayaan atau pengetahuan) terhadap matematika, afektif (emosi, motivasi) atau perasaan siswa terhadap matematika, performa/konatif (perilaku atau kecenderungan bertindak) terhadap matematika, dan guru matematika. adapun kisi-kisi angket sikap siswa terhadap matematika dapat dilihat pada tabel berikut ini
Tabel 1.
Angket sikap siswa terhadap matematika
Komponen
Pernyataan
Matematika
Kognitif

Matematika adalah ilmu yang mudah saya pelajari
Saya tidak membutuhkan matematika ketika saya sudah lulus
Penerapan matematika berguna bagi perkembangan teknologi
Bagi saya tidak mudah mempelajari matematika dibandingkan dengan pelajaran lain
Afektif
Saya tidak senang belajar matematika
Saya tidak tertarik dengan hal-hal yang berkaitan dengan matematika
Saya senang belajar matematika karena saya mengetahui kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari
Konatif
Bila memahami matematika dengan baik maka memudahkan saya mempelajarai pelajaran lain
Semakin mempelajari matematika semakin saya tidak paham.
Bila matematika tidak bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari maka saya tidak mempelajarinya
Guru
Kognitif
Guru matematika yang baik memberikan jawaban yang jelas mengenai materi  matematika yang ditanyakan oleh siswa.
Guru matematika yang baik menjelaskan tujuan yang ingin dicapai dalam belajar matematika
Guru matematika yang baik memberikan pertanyaan diawal pembelajaran
Afektif
Saya senang jika guru matematika berhalangan tidak hadir
Saya takut jika ditunjuk guru untuk mengerjakan soal dipapan tulis
Saya merasa senang jika tidak mengerjakan PR
Konatif
Jika guru memberikan kesempatan untuk bertanya tentang materi yang belum dipahami maka saya bertanya
Bila guru memberikan kesempatan untuk mengerjakan soal latihan matematika dikelas  maka saya tidak mengerjakannya
Bila guru memberikan buku matematika maka saya membacanya
Pembelajaran
Kognitif
Pembelajaran matematika yang digunakan guru membosankan bagi saya
Belajar matematika sangat membantu untuk mempelajari materi pelajaran lain
Saya mempelajari kembali materi matematika dirumah adalah prioritas saya.
Belajar matematika membuat saya akrab dengan teman-teman saya
Afektif
Saya merasa rugi bila tidak memperhatikan ketika guru menerangkan meteri pelajaran matematika
Saya senang mengerjakan tugas-tugas matematika yang diberikan guru
Saya senang jika diberikan soal-soal yang sulit oleh guru dikelas
Konatif
Jika pembelajaran matematika dengan menggunakan teknologi (laptop, infokus) dikelas maka saya akan memperhatikan dengan baik
Jika mendapatkan soal yang sulit maka saya bertanya kepada teman atau guru
Jika pelajaran matematika pada siang hari maka akan membuat saya mengantuk
Jika ada materi matematika yang saya tidak pahami maka saya malas untuk  mencari solusinya lewat internet, guru, atau teman.

Model skala sikap yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala Likert yang terdiri atas lima respon. Adapun respon tersebut adalah ‘sangat setuju (SS)’, ‘setuju (S)’, ‘ragu-ragu (R)’, ‘tidak setuju (TS)’, dan ‘sangat tidak setuju (STS)’ dengan kriteria pemberian skor sesuai dengan table berikut.
Tabel 2.
Kriteria Pemberian Skor
Sifat Pernyataan
Kriteria Pemberian Skor

  (SS)
 (S)
  (R)
  (TS)
  (STS)
Positif
5
4
3
2
1

Negatif
1
2
3
4
5


Banyaknya item untuk angket sikap yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak tiga puluh item. Item-item tersebut kemudian disusun dalam bentuk checklist untuk kemudian diberikan kepada kelas sampel penelitian yang sudah dipilih.

Lembar observasi aktivitas pembelajaran matematika siswa
Lembar observasi aktivitas siswa ini digunakan untuk mengamati/mengetahui sejauh mana peningkatan kemampuan kognitif matematika siswa ditinjau dari penyelesaian soal matematika yang diberikan, dengan menggunakan pendekatan pembelajaran inquiri. Berikut ini merupakan kisi-kisi aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran inquiri yang sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran inquiri pada kajian teori.
Tabel 3.
Kisi-kisi aktivitas siswa mengikuti pembelajaran dengan model inquiri
Langkah-langkah inquiri
Indikator
Orientasi Masalah
·   Guru menjelaskan topik pembelajaran
·   Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai
·   Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan
·   Menjelaskan pentingnya topik pembelajaran
Merumuskan masalah
·   Menyatakan masalah dengan bahasa sendiri
·   Mencari informasi apa yang terkait dengan masalah
·   Mencari apa yang telah diketahui dan ditanyakan dalam masalah tersebut
 Merumuskan hipotesis
·   Menuliskan pola yang sesuai dengan masalah
·   Memeriksa hubungan masalah dengan pola
·   Menggunakan perkiraan dan mengeceknya
·   Bekerja mundur/menebak jawaban sementara
 Mengumpulkan data
·  Guru memberikan pertanyaa-pertanyaan yang mendorong siswa untuk mencari informasi/data yang relevan dengan permasalahan
Menguji hipotesis
·  Menggunakan data yang relevan dal menyelesaikan masalah dengan pola/rumus yang sesuai
Merumuskan kesimpulan
·  Siswa diberi kesempatan untuk mempresentasikan hasil pekerjaannya didepan kelas

Teknik Analisis Data
Analisis data dilakukan sejak data diperoleh dari hasil observasi oleh peneliti. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk data yang berkaitan dengan sikap siswa terhadap matematika, data dideskripsikan adalah jumlah skor angket sikap siswa terhadap matematika yang diperoleh siswa untuk kemudian dikategorikan berdasarkan skor baku. Penyekoran untuk angket sikap siswa terhadap proses pembelajaran matematika dalam penelitian ini memiliki rentang skor antara 30 sampai dengan 150. Untuk menentukan kriteria hasil pengukurannya digunakan klasifikasi yang ditentukan dengan rata-rata ideal (Mi) dan standar deviasi ideal (SDI). Adapun perhitungan nilai MI dan SDInya adalah sebagai berikut: Mi = (30 + 150)/2 = 90 dan SDI = (150 – 30)/6 = 20 dengan kriteria sikap siswa terhadap matematika seperti pada tabel dibawah ini






Tabel 4.
Kriteria Sikap Siswa terhadap Matematika
Interval
Skor (X)
Kategori
Mi+1,5SDIXMi+3SDI
120X 150
Sangat Baik
Mi+0,5SDIXMi+1,5SDI
100X 120
Baik
Mi-0,5SDIXMi+0,5DI
80X100
Cukup baik
Mi-1,5SDIXMi-0,5SDI
60X80
Kurang baik
Mi-3SDI XMi-1,5SDI
30X60
Sangat kurang baik
(Sumber: Azwar, 2013: 163).
Setelah memperoleh data pengukuran sikap siswa terhadap matematika dengan ketentuan total skor masing-masing siswa dikategorikan berdasarkan kriteria tabel diatas. Skor ini akan digunakan untuk menentukan keefektifan pembelajaran dalam penelitian ini. Pembelajaran dikatakan efektif jika  hasil angket sikap siswa terhadap matematika mancapai 60% siswa dengan sikap sangat tinggi dan 40% siswa dengan sikap tinggi.
2.      Analisis Hasil Observasi
Lembar observasi digunakan sebagai pedoman ketika melakukan pengamatan untuk mengetahui seberapa besar aktivitas siswa dalam belajar matematika selama proses pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran inquiri. Lembar observasi digunakan untuk memonitor dan mengevaluasi setiap tindakan agar kegiatan observasi tidak terlepas dari konteks permasalahan dan tujuan penelitian. Pedoman lembar observasi ini berisi tentang aktivitas  siswa dan aktivitas pembelajaran oleh guru. Cara menganalisanya yaitu dengan mendeskripsikan aktivitas siswa dan guru saat berlangsungnya pembelajaran inquiri dengan menggunakan lembar pedoman observasi pelaksanaan pembelajaran
.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini diawali dengan kegiatan observasi awal dan wawancara dengan guru terhadap proses pembelajaran dalam kelas. Hasil observasi awal menunuiukan bahwa masalah yang dirasakan oleh guru dalam proses penerapan model pembelajaran matematika yang selama ini dilakukan di kelas XI MIA 3 SMAN 11 Yogyakarta. Masalah lainnya adalah kurangnya kesadaran siswa akan pentingnya mempelajari matematika. hal ini dapat tercermin dalam sikap siswa terhadap matematika dalam keseharian mereka, kurangnya kedisiplinan, banyak siswa yang keluar masuk saat proses pembelajaran berlangsung, adanya siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru, dan lain-lain. Siswa masih beranggapan bahwa dalam belajar matematika yang dinilai hanya pengetahuan kognitif saja. Oleh karena itu, guru merasa sulit untuk menjelaskan pentingnya sikap menghargai matematika kaitannya dengan menyelesaikan soal. Suatu ketika peneliti menanyakan salah satu siswa tersebut dalam rangka mengobservasi tentang pengetahuan siswa terhadap pentingnya sikap dalam pembelajaran matematika kaitannya dengan mengerjakan suatu masalah yang diberikan guru. Berdasarkan wawancara dengan salah satu siswa merupakan cermin dari alasan kenapa banyak siswa rendah dalam pemecahan masalah dikarenakan dalam soal yang diberikan pihak sekolah maupun dari latihan soal yang diberikan guru, siswa lebih diarahkan hanya pada hasil akhir atau soal berbentuk pilihan ganda. Oleh karena itu, nilai dari jawaban secara singkat dan pola pikir siswa menjadi tidak mencerminkan pentingnya sikap siswa terhadap mata pelajaran matematika dalam proses pembelajaran matematika yang diajarkan. Dimana dalam pembelajarannya guru masih menggunakan pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pembelajaran konsep yang bersifat hafalan. Selama ini proses pembelajaran berpusat atau terfokus pada guru. Namun masalah semakin konkret ketika hasil pretest siswa menunjukkan hasil belajar siswa yang rendah pada sebagian besar nilai matematika seluruh kelas XI SMAN 11 Yogyakarta yang masih belum mencapai KKM yang ditetapkan. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata pretest adalah sebesar 73,43. Nilai rata-rata ini masih belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditetapkan   yaitu 80,00. Berdasarkan hal tersebut, peneliti melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk menerapkan pembelajaran dengan pendekatan inquiri.

Tindakan Siklus I
Perencanaan
Setelah ditetapkan untuk menerapkan pendekatan pembelajaran inquiri untuk meningkatkan sikap siswa terhadap matematika selanjutnya menyiapkan beberapa hal yang diperlukan selama pelaksanaan tindakan. Peneliti bersama guru melakukan pembentukan kelompok yang disesuaikan dengan pendekatan pembelajaran inquiri. Karena jumlah siswa  kelas XI MIA 3 SMAN 11 Yogyakarta sebanyak 32 orang, maka kelompok yang dibentuk sebanyak 8 kelompok, dengan setiap kelompok terdiri dari 4 orang. Dalam setiap kelompok terdiri dari siswa laki-laki dan perempuan yang memiliki kemampuan berbeda. Selanjutnya peneliti melakukan hal-hal sebagai berikut:
1.      Pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). RPP yang dibuat untuk siklus I terdiri dari 2 pertemuan pada materi “Barisan dan Deret tak hingga”, dengan menggunakan pendekatan pembelajaran inquiri.
2.      Menyiapkan lembar observasi yang ditujukan pada guru dan siswa (aspek yang diobservasi didasarkan pada langkah-langkah pembelajaran pada RPP),
3.      Menyiapkan LKS
4.      Merancang perangkat evaluasi untuk tes siklus I
Persiapan lainnya adalah lebih memantapkan pengetahuan dan pemahaman peneliti tentang materi dan tehnik mengenai pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran inquiri.

Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan penelitian tindakan kelas dilakukan oleh guru dengan bantuan peneliti sebagai pengamat (observer). Terkait pelaksana penelitian ini adalah guru, disebabkan dari hasil diskusi peneliti dan guru kelas tersebut bahwa untuk menghindari adanya hasil penelitian yang bias, dikarenakan pelaksananya adalah orang yang baru mereka kenal. Hal tersebut disiasati dengan kegiatan kolaborasi/ kesepakatan bahwa guru harus mengikuti pendekatan pembelajaran yang akan disusun peneliti pada RPP sebagai acuan guru dalam melaksanakan penelitian tersebut. Tindakan pembelajaran siklus I dilaksanakan dalam empat kali pertemuan.
Pada setiap pertemuan memberikan informasi bahwa keterlaksanaan pembelajaran pada pertemuan pertama sebesar 70%, pertemuan kedua  sebesar 70%, pertemuan ketiga sebesar 78%, dan  pertemuan keempat sebesar 83%.  

Observasi   
Pada tahap ini peneliti mengobservasi setiap pelaksanaan proses pembelajaran selama siklus I menggunakan lembar observasi. Setiap aspek yang diamati disusun mengacu pada RPP dan ditujukan terhadap guru dan siswa kelas XI MIA 3 SMAN 11 Yogyakarta. Hal-hal yang diobservasi meliputi cara guru dalam menyampaikan materi pelajaran yang sesuai dengan pendekatan pembelajaran inkuiri dan sikap siswa selama mengikuti pelajaran, keaktifan siswa selama diskusi kelompok, kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah, keberanian siswa untuk bertanya dan menyampaikan pendapat, keberanian menjelaskan temuannya di depan kelas. Secara umum hasil observasi selama pelaksanaan siklus I terhadap guru dan siswa masih kurang dalam hal pengorganisasian kelompok-kelompok, tidak semua siswa aktif,  panduan LKS dan RPP, dan jalannya presentasi.

Evaluasi
Setelah 4 kali pertemuan dirasa cukup untuk menyelesaikan kompetensi dasarMemahami konsep barisan tak hingga sebagai fungsi dengan daerah asal himpunan bilangan asli”, dilaksanakan evaluasi tindakan siklus I  yakni dengan memberikan angket sikap siswa terhadap matematika menunjukan hasil bahwa sebesar 34,38% berkategori sangat tinggi, 56,25% berkategori tinggi, dan 9,38% berkategori sedang.

Refleksi
Pada tahap ini, peneliti bersama guru menilai dan mendiskusikan kelemahan-kelemahan yang terdapat pada pelaksanaan tes siklus I yang akan diperbaiki pada siklus II. Pada siklus I ini, penerapan pembelajaran menggunakan pendekatan inquiri masih belum optimal. Penerapan pendekatan inquiri merupakan hal yang baru bagi siswa, berdasarkan hasil observasi peneliti menilai siswa belum dapat memahami betul tujuan pembelajaran secara berkelompok yang mengutamakan kebersamaan dalam kerja kelompok, keaktifan dalam belajar, kemauan dalam membantu teman, kemauan berperan serta untuk lebih aktif dalam kelompok. Disamping itu siswa juga belajar saling menghargai dalam hidup berdampingan satu sama lain, sehingga kebersamaan betul-betul terjalin dengan baik dan pada akhirnya kegiatan tidak didominasi oleh siswa tertentu saja terutama hanya siswa yang gemar mata pelajaran matematika.  
   Mengingat masih banyaknya kekurangan serta kelemahan yang terjadi pada pelaksanaan tindakan siklus I dan hasil belajar matematika pada evaluasi siklus I yang belum memenuhi indikator keberhasilan, maka penelitian dilanjutkan pada tindakan siklus II dalam upaya meningkatkan sikap siswa terhadap matematika di kelas XI MIA 3 SMAN 11 Yogyakarta melalui pembelajaran inquiri.
   Berdasarkan hasil refleksi tersebut dan setelah peneliti berkonsultasi dengan guru, maka direkomendasikan guru dan siswa perlu melakukan perbaikan pada siklus berikutnya. Adapun hal-hal yang perlu dilakukan perbaikan adalah sebagai berikut:
1.      Peneliti harus dapat melaksanakan proses pembelajaran secara maksimal agar skenario pembelajaran terlaksana dengan baik.
2.      Selama proses belajar mengajar berlangsung peneliti harus mengorganisasikan waktu dengan baik.
3.      Peneliti harus sering memberikan motivasi kepada siswa untuk belajar.
4.      Peneliti harus mengefektifkan pemantauan dan bimbingan terhadap semua siswa.
Tindakan Siklus II
Perencanaan
Berdasarkan hasil observasi, evaluasi dan refleksi pada tindakan siklus I, maka peneliti bersama guru merencanakan tindakan siklus II, agar kelemahan-kelemahan yang terjadi pada pelaksanakan tindakan siklus I dapat diperbaiki dan mencapai hasil yang maksimal. Oleh karena itu, guru harus lebih mengoptimalkan seluruh faktor yang mempengaruhi keberhasilan pembelajaran yaitu guru harus mesikapi siswa untuk dapat bekerjasama dengan baik bersama anggota kelompoknya dan dapat menghargai jawaban atau pendapat orang lain (teman maupun guru) serta mengungkapkan pengetahuan yang telah diperolehnya dan memberikan informasi kepada teman-temannya dalam proses interaksi belajar siswa di kelas.
Selanjutnya, pada tahap perencanaan ini peneliti berkolaborasi dengan guru melakukan hal sebagai berikut:
1)      Membuat rencana perbaikan pembelajaran (RPP) untuk tindakan siklus II.
2)      Membuat lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran yang ditujukan pada guru dan  siswa.
3)      Menyiapkan perangkat pembelajaran yang diperlukan seperti membuat Lembar Kerja Siswa (LKS)  
4)      Menyiapkan  perangkat evaluasi untuk evaluasi tindakan siklus II.

Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan siklus II terdiri dari 3 kali pertemuan. Pada penelitian siklus kedua, yang bertindak sebagai guru adalah peneliti sendiri sedangkan guru sebagai pengamat (observer).
Pada setiap pertemuan memberikan informasi bahwa Keterlaksanaan pembelajaran pada pertemuan pertama sebesar 87%.  Keterlaksanaan pembelajaran pada pertemuan kedua sebesar 91%.  Keterlaksanaan pembelajaran pada pertemuan ketiga sebesar 91%.  

Observasi   
Pada siklus II ini, pembelajaran dilakukan dalam 3 kali pertemuan dengan pembelajaran menggunakan pendekatan inquiri. Dengan cara ini pembelajaran menjadi lebih bermakna dan dapat meningkatkan sikap siswa terhadap matematika. Hasil observasi terhadap guru dan siswa menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
1)      Guru sudah mampu mengorganisasikan waktu pembelajaran dengan baik dan langkah-langkah pembelajaran telah sesuai dengan RPP.
2)      Setiap kelompok sudah diberikan tugas menyelesaikan soal-soal latihan melalui LKS dan bimbingan guru sudah dirasakan siswa di setiap kelompok.
3)      Guru cukup baik dalam melakukan bimbingan dan kontrol  untuk setiap siswa dalam kelompok sehingga mereka sangat antusias mengikuti pembelajaran.
   Sementara itu, hasil observasi terhadap siswa menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
1)      Siswa senang belajar dalam kelompok karena adanya kebersamaan, kerja sama dan sikap tanggung jawab sebagai anggota kelompok.
2)      Dalam kelompok tersebut juga antar siswa dapat saling berbagi pengetahuan dan berani bertanya kepada guru.
3)      Pada pertemuan kedua, siswa sudah bisa mengikuti pembelajaran yang diterapkan guru  sudah tidak terlihat lagi siswa yang melakukan aktivitas diluar kegiatan belajar.
4)      Guru memberikan refleksi dengan memberikan pertanyaan kepada siswa, dan siswa menjawab dengan benar.
5)      Siswa dalam kelompok mampu mengikuti pembelajaran dengan baik dan menyenangkan.
6)      Adanya siswa  yang sudah berani dalam mengungkapan pendapatnya 
7)      Siswa dibeberapa kelompok terlihat belum semuanya aktif dalam menyimpulkan materi.
Secara umum, ketuntasan hasil observasi akitivitas siswa pada proses pembelajaran yang dilakukan guru pada siklus kedua sudah mencapai 91%. Hasil observasi siswa ini meningkat sebesar 8% dibandingkan dengan kegiatan pembelajaran di akhir siklus I. Hal ini menunjukkan bahwa indikator kinerja dari segi proses pembelajaran telah tercapai ketuntasan yaitu minimal 80% proses pelaksanaan tindakan dilaksanakan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelaran yang diperbaikan  dan disepakati untuk dilaksanakan pada siklus II.

Evaluasi
Pada siklus II, pembelajaran dilakukan selama 3 kali pertemuan sudah dirasa cukup, dikarenakan materi pada kompetensi dasar pada siklus II memuat tentang hubungan antar garis. Rangkaian selanjutnya pada tindakan ini adalah memberikan evaluasi tindakan siklus II, Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan kognitif siswa pada materi “hubunbgan antar garis” setelah diterapkan pendekatan pembelajaran inquiri. Selain itu, juga untuk melihat apakah pelaksanaan tindakan siklus II lebih baik atau mengalami peningkatan dari pelaksanaan tindakan siklus I. Adapun hasil evaluasi tindakan siklus II  yakni angket siswa terhadap matematika pada kategori sangat tinggi memperoleh skor 44% dan kategori tinggi memperoleh skor 56%. Hal ini sudah memenuhi target yang ditetapkan untuk kategori sangat tinggi sebesar 40% dan kategori tinggi sebesar 56%.  
   Hasil evaluasi siklus II menunjukan bahwa hasil angket sikap siswa terhadap matematika melalui pembelajaran inquiri pada siklus II, mengalami peningkatan sebesar 4,73%.  Dari pengamatan yang dilakukan peneliti, keberhasilan hasil pelaksanaan tindakan siklus II dapat dilihat dua segi yaitu: Pertama, dari segi proses: pelaksanaan rencana pelaksanaan pembelajaran oleh guru telah mencapai indikator lebih dari 80%. Kedua, dari segi hasil secara perorangan telah mencapai indikator yang ditetapkan yakni telah mencapai lebih dari 75% siswa memperoleh nilai ³ 75. Mengacu pada indikator kinerja penelitian ini, dapat disimpulkan sudah target telah tercapai.

Refleksi
Kegiatan refleksi pada siklus II, menunjukkan hasil yang baik, baik bagi guru maupun peneliti. Hasil observasi yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan pendekatan inquiri yang diterapkan di kelas XI MIA 3 SMAN 11 Yogyakarta memberikan hasil yang sangat baik. 
Selain itu, telah ada peningkatan jumlah siswa yang mampu menyampaikan pendapatnya dalam diskusi kelas walaupun hanya sedikit dan mendapat bimbingan dari guru. Banyak siswa lebih aktif dalam menjelaskan kembali pengetahuan yang telah diperolehnya, bertanya, mengemukakan pendapat dalam kelompoknya, serta dapat menyimpulkan materi. Secara umum, kelemahan pada pelaksanaan tindakan siklus I telah diperbaiki pada siklus II.   
Pembahasan
Penelitian tindakan kelas (classroom action research) ini terdiri dari 2 siklus.  Siklus I terdiri dari 4 kali pertemuan dan siklus II terdiri dari 3 kali pertemuan yang dilaksanakan sesuai dengan prosedur penelitian yang tertuang dalam RPP yang telah dirancang. Kuantitas pertemuan dalam setiap siklus didasarkan pada kepadatan materi yang dibahas. Pada siklus satu menjelaskan materi barisan dan deret tak hingga sedangkan pada siklus II menjelaskan materi tentang hubungan antar garis. 
Sebelum dilaksanakan tindakan pada siklus I terlebih dahulu peneliti dan guru memperhatikan hasil pretest dan angket sikap siswa terhadap matematika siswa kelas XI MIA 3 SMAN 11 Yogyakarta dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan awal yang dimiliki siswa. Hasil observasi awal menunjukkan kemampuan siswa rata-rata masih dibawah nilai 80 dan kondisi awal untuk sikap siswa terhadap matematika yakni 13% kategori sangat tinggi, 61% kategori tinggi, 23% kategori sedang, dan 3% kategori rendah. Maka dari hasil ini peneliti menetapkan target yang harus dicapai 40% untuk kategori sangat tinggi, dan 60% untuk kategori tinggi. Tentu hal ini mengharuskan perlu adanya suatu tindakan dalam pembelajaran sehingga dapat ditingkatkan  .
Berdasarkan observasi pelaksanaan pembelajaran matematika pada materi menyelesaikan barisan dan deret tak hingga untuk siklus I, menunjukkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan inquiri belum sempurna dilaksanakan sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah dibuat. Guru tidak menyampaikan tujuan pelajaran yang akan dicapai, kurang membimbing siswa untuk mengarahkan pembelajaran yang saling berinteraksi dengan baik antar siswa dengan siswa yang dilihat dari kurangnya kerjasama siswa dan masih kurang kemampuan berpendapat siswa, siswa kurang aktif pada saat diskusi kelompok atau belum meratanya aktivitas diskusi atau siswa yang mempunyai kemampuan yang tinggi lebih mendominasi jawaban dari setiap kelompok tersebut. Kekurangan guru yang lain adalah masih kurang efektifnya bimbingan terhadap kelompok diskusi di kelas. Pada pertemuan I siklus I misalnya guru hanya membimbing sebagian kelompok saja, sedangkan kelompok yang lain tidak mendapat bimbingan langsung dari guru. Pendekatan pembelajaran inquiri dapat membantu siswa untuk lebih banyak bekerjasama dan menyatukan pendapat dalam kelompoknya, serta dapat mengaplikasikan penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari siswa. Pembelajaran inkuiri juga dapat mengaantarkan siswa untuk menjadi penemu. Artinya siswa mencari dan menemukan sendiri informasi-informasi yang diperlukan dalam memecahkan masalah. Dalam pembelajaran inkuirio juga dapat memabanrtu siswa untuk meningkatkan keaktifan, kerjasama, saling menghargai pendapat, saling mengisi kekurangan, dan setrunya. Demikian juga hal yang sama terlihat ketika diskusi kelas berlangsung, guru belum mengoptimalkan perannya sebagai fasilitator, mediator dan organisator pembelajaran sebagimana dalam tuntunan peran guru dalam pembelajaran inkuiri.
Dalam pembelajaran ini juga peneliti mengamati perkembangan siswa. Secara umum untuk siklus I terdapat beberapa kekurangan yaitu tidak semua siswa aktif dalam diskusi kelompoknya, sedikit yang mengemukakan pendapat dan masih banyak kelompok yang tidak memperhatikan petunjuk yang terdapat dalam LKS. Namun, dalam perkembangannya keterampilan guru dalam menerapkan pembelajaran menggunakan pendekatan inquiri khususnya pada siklus I semakin baik dari setiap pertemuan yang dilaksanakan. Guru pun dinilai cukup baik dalam mesikapi siswa pada pertemuan kedua siklus I karena sudah sering memberikan penghargaan berupa pujian kepada siswa dan ungkapan “bagus” dan sesekali memberikan reward berupa tepuktangan bagi kelompok dengan presentasi yang bagus. Ketika presentasi kelompok di depan kelas dan inilah yang membuat siswa lebih tersikapi untuk jadi kelompok yang terbaik di kelasnya dan memberi energi positif bagi optimalisasi hasil belajar siswa terutama bagaimana siswa menyikapi matematika itu sendiri.
Hasil evaluasi tindakan siklus I dilihat dari ketuntasan proses pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan guru dan siswa hanya rata-rata mencapai 75,25%. Sedangkan pada hasil observasi pada pelaksanaan tindakan untuk siklus II ketuntasan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dilakukan guru pada siklus II rata-rata mencapai 89,67%. Hal ini karena guru sudah cukup baik dalam memberi semangat kerjasama dan apersepsi kepada siswa. Selanjutnya, guru sudah mampu mengikuti langkah-langkah pembelajaran yang terdapat dalam rencana perbaikan pembelajaran. Selain itu, guru mampu mengarahkan dan mesikapi siswa yang bertanya dan berbagi dengan temannya yang belum memahami pembelajaran. Guru juga cukup baik dalam memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjelaskan kembali pengetahuan yang telah diperolehnya. Keterampilan dalam memandu diskusi siswa terlihat meningkat pada siklus II.  
Sementara itu, hasil observasi terhadap siswa secara umum menunjukkan bahwa siswa lebih aktif dalam belajar, bertanya, dan berdiskusi secara bermakna dengan rekannya di dalam kelompok, antar kelompok, dan kepada guru. Hal ini sangat positif dalam memacu upaya meningkatkan kemampuan kognitif matematika siswa dan sikap siswa terhadap matematika yang terintegrasi pada materi yang diajarkan yakni hubungan antar garis.
 Secara umum siswa yang mampu menunjukkan penemuan serta pemahaman konsep pada barisan dan deret tak hingga serta hubungan antar garis. Dengan kata lain, hasil evaluasi siklus II menunjukkan bahwa  sikap siswa terhadap matematika mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan evaluasi siklus I. Berdasarkan uraian di atas, maka dari segi pemberian angket sikap siswa terhadap matematika  yang diperoleh siswa sudah mencapai indikator kriteria yang ditetapkan. Demikian juga dengan ketuntasan mengajar guru telah mencapai indikator kriteria dari segi proses pelaksanaan pembelajaran. Jadi, dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran inquiri pada pembelajaran matematika, sikap siswa pada matematika di kelas XI MIA 3 SMAN 11 Yogyakarta dapat ditingkatkan pada pokok bahasan barisan dan deret tak hingga serta hubungan antar garis.
Secara umum peningkatan kemampuan sikap siswa terhadap matematika dan  keterlaksananaan pemebelajaran dengan menggunakan model pembelajaran inquiri pada materi barisan dan deret tak hingga serta hubungan antar garis dapat melihat tabel dibawah ini.
Tabel 5.
Hasil Penelitian siklus I dan siklus II



Berdasarkan tabel diatas peningkatan sikap siswa terhadap matematika dengan menggunakan pendekatan  inquiri pada siklus I pada kategori sangat tinggi sebesar 34,375% meningkat pada siklus II sebesar 44%, kategori tinggi pada siklus I 56,25% menjadi 56% pada siklus II, kategoti sedang pada siklus I sebesar 9,375% menjadi 0% pada siklus II.
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa melalui penerapan pendekatan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan inquiri nilai sikap siswa terhadap matematika siswa pada siklus I secara klasikal sebanyak 34,375% berkategori sangat tinggi, 56,25% berkategori tinggi, dan 9,375% berkategori sedang. Hasil ini belum memenuhi target. Oleh karena itu, diadakan siklus kedua. Dimana pada siklus kedua skor sikap siswa terhadap matematika siswa pada siklus II secara klasikal  sebanyak 44% berkategori sangat tinggi, dan 56% berkategori tinggi. Hasil ini telah melampaui target yang ditetapkan yakni 40% untuk kategori sangat tinggi dan 60% untuk kategori tinggi.
Berdasarkan hal tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa dari siklus pertama kesiklus kedua terdapat peningkatan sikap siswa terhadap matematika dilihat dari skor secara individu maupun klasikal di kelas XI MIA 3 SMAN 11 Yogyakarta dengan menggunakan model pembelajaran inquiri.

Saran
1.      Diharapkan guru dapat menerapkan pembelajaran dengan pendekatan inquiri dalam proses pembelajaran matematika pada materi Barisan dan deret tak hingga serta Hubungan antar garis
2.      Selanjutnya guru diharapkan dapat melakukan penelitian tentang penerapan pendekatan pembelajaran yang lain yang dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa, baik aspek sikap, pengetahuan, maupun keterampilan.
DAFTAR RUJUKAN

Azwar. S. (2011). Tes prestasi. fungsi dan pengembangan pengukuran prestasi belajar. (edisi kedua).Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Cofman, T. (2009). Engaging students through inquiry oriented learning and technologi. New York: The rowman & littleshing group,inc.
Emzir. (2011). Metodologi Penelitian Pendidikan, Kuantitatif dan Kualitatif. Jakarta: Raja Grafindo Prentice-Hall, Inc.
Gulo,W. (2004). Strategi belajar mengajar. Jakarta: PT. Gramedia
Hamalik, O. (2009). Pendekatakn baru strategi belajar mengajar berdasarkan CBSA menuju profesionalitas guru dan tenaga pendidik. Bandung: Sinar Baru Rosdakarya.
Hosnan, M.. (2014). Pendekatan saintifik dan kontekstual dalam pembelajaran abad ke 21. kunci sukses implementasi kurikulum 2013. Bogor: Ghalia Indonesia.
Markaban. (2006). Model penemuan terbimbing pada pembelajaran matematika SMK (versi elektronik). Yogyakarta: P4TK, Dinas Pendidikan Nasional.
Mendikbud. (2013). Lampiran peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan nomor 64 tahun 2013, tentang standar isi pendidikan dasar dan menengah
Mendikbud. (2013). Lampiran peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan nomor  65 tahun 2013, tentang standar  proses  pendidikan dasar  dan menengah
Mendikbud. (2013). Lampiran peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan nomor 69  tahun 2013, tentang kurikulum sekolah menengah atas/madrasah aliyah
Mulyasa, E.(2011). Menjadi guru profesional menciptakan pembelajaran kreatif dan menyenangkan. Bandung: Remaja RosdaKarya
Nitko, A.J. Brookhart, S.M. (2007). Educational assessment of student. Upper Saddle River, NJ: Perason Education.
Olatunde,Y.P. (2009). Student Attitude towards mathematics and academics and academic achievement in some selected secondary school in southwestern Nigeria. European journal of scientific research. Vol 36, No 3, 336-341.
Peker, M., & Mirasyedioglu, S. (2008). Pre-service elementary school teachers learning styles and attitude toward mathematics. Euarasia Journal of mathematics, science & Technology education, 2008, Vol 4, No.1, 21-26.
Popham, W.J. (1995). Classroom assessment . what teacher need to know. Los Angeles: Allin and Bacon A simon & Schuter Company.
Roestiyah, N.K. (2008). Strategi belajar mengajar: salah satu unsur pelaksanaan strategi belajar belajar mengajar: teknik penyajian. Jakarta: Rineka Cipta
Rosseta, Z.I. & Pietro, D.M. (2007). Attitude toward mathematics: Overcoming the positive/negative dichotomy. Diakses dari http://TMEEMonograph3.attitudetowardmathematics.free.fr/CERME4/ CERME4_WG2.pdf
Sanjaya,W. (2008). Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media.
Setiawan, I.G.P.A. & Buditjahjanto.(2012). Pengaruh Metode Pembelajaran Inkuiri Terhadap Ketuntasan Hasilbelajar Siswa Di Smkn 3 Buduran Sidoarjo. Jurnal Pendidikan Teknik Elektro, Vol. 02, No. 1, 301-309.
Sumantri,M & Permana, J. (1999). Strategi belajar mengajar. Jakarta: Debdikbud Dirjen Dikti.
Syaefudin,U. (2008). Inovasi pendidikan. Bandung: Alfabeta
Trowbridge, L.W. & Bybee, R.W. (1986). Becoming a secondary school science teacher (4th ed). Colombus, Ohio: Merill Publishing Company.
Zan, R, & Martino, P.D. (2007). Attitude toward mathematics: overcoming the positif/negatif dichotomy. monograph Vol. 3,157-168.